Home / Berita / Astronomi / Uni Emirat Arab Kirim Misi ke Mars

Uni Emirat Arab Kirim Misi ke Mars

Misi pertama bangsa Arab yang diwakili Uni Emirat Arab siap diluncurkan menuju Mars. Proyek ambisius itu diharapkan mampu membangkitkan kebanggaan masyarakat Arab.

KOMPAS/SPACE.SKYROCKET.DE/UEA SPACE AGENCY–Citra artis tentang wahana antariksa Amal milik Uni Emirat Arab yang akan diluncurkan pada 14 Juli 2020 menuju Mars. Wahana ini menjadi misi pertama bangsa Arab ke ”Planet Merah”.

Dalam beberapa minggu ke depan, misi pertama bangsa Arab yang diwakili Uni Emirat Arab siap diluncurkan menuju Mars. Proyek ambisius itu diharapkan mampu membangkitkan kebanggaan masyarakat Arab dan menggeser ketergantungan ekonomi kawasan itu pada minyak bumi.

Misi ke Mars itu dinamai Amal, yang berarti harapan. Wahana yang memiliki tugas utama menyelidiki iklim dan atmosfer ini akan diluncurkan dari Bandar Antariksa Tanegashima, Jepang, pada 14 Juli 2020. Mulai pekan depan, pengisian bahan bakar roket pembawa misi milik Jepang, H-2A-202, akan dilakukan.

”Proyek ini harus menjadi insentif utama bagi ilmuwan muda Arab untuk memulai karier di bidang teknologi antariksa,” kata pimpinan program sains Amal, Sarah Al Amiri, seperti dikutip BBC, Selasa (9/6/2020).

Butuh waktu sekitar tujuh bulan bagi Amal untuk mencapai orbit Mars yang berada pada jarak 493 juta kilometer dari Bumi. Di sana, wahana ini akan mengorbit Mars selama satu tahun Mars atau 687 hari. Amal hanya butuh 55 jam untuk satu kali mengitasi Mars.

Jika semua proses berjalan lancar, Amal akan tiba di Mars pada awal tahun 2021, tepat pada perayaan 50 tahun berdirinya Uni Emirat Arab (UEA). Tak sampai di situ saja, UEA juga berikrar membangun koloni di Mars pada 2117 atau 97 tahun lagi.

Amal memiliki tiga sensor untuk mengukur berbagai variabel atmosfer Mars yang kompleks. Data Gunter’s Space Page menyebut, salah satu dari ketiga sensor itu adalah kamera resolusi tinggi dalam berbagai panjang gelombang, EXI (Emirates eXploration Imager), untuk mengukur debu dan ozon planet merah.

Selain itu, adaspektrometer inframerah EMIRS (Emirates Mars InfraRed Spectrometer) untuk mengukur atmosfer rendah Mars dan spektrometer ultraviolet EMUS (Emirates Mars Ultraviolet Spectrometer) untuk mengukur kadar oksigen dan hidrogen di atmosfer Mars.

EXI dan EMUS dikembangkan perekayasa Uni Emirat Arab bersama perekayasa dari Universitas Colorado, AS, sedangkan EMIRS bersama perekayasa Universitas Negeri Arizona, Amerika Serikat.

”Salah satu fokus penelitian dalam misi ini adalah mengetahui bagaimana dua elemen penting pembentuk air itu, oksigen dan hidrogen, hilang dari Mars,” tambah Al Amiri.

Wahana antariksa Amal ini dirakit di Colorado, AS, dan dikirim ke Jepang. Peluncuran wahana ini sempat diwarnai keraguan akan bisa diselesaikannya tepat waktu mengingat seluruh perekayasa yang terlibat di dalamnya harus dikarantina akibat pandemi Covid-19.

Direktur Kelompok Museum Sains Inggris Sir Ian Blatchford mengatakan, selama ini misi ke Mars lebih banyak difokuskan untuk menyelidiki kondisi geologi Mars. ”Studi ini diharapkan bisa memberikan gambaran yang komprehensif tentang iklim Mars,” katanya.

Sementara itu, profesor ilmu keplanetan dan antariksa Universitas Terbuka Inggris Monica Grady meyakini pengiriman misi ke Mars ini menandai dimulainya perubahan besar dalam industri eksplorasi antariksa yang selama ini dikuasai negara-negara tertentu saja.

”Ini adalah langkah nyata untuk eksplorasi Mars karena menunjukkan negara-negara lain, selain AS dan Uni Eropa, juga pergi ke sana,” katanya. Karena itu, ia berharap Amal juga akan sampai ke Mars meski banyak misi ke Mars mengalami kegagalan.

Sejauh ini, selain AS dan Uni Eropa, Rusia, Jepang, China, dan India juga pernah mengirimkan misi ke Mars dalam berbagai bentuk, baik wahana pengorbit (orbiter), pendarat (lander), maupun penjejak (rover). AS adalah negara yang paling maju karena baru AS yang bisa mendaratkan dan mengoperasikan wahana penjejak di Mars.

KOMPAS/UEA SPACE AGENCY—Rencana perjalanan wahana antariksa Amal, milik Uni Emirat Arab (UEA), ke Mars. Wahana pengorbit ini direncanakan tiba di Mars pada tahun 2021, tepat pada perayaan 50 tahun berdirinya UEA dan bekerja selama satu tahun Mars atau 687 hari Bumi untuk mengumpulkan informasi tentang iklim Mars.

Kebanggaan
Pengiriman Amal itu juga diharapkan mampu menumbuhkan kebanggan bangsa Arab, khususnya warga UEA, akan budaya mereka. Pada delapan abad yang lalu, ilmuwan Muslim Arab telah berada di garis depan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karya mereka telah memberi banyak pijakan bagi pengembangan teknologi modern saat ini.

Keinginan UEA untuk berkiprah dalam industri teknologi antariksa itu memang tidak main-main. Investasi besar-besaran telah mereka lakukan guna mendiversifikasi sumber ekonomi mereka yang 40 persennya masih disumbang oleh minyak bumi.

Tidak menentu dan anjloknya harga minyak dunia seperti saat ini maupun kekhawatiran akan habisnya cadangan minyak bumi UEA pada 2065, membuat pengambil kebijakan negara itu harus mengembangkan sumber-sumber ekonomi yang lain.

Putra Mahkota UEA Pangeran Sheikh Mohammed bin Zayed, seperti dikutip BBC, 29 Mei 2015, mengatakan pendidikan, inovasi, keamanan, dan ekonomi yang beragam akan mengamankan masa depan UEA setelah habisnya minyak.

Pengembangan teknologi antariksa adalah salah satu solusi yang ditawarkan. Untuk itu, UEA telah membangun pusat penelitian antariksa yang pertama di Timur Tengah dengan dana 27 juta dollar AS atau Rp 378 miliar (kurs Rp 14.000 per dollar AS) selama lima tahun.

Selain itu, Direktur Jenderal Badan Antariksa UEA Mohammed Nasser Al Ahbabi mengatakan, negara itu ingin mengalihkan sistem kepemilikan satelit selama ini, dari membeli jadi memproduksi sendiri. Sebelumnya, satelit milik UEA dibuat di Korea Selatan dan diluncurkan dari Kazakhstan menggunakan roket Rusia.

Selain itu, lembaga ini juga aktif mengembangkan sains dan teknologi antariksa dengan mempromosikan riset dan kerja sama di berbagai bidang. UEA telah menggelontorkan 5,4 miliar dollar AS (Rp 75,6 triliun) selama satu dekade untuk mengembangkan industri antariksanya.

Namun, itu masih sangat kecil dibandingkan dana eksplorasi antariksa yang dikeluarkan negara lain, seperti Rusia yang mengalokasikan 37 miliar dollar AS (Rp 518 triliun) untuk 10 tahun atau India yang menghabiskan 1 miliar dollar AS (Rp 14 triliun) per tahun.

Meski demikian, keuntungan yang diperoleh UEA dari industri antariksanya pada 2015 baru mencapai kurang dari 5 persen dibandingkan pendapatan tahunan yang diperoleh negara itu dari industri minyak.

”Misi Mars akan merangsang pengembangan tenaga kerja dan teknologi yang dibutuhkan UEA untuk mendiversifikasi ekonominya, bukan hanya teknologi antariksa semata,” tambah Wakil Presiden Riset dan Pengembangan Institut Masdar, UEA.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 11 Juni 2020

Share
x

Check Also

Diduga Kuat Covid-19 Bisa Menular Melalui Udara

WHO sedang mengkaji masukan sejumlah peneliti yang menyebutkan virus SARs-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, bisa menular ...

%d blogger menyukai ini: