Home / Sosok / Zaiyuszamsari, Cerdas Berobat Masyarakat Sehat

Zaiyuszamsari, Cerdas Berobat Masyarakat Sehat

Banyak orang kurang tepat saat mengobati matanya dengan obat tetes mata. Zaiyuszamsari bersama timnya hadir untuk memberikan pemahaman akan obat-obatan dan penggunaannya kepada masyarakat. Mereka secara berkala berkampanye keliling daerah menjalankan program gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat, atau dikenal dengan singkatan Gema Cermat.

Di awal perbincangan dengan Kompas, Zaiyuszamsari bertanya, bagaimana cara menggunakan obat tetes mata yangbenar? Belum lagi sempat menjawab, Sari, demikian panggilan akrabnya, sudah melanjutkan ucapan dengan menyebutkan banyak sekali orang yang keliru menggunakan obat tetes mata.

“Orang beranggapan memberi obat tetes mata, cukup membuka mata, lalu cairan diteteskan ke mata dan selesai. Padahal, dengan cara itu, refleks mata akan bereaksi membuang cairan asing yang masuk ke dalamnya. Semestinya, kelopak mata bawah dibuka dengan tangan, kemudian cairan diteteskan ke dalamnya. Setelah itu kelopak mata ditutup secara perlahan,” tutur Sari, Kepala Instalasi Farmasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, dalam perbincangan awal Desember.

Kompas tersenyum dan merasa beruntung belum sempat menjawab pertanyaan Sari. Karena jawaban yang disiapkan ternyata salah, atau sama seperti orang kebanyakan.

Nah, membuat orang awam mengerti tentang obat-obatan adalah pekerjaan Sari bersama timnya sejak 2016. Mereka secara berkala berkampanye keliling daerah menjalankan program gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat, atau dikenal dengan singkatan Gema Cermat. Pada tahun 2016, Siak adalah satu-satunya daerah di Provinsi Riau yang memulai kampanye dimaksud.

Kreativitas, kerja keras, dan kesinergian Sari dengan pihak-pihak yang membantu kampanye, terutama dukungan penuh Bupati Siak Syamsuar, membuat kelompok mereka cepat berkembang. Di tingkat Provinsi Riau, Sari mendapat predikat se-bagai Tenaga Kefarmasian Berprestasi 2017. Kementerian Kesehatan RI pun menganugerahi Sari dan timnya sebagai kelompok Terbaik Tingkat Nasional 2017 dalam Gerakan Masyarakat Cermat Menggunakan Obat.

“Kami tidak menyangka menjadi yang terbaik di tingkat nasional. Padahal, kami terbilang baru dibandingkan dengan daerah di Pulau Jawa yang sudah diperkenalkan program itu sejak tahun 2008,” tutur Sari.

Pengetahuan tak memadai

Menurut Sari, pengetahuan masyarakat tentang obat masih sangat minim. Banyak warga mendapatkan obat secara sembarangan. Obat hanya dibeli di warung atau di lapak-lapak pasar yang sering kali sudah rusak sebelum dikonsumsi.

Kerusakan obat, misalnya, disebabkan penjual menyimpan obat di lemari kaca atau diletakkan di atas meja yang terpapar sinar matahari langsung. Panas sinar matahari dapat mengubah kimiawi obat. Selain itu, obat-obatan di warung atau di pasar acap kali sudah kedaluwarsa dan tidak jelas keasliannya atau banyak dipalsukan.

“Yang paling baik membeli obat di apotek. Jelas asal-usulnya dan bagus cara penyimpanannya,” ujar perempuan tamatan S-2 Manajemen Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu.

Setelah mengonsumsi obat, Sari melanjutkan, orang juga sering sembarangan menyimpan sisanya. Obat yang memerlukan suhu kamar disimpan dalam lemari es. Atau ketika obat butuh suhu dingin lemari es, malah ditempatkan di lemari pembeku (freezer).

“Tempat penyimpanan yang salah akan membuat fungsi obat berubah. Kegunaan obat menjadi hilang,” timpal ibu satu putri ini.

Obat penurun panas yang dijual bebas, Sari mencontohkan lagi, memiliki bahan aktif relatif sama. Misalnya, si A yang lagi sakit demam membeli obat B yang kerap diiklankan di televisi. Karena tidak sembuh, A kemudian membeli obat C yang sebenarnya memiliki bahan aktif sama dengan obat B. “Banyak warga masyarakat kita menjadi korban iklan,” ujar Sari.

Dalam menyampaikan kampanye penggunaan obat yang benar, Sari selaku pembina Ikatan Apoteker Indonesia Siak mengajak semua apoteker di daerahnya ikut serta. Para apoteker menjadi motor penggerak. Pada awalnya, sebanyak 16 apoteker bergabung. Pada tahun ini, anggota tim bertambah enam orang dari asisten apoteker yang sebelumnya ikut magang.

Tim disebar di 15 kecamatan untuk penyuluhan. Targetnya sangat beragam dari kelompok majelis taklim, arisan ibu-ibu, pertemuan di balai desa, pos pelayanan terpadu (posyandu), acara yang berkaitan dengan Keluarga Berencana, karang taruna, kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sampai ke sekolah-sekolah. Sari bersama timnya masuk ke semua lini masyarakat.

Dalam setiap pertemuan, Sari dan tim mengajarkan pengetahuan dasar obat-obatan, terutama cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, atau membuang sisa obat. Pengetahuan itu disingkat dengan Dagusibu (dapatkan, simpan, gunakan, dan buang).

Untuk memudahkan penerimaan materi, tim Sari membuat syair lagu yang berasal dari bahan materi kampanye yang dinyanyikan lewat alunan lagu Melayu terkenal di Riau, misalnya lagu “Lancang Kuning” dan “Pak Ketipak Ketipung” yang syairnya diubah sesuai materi kampanye.

“Sewaktu saya paparkan di Jakarta tentang program kami, pejabat Kementerian Kesehatan meminta saya menyanyikan lagu itu. Meski suara saya tidak bagus, saya menyanyi di depan mereka,” kata Sari sembari tertawa.

Sari juga membuat video pendek dengan topik pemakaian obat untuk ibu hamil, cara memakai obat, serta ajakan lebih bijak memakai antibiotik. Video itu diputar saat berkampanye dan juga diunggah di Youtube.

Secara khusus, Sari bekerja sama dengan dinas pendidikan untuk melakukan kampanye di sekolah. Para siswa diajarkan pengetahuan dasar dan membuat kegiatan ekstrakurikuler dengan materi obat-obatan.

“Tahun ini, kami membuat pendekatan lain. Kami meminta sekolah yang sudah pernah kami datangi memilih sepuluh murid yang berminat terhadap kesehatan untuk menjadi duta. Duta sekolah kami beri materi lebih dalam. Kami mengajarkan tentang kandungan, khasiat, dosis, cara menggunakan, serta efek samping obat,” ujar Sari.

“Kami berharap duta mampu memberikan pemahaman terhadap rekan sebaya atau di lingkungan rumahnya. Saat ini kami sudah memiliki 80 duta sekolah di Perawang, Kecamatan Tualang, Siak,” kata Sari menjelaskan.

Zaiyuszamsari
Lahir: Batupanjang, Bengkalis, 10 Juni 1980

Pendidikan:
– SD Negeri 005, Karang Anyar, Dumai (1992)
– SMPN Karang Anyar, Dumai (1995)
– SMF Ikasari, Pekanbaru (1998)
– S-1 Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta (2003)
– Apoteker Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta (2003)
– S-2 Manajemen Rumah Sakit, UGM (2007)

Suami: Hendri Wahyudi
Anak: Haziqah Layyinah

SYAHNAN RANGKUTI

Sumber: Kompas, 15 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: