Home / Artikel / Zika Datang ke Indonesia

Zika Datang ke Indonesia

Kabar penyakit zika datang dari Singapura, setidaknya 82 orang dinyatakan terinfeksi virus zika. Sebelumnya berita dari Jambi, spesimen seorang warga Suku Anak Dalam, yang ”terselip” di antara spesimen para penderita demam berdarah dengue, diketahui positif terinfeksi virus zika.

Pemerintah Australia, Taiwan, dan Korea Selatan telah mengeluarkan peringatan kunjungan (travel warning) kepada warganya, terutama perempuan hamil, agar menunda kunjungan ke Singapura (Kompas, 1/9).

Wabah zika di Brasil tahun 2015 menarik perhatian global setelah virus ini ”diam/tidur” panjang selama 70 tahun. Terutama, karena adanya gejala ikutan berupa gangguan saraf dan pertumbuhan otak (microcephaly) pada janin dan bayi. Kekhawatiran makin besar karena Brasil menyelenggarakan acara yang mengumpulkan banyak masyarakat dunia, seperti Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Ternyata acara berlangsung sukses dan meriah. Belum terdengar ada atlet atau wisatawan yang terinfeksi virus zika ini.

Sejarah zika di Indonesia
Sebetulnya indikasi adanya virus zika di Indonesia atau negara ASEAN lain sudah lama dilaporkan, di antaranya yang dilaporkan Trans. Royal Society of Trop.Med: 57(5), 1963 dan 75(3), 1981; Am.J.Med.Hyg: 89(3), 2013. Kasus terakhir dilaporkan pada EID: 22 (5), 2016.

Awal tahun 2016, tim Eijkman dan CDC Amerika Serikat melaporkan adanya virus zika di antara penderita yang diduga demam berdarah dengue (DBD) tahun 2015 di Jambi.

Tim Australia telah berhasil mengisolasi virus zika pada seorang turis wanita Australia, 52 tahun. Ia menderita demam dan ruam kulit setelah pulang dari Indonesia tahun 2012.

Telah dilaporkan pula hasil riset tim Namru-2 dan UGM, spesimen yang diambil dari pasien demam di Rumah Sakit Klaten, Jawa Tengah, tahun 1977-1978, adanya pasien positif terhadap jejak virus zika dengan rentang dari 3,2 persen sampai 7,8 persen, dari setiap kelompok penderita demam. Kemudian jejak zika tercatat kembali di Indonesia pada tahun 1983 sebanyak 12,7 persen positif.

Beberapa negara anggota ASEAN juga melaporkan adanya virus zika. Pertama kali tercatat di Filipina tahun 1953 dengan 19 positif dari 153 pasien demam. Pada tahun yang sama, di Malaysia, tentunya termasuk Singapura, tercatat 75 positif dari 100 penderita demam. Hasil riset 1954, kasus zika tercatat lagi di Malaysia, termasuk Borneo, Thailand, dan Vietnam.

Dengan demikian, kasus zika di Indonesia bukan suatu keadaan yang harus dicemaskan, karena sudah menjadi endemis, meskipun baru tahun 2013 dan 2015 virus zika di Indonesia berhasil diisolasi.

Distribusi virus zika dunia
Sedikitnya ada tiga mata rantai infeksi zika, yaitu virus zika, sebagai kuman penyebab, vektor berupa nyamuk dan inang, manusia dan hewan antara.

Virus zika termasuk genus Flavivirus, seperti virus DBD, yellow fever (YFV), west nile (WBV), hepatitis C. Ada dua strain utama virus zika, strain Asia dan Afrika. Sepertinya strain Afrika tidak terdistribusi merata. Sebaliknya, strain Asia tersebar dari Asia sampai Amerika Latin.

Selain nyamuk sebagai vektor pembawa, virus zika pernah dilaporkan terdapat pada ASI, sehingga diduga bisa ditularkan ke bayi, juga ditemukan pada sperma sehingga meskipun hanya satu kasus virus ini diduga bisa menular melalui hubungan intim. Penularan lain diduga melalui plasenta dari seorang ibu hamil ke janinnya.

Peran nyamuk sebagai vektor perlu dicermati karena spesies yang membawa virus zika sangat variatif tergantung dari wilayah dan waktu isolasi. Saat awal ditemukan, zika dikaitkan dengan nyamuk Aedes (Ae) africanus, dan Ae luteocephalus. Nyamuk Ae aegypti dikaitkan sebagai vektor zika dominan pertama kali saat riset entomologi di Malaysia tahun 1969.

Infeksi zika di Senegal dan negara lain Afrika masih didominasi Ae africanus, tetapi tahun 1968 di Sinegal ditemukan pada jenis Ae luteocephalus. Tahun 1988- 1991, jenis nyamuk yang membawa zika sangat banyak, tercatat Ae furcifer, Ae taylori, Ae aegypti, Ae neoafricanus, Ae dalzieli, Ae fowleri, Ae minutus, dan Ae vitatus. Tahun 2011, jenis nyamuk yang membawa zika bertambah, yaitu Ae hirsutus, Ae metallicus, Ae unileaetus, Ae uniformis, Culex perfuscus,dan Ae custoni. Di daerah selatan Senegal, jenis nyamuk vektor zika adalah Mansonia spp danAedes spp.

Banyaknya jenis nyamuk yang membawa virus zika perlu dicermati, khususnya terhadap perubahan cuaca dan dinamika (kerabat) virus zika. Mungkin kiriman asap dari Indonesia bisa menjadi ”berkah” membantu memusnahkan nyamuk.

Memahami infeksi zika
Umumnya gejala infeksi virus zika tidak terlihat (asymptomatic), hanya 20 persen, antara lain demam ringan, nyeri persendian, pening, sakit perut, konjungtivitis (mata merah), dan ruam (bintik merah) pada kulit. Gejala ini bisa keliru dengan flu atau sejenisnya. Infeksi DBD lebih mengkhawatirkan mengingat struktur virus zika jauh lebih sederhana dibandingkan DBD.

Gejala penyakit zika juga bervariasi, tergantung dari waktu dan wilayah. Wabah di Pulau Yap di Pasifik menunjukkan seperti gejala infeksi zika umumnya. Namun, yang terjadi di Kepulauan Franch Polinesia tahun 2013 muncul gejala auto- imun (sindrom Guillain-Barre), pada sebagian penderita ada kelumpuhan (paralisis).

Gejala paling dramatik, yang sering dikaitkan dengan infeksi zika, saat wabah terjadi di Brasil dan beberapa negara Amerika Latin lain tahun 2015 adalah gejala saraf dan mikrosepali pada janin dan bayi. Lebih-lebih setelah WHO menetapkan wabah zika sebagai keadaan kedaruratan kesehatan global. Namun, pada strain virus zika Afrika dan Asia, sampai saat ini belum ada laporan keterkaitan dengan mikrosepali atau gejala saraf.

Vaksin belum tersedia sebagai pencegahan ataupun obat khusus untuk pengobatan infeksi zika. Jadi, pencegahan dan pengendalian adalah yang terbaik. Pengendalian nyamuk sebagaimana untuk DBD, chikungunya, dan arbovirus lainnya adalah dengan menghindari gigitan siang hari dan penguatan program 3M plus. Untuk daya tahan tubuh, bisa menggunakan produk herbal, rempah-rempah, ataupun teh putih dan hijau.

Penelitian terhadap kemampuan teh dalam menangkal virus zika telah dilakukan oleh tim peneliti Brasil yang dilaporkan pada Virology 496 (2016), ternyata Epigallocathechin gallate(EFCG) dapat menghambat virus zika masuk ke dalam sel. Penelitian yang mirip pernah dilakukan di AIRC-Unair bahwa teh putih yang kandungan EFCG lebih tinggi dari jenis teh lain mampu mencegah infeksi flu burung, virus RNA, dan arbovirus. Minum teh dapat mencegah virus zika.

Waspada zika pada hewan
Virus zika adalah virus zoonosis, dari monyet ditularkan ke manusia. Selanjutnya, virus zoonosis bisa melakukan ”serangan balik” ke hewan. Informasi terakhir adalah baboon, kelelawar, mencit/tikus, orangutan, kambing, sapi, dan singa dilaporkan terindikasi terinfeksi virus zika. Hasil riset 2016 terhadap monyet di Brasil, telah ditemukan virus zika pada beberapa monyet. Akibatnya, beberapa negara melarang impor/masuk monyet dan beberapa hewan piaraan.

Bahkan, peneliti Australia tahun 2015 mendeteksi adanya virus zika pada monyet di Indonesia. Pada 2016 juga diisolasi virus zika pada marmoset (Callithrix jacchus). Peran dokter hewan dibutuhkan pada pencegahan awal penyakit zoonosis.

Problem zika yang berkaitan dengan efek microcephaly pada janin sampai saat ini belum terjawab dengan baik, terutama mekanisme menembus hambatan (barrier) plasenta antara ibu dan janin. Barrier ini sangat kuat untuk melakukan penapisan terhadap gangguan (kuman dan toksin) terhadap janin. Terjadinya pelintasan zika ke tubuh janin diduga karena belum matang plasenta bayi. Akibatnya, virus menginfeksi sel trofoblas plasenta, tetapi kematangan plasenta sangat dipengaruhi faktor genetik dibandingkan ganasnya sebuah virus.

Selain itu, mikrosepali juga bisa disebabkan oleh kuman lain, seperti toksoplasma, treponema, varicella-zoster,parvovirus B19, rubela, dan herpes simplex virus (HSP).

Sangat menarik, meskipun belum jelas benar siapa yang akan mendapat aplikasi vaksin zika, sampai saat ini tercatat 14 perusahaan vaksin mengembangkan vaksin zika: 7 berasal dari AS, 4 dari Perancis, 2 dari Brasil, dan 1 dari India. Menjadi 15 jika ”konstruksi virus zika” AIRC-Unair juga dihitung.

Penyediaan vaksin adalah suatu tantangan. Namun, tentunya Indonesia akan mampu jika otoritas kesehatan mengharuskan adanya program vaksinasi zika. Kita memiliki PT Bio Farma, satu-satu industri vaksin BUMN Indonesia, yang terbukti mampu mengembangkan sistem vaksin prepandemik.

Yang pasti, secara global, zika menarik perhatian, sampai-sampai calon presiden AS meminta kongres menyetujui anggaran untuk riset zika, termasuk vaksinnya.

CA Nidom, Guru Besar dan Ketua AIRC, Universitas Airlangga
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian “Kompas” edisi 7 September 2016, di halaman 6 dengan judul “zika Datang ke Indonesia”

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika ...

%d blogger menyukai ini: