Home / Sosok / Werdi Bakti, Puluhan Tahun “Menjodohkan” Batu Candi Borobudur

Werdi Bakti, Puluhan Tahun “Menjodohkan” Batu Candi Borobudur

Hati dan perasaan adalah mantra bagi penyusun batu candi seperti Werdi (64). Lebih dari separuh hidupnya diabdikan untuk menjodohkan batu-batu Candi Borobudur. Berkat pengalaman panjangnya, laki-laki berpendidikan SMP ini, menjadi tempat berguru bagi para sarjana S2 dan S3 yang ingin tahu tentang konservasi Borobudur.

Menyusun batu candi telah menjadi panggilan hidup Werdi. Ibarat permainan puzzle, salah sedikit, tak akan terselesaikan. Uniknya, tak ada rumus pasti untuk mencocokkan ribuan batu candi.

“Yang bergerak memang tangan. Tetapi, merangkai beragam batu harus berdasar hati dan perasaan,” ujar Werdi, di rumahnya di Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pertengahan Oktober lalu. Rumahnya hanya berjarak 4 kilometer sebelah tenggara kompleks candi.

Merangkai batu candi, menurut Werdi, butuh keterampilan khusus. Apalagi setiap batu punya berat puluhan hingga ratusan kilogram. Orang yang sangat ahli dalam menjodohkan batu candi disebut zoeker dan steller. Dalam bahasa Belanda, zoeker berarti pencari dan steller berarti penyetel.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–Werdi, ahli penyusun batu candi

Sebelum pensiun sekitar delapan tahun lalu, Werdi adalah steller yang mengabdi di Balai Konservasi Borobudur. Namun, sekalipun tidak lagi bekerja secara formal, dia tetap saja selalu dilibatkan dalam urusan konservasi. Setiap tahun, dirinya masih saja dipanggil, dilibatkan dalam pekerjaan penanganan kebocoran Candi Borobudur.

Beberapa teman sudah enggan berurusan lagi dengan batu candi. Mereka mengaku sudah nyaman dengan kehidupannya sekarang

Kegiatan ini membutuhkan keahliannya, karena melibatkan urusan membongkar dan memasang kembali batu candi. Proyek penanganan kebocoran, biasanya berlangsung selama tiga bulan. Saat diminta terlibat, Werdi biasanya menghubungi beberapa rekan yang dulu juga sempat aktif sebagai steller. Namun, tawaran itu selalu mereka tolak.

“Beberapa teman sudah enggan berurusan lagi dengan batu candi. Mereka mengaku sudah nyaman dengan kehidupannya sekarang. Bertani atau sekadar menikmati hidup dengan tinggal bersama anak dan cucunya,” ujarnya.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Seorang pegawai Kantor Desa Tirto, membersihkan sejumlah benda cagar budaya temuan warga yang disimpan di kompleks kantor tersebut di Desa Tirto, Salam, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (4/11/2017). Warga desa itu berupaya menjaga kelestarian budaya dengan mengumpulkan dan merawat berbagai benda peninggalan cagar budaya yang mereka temukan di tempat tersebut.

Sebaliknya, Werdi tak pernah menolak. Dia mengaku punya keterikatan dengan kompleks bersejarah yang dibangun sekitar abad ke-8 pada masa Kerajaan Mataram Kuno tersebut.

Menjadi pelaku tunggal yang diminta terlibat dalam masalah penyusunan batu candi, Werdi tak lantas memanfaatkan situasi dengan memasang tarif mahal untuk jasanya. Setiap terlibat dalam pekerjaan penanganan kebocoran, dia tidak pernah menyebutkan angka dan menyerahkan pada pihak perekrut.

Dia juga masih kerap diminta menjadi narasumber praktisi dalam berbagai program pelatihan arkeologis. Dia biasanya menjelaskan tentang penyusunan batu candi sembari melihat langsung ke lokasi. Werdi yang hanya lulusan SMP, seringkali harus memberi penjelasan kepada peserta pelatihan yang kebanyakan bergelar S2 atau S3 dari lembaga-lembaga penelitian maupun pendidikan.

Pemugaran Borobudur
Keterlibatan Werdi dalam konservasi candi dimulai pada 1973. Kala itu, dia menjadi satu dari sekitar 700 orang yang direkrut untuk melakukan pemugaran tahap III Candi Borobudur, langsung di bawah pengawasan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).
Ketika itu, menurut dia, kondisi Candi Borobudur masih sangat berantakan.

“Selain posisi bangunan candi miring, sebagian batu fondasi candi juga melesak ke bawah tanah,” kenangnya.

Sebelum 1973, Candi Borobudur sempat dipugar pemerintah Indonesia sekitar tahun 1960-an. Namun, pemugaran berhenti karena kondisi yang belum kondusif pasca gejolak peristiwa 30 September 1965.

KOMPAS/JB KRISTANTO–Proses restorasi Candi Borobudur.

Saat itu, Werdi yang sama sekali tidak berlatar belakang pendidikan arkeologi dan tak tahu menahu perihal menata batu candi, hanya bisa bekerja sesuai arahan. Pekerjaan yang dilakukan saat itu adalah membongkar batuan, mencuci, merawat, memberi obat kimia pada batuan candi, lalu memasangnya lagi.

Namun, diakui Werdi, memasang kembali batu candi justru menjadi bagian tersulit. Hal yang paling susah adalah menyesuaikan dan memasang bagian vertikal ke bagian horizontal. Bagian ini juga sering disebut dengan menjodohkan batu candi. Pekerjaan tersebut kerap kali tidak tuntas dan menjadi beban pikiran Werdi.

“Selama satu tahun kerja, pekerjaan yang tidak tuntas tersebut membuat saya seringkali sulit tidur,” kenangnya. Namun, enggan menyerah dan berupaya menajamkan perasaan saat merangkai batu candi.

Sekitar 1979, Werdi resmi diangkat sebagai pegawai dengan status penyusun batu candi. Sebelumnya, dia ditetapkan menjadi pegawai Dinas Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan selanjutnya digeser menjadi pegawai Balai Konservasi Borobudur (BKB).

Tahun 1983, pemugaran Candi Borobudur dinyatakan selesai. Namun, hingga kini, penyusunan batuan candi belum bisa dinyatakan 100 persen selesai. Sebab, masih ada 9.500 blok batu yang masih dinyatakan sebagai batuan lepas karena belum menemukan pasangannya. Kini, batu-batu tersebut masih disimpan di Museum Borobudur.

Pascapemugaran, Werdi sering menyempatkan diri naik ke puncak dan mengelilingi Candi Borobudur. Selain untuk lebih mengenali bangunan, hal itu dilakukan untuk memenuhi rasa penasaran, mencari tahu kemungkinan adanya tempat yang tepat untuk batuan lepas yang belum bisa terpasang.

Werdi juga membiasakan diri mendokumentasikan pekerjaanya dengan menggambar semua batu lepas yang berhasil dipasang. Semuanya tersimpan dalam puluhan lembar kertas berisi gambar yang dilengkapi data nama bagian dan tahun pemasangan.

KOMPAS/JULIUS POURWANTO–Salah satu pekerjaan tersulit dalam pemugaran Borobudur adalah menyusun kembali batuan candi ke tempatnya semula, tanpa salah. Untuk menyusun 300.000 batu, patung serta ukiran ketempat semula dipergunakan bantuan komputer. Dalam gambar nampak, batu-batu seolah disusun kembali. Dinding sebelah belakang hitam, karena diberi lapisan araldite.

Setelah pensiun, dokumen gambar itu dibawa pulang dan disimpannya di rumah. Gambar-gambar itu selalu dipakai dan digunakannya sebagai bahan untuk mengajar serta memberi penjelasan tentang penyusunan batu candi kepada tenaga-tenaga konservasi maupun para tamu di BKB.

Tak pernah selesai
Werdi menyebut pekerjaan sebagai steller adalah pekerjaan unik. Untuk merangkai batu di suatu titik misalnya, belum tentu bisa diselesaikan hingga steller yang bersangkutan pensiun.

“Sejak awal bekerja hingga pensiun, seorang steller bisa saja dalam benaknya terus menerus mengatakan, pekerjaannya hampir selesai. Ini membuktikan bahwa pekerjaan menyusun batu candi bukanlah pekerjaan mudah,” ujarnya.

Demikian sulitnya merangkai batu candi, hingga akhirnya menghadirkan euforia luar biasa ketika seorang steller mampu menemukan tempat dan pasangan yang tepat dari sebuah batuan lepas. Kegembiraan tersebut, bagi Werdi, sulit diungkapkan dalam kata-kata.

“Tidak bisa disebut bagaimana persisnya. Pokoknya, kebahagiaan setelah berhasil merangkai batu candi itu jauh lebih besar daripada rasa bahagia mendapat nasi pecel,” katanya berkelakar.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Wisatawan memadati kawasan Candi Borobudur, di Magelang, Jawa Tengah, Minggu (28/6). Candi yang dibangun pada abad ke-9 ini masih menjadi salah satu tujuan wisata pada liburan sekolah ini.

Menjalani masa pensiun, Werdi kini juga menyibukkan diri dengan bertani di ladang. Namun, sesibuk apa pun, dia tetap tidak akan menolak untuk terlibat dalam urusan konservasi dan penyusunan batu candi, terutama Borobudur. Bisa dikatakan, dia adalah steller terakhir yang masih tinggal di sekitar Candi Borobudur.

Mengakiri perbincangan, dia berucap, “Saya merasa dilahirkan sebagai steller di sini, di Candi Borobudur. Sampai kapanpun, saya merasa tetap harus ambil bagian untuk merawatnya.”

Werdi
Lahir : Magelang, 21 Februari 1954
Istri : Kusmiyatun (55)
Anak : Eka Sumitra (36), Dwi Purnomo (29)
Pendidikan: SMP Pancasila Borobudur (dulu SMP Marhaenisme Borobudur)

REGINA RUKMORINI DAN MEGANDIKA WICAKSONO

Sumber: Kompas, 15 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Badri, Peramu POC Bagi Petani

Dua kali gagal panen padi yang dialami petani di desanya membuat Badri memutar otak. Ia ...