Pencemaran Sampah Plastik Mikro Terus Meluas

- Editor

Jumat, 12 Mei 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pencemaran sampah plastik ukuran makro ataupun mikro meluas di perairan Indonesia, termasuk di laut dalam. Hal itu perlu segera diatasi karena pencemaran plastik bisa terserap ikan hingga berdampak pada manusia.

“Riset yang saya lakukan di sejumlah perairan kita menunjukkan semuanya tercemar sampah plastik makro dan mikro,” kata Agung Yunanto, peneliti dari Balai Riset dan Observasi Laut Denpasar, Kementerian Kelautan dan Perikanan, saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (9/6).

Sejumlah perairan yang diteliti antara lain Selat Bali, Selat Makassar, dan Selat Rupat di Dumai. Lokasi lain yang diteliti meliputi perairan Taman Nasional Taka Bonerate di Flores, Taman Nasional Bunaken, dan Taman Nasional Bali Barat. “Semua lokasi ini tercemar plastik mikro. Bahkan, perairan dalam yang terisolasi, seperti Laut Banda, juga tercemar,” kata Agung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pencemaran plastik mikro di perairan Bunaken 50.000-60.000 partikel per km2, Laut Sulawesi 30.000-40.000 partikel per km2, dan Laut Banda 5.000-6.000 partikel per km2. “Pengukuran di Laut Banda dengan ekspedisi Kapal Barujaya 8 tahun 2016. Saat disaring, banyak sekali plastik mikro, padahal Laut Banda ialah paru-paru laut dunia,” ujarnya.

Empat jenis plastik mikro yang ditemukan meliputi film (plastik tipis), fragmen (bagian plastik hancur), fiber (berbentuk serat), dan pelet (bijih plastik). Itu disebut plastik mikro jika sampah ukuran diameter 300 mikron (0,3 mm) sampai 0,5 cm.

Berdampak ke Manusia
Devi Dwiyanti, peneliti bidang lingkungan Pusat Riset Kelautan KKP, menambahkan, cemaran sampah plastik mikro mengkhawatirkan karena berdampak pada lingkungan, masuk ke rantai makanan di laut, dan akhirnya masuk tubuh manusia jika makan ikan yang tercemar.

“Riset terbaru oleh Universitas Hasanuddin menemukan cemaran plastik mikro di tubuh ikan di tempat pelelangan ikan di Makassar. Plastik mikro bersifat karsinogenik,” kata Devi. Begitu perairan tercemar plastik mikro, perairan tersebut amat susah dibersihkan karena ukuran sampah itu amat kecil dan susah terurai di alam.

Nani Hendarti, Asisten Deputi Pendayagunaan Iptek Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman memaparkan, sejak 2016 pemerintah menyusun rencana aksi nasional untuk mengatasi masalah itu. Sampah plastik di Indonesia jadi perhatian setelah Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika, merilis laporan tahun 2015 bahwa Indonesia jadi negara kedua terbesar penyumbang sampah ke lautan setelah China.(AIK)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Juni 2017, di halaman 14 dengan judul “Pencemaran Sampah Plastik Mikro Terus Meluas”.

Informasi terkait

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:30 WIB

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB