Home / Berita / Astronomi / Penyelidikan Kehidupan Masa Lalu Mars Dimulai

Penyelidikan Kehidupan Masa Lalu Mars Dimulai

Babak baru misi antariksa dimulai. Hal itu seiring dengan keberhasilan wahana penjejak Perseverance

—-Wahana penjejak Perseverance milik NASA mendarat di permukaan Planet Mars, pada Kamis (18/2/2021).

Wahana penjejak tercanggih buatan manusia Bumi, Perseverance, akhirnya mendarat di Mars. Misi itu menandai dimulainya pencarian tanda kehidupan masa lalu Mars. Peluang manusia untuk menaklukkan planet merah di masa mendatang pun kian terbuka.

Perseverance mencapai Mars setelah menempuh perjalanan sejauh 472 juta kilometer (km) dari Bumi selama 203 hari. Kepastian pendaratan Perseverance diterima Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat NASA pada Kamis (18/2/2021) pukul 15.55 waktu pantai timur AS atau Jumat (19/2/2021) pukul 03.55 WIB. Waktu pendaratan nyata Perseverance adalah 11 menit sebelumnya.

Meski ini bukan kali pertama AS mendaratkan wahana di Mars, pendaratan Perseverance tetap menantang karena separuh misi pendaratan di Mars selama beberapa dekade terakhir gagal. Hingga kini, hanya AS yang mampu mengoperasikan wahana penjejak (rover) di Mars, mulai dari Sojourner pada 1997, Opportunity (2004), Spirit (2004), Curiosity (2012) dan terakhir Perseverance.

“Misi Mars 2020 Perseverance ini akan membantu menyiapkan eksplorasi manusia di Mars pada 2030-an,” kata pelaksana tugas administrator NASA Steve Jurczyk.

Penurunan wahana dari atmosfer bagian atas ke tanah Mars hanya perlu tujuh menit akibat tipisnya atmosfer Mars. Ketebalan atmosfer Mars hanya 1 persen dari atmosfer Bumi.

—-Tim wahana penjejak Perseverance milik NASA tampak gembira di ruang pengendali misi setelah menerima konfirmasi bahwa wahana antariksa berhasil mendarat di Planet Mars, Kamis (18/2/2021), waktu setempat.

Saat memasuki atmsofer Mars, kecepatan wahana mencapai 19.500 km per jam atau 5,4 km per detik. Selanjutnya, teknologi penjangkau dan navigasi medan wahana akan mendeteksi titik pendaratan.

Pada jarak tertentu, parasut pun mengembang untuk menunrunkan laju penurunan wahana, sekaligus mengarahkan wahana agar jatuh tidak terlalu jauh dari titik sasaran, seperti yang dialami wahana penjejak Curiosity pada 2012.

Teknologi pengembangan parasut ini berbeda dengan yang digunakan saat menurunkan Curiosity. Ketika itu, parasut akan mengembang pada ketinggian tertentu, tanpa memperhitungkan kedekatan dengan titik sasaran pendaratan. Akibatnya, Curiosity mendarat relatif jauh dari titik tujuan.

Setelah parasut mengembang, perisai wahana yang melindungi Perseverance dari gesekan akan terbuka dan skycrane atau semacam pesawat tanpa awak yang membawa Perseverance akan keluar dan makin mendekati titik pendaratan.

Pada ketinggian tertentu, Perseverance akan diturunkan menggunakan tali. Setelah Perseverance menjejak tanah, skycrane pergi menjauh hingga kejatuhannya tidak mengganggu kerja wahana penjejak.

Perseverance mendarat di satu titik di kawah Jezero yang berdiamater 45 km dan terletak di utara khatulistiwa Mars. Jezero dipilih karena diduga merupakan danau kuno yang punya delta sungai. Kawah ini punya tebing, bukit pasir, bebatuan, dan tanah lempung di dasarnya.

BILL INGALLS/NASA VIA AP—Anggota tim wahana penjejak Perseverance NAA memantau misi tersebut di dalam ruang pengontrol misi, di Laboratorium Tenaga Penggerak Jet, Amerika Serikat.

Beberapa menit setelah pendaratan, Perseverance mengirimkan beberapa foto tanah Mars yang tandus dan berbatu. Setelah itu, wahana mulai menguji sejumlah instrumen riset yang dibawa untuk mencari tanda-tanda kehidupan masa lalu Mars.

“Misi sains yang menakjubkan dimulai,” kata ketua misi sains NASA Thomas Zurbuchen.

Misi Perseverance itu merupakan kelanjutan dari misi penjejak sebelumnya, Curiosity, yang menilai kelayakan Mars untuk menopang makhluk hidup di masa lalu. Misi ini juga bagian dari misi wahana pendarat (lander) AS Viking pada awal 1980-an yang mencari tanda kehidupan Mars di era sekarang.

Untuk menopang misi itu, Perseverance dilengkapi peralatan riset berteknologi tinggi, mulai dari spektrometer, kamera resolusi tinggi, radar yang menembus tanah, dan laser untuk menembak batuan Mars serta mengukur komposisi uap yang dihasilkan.

Penjejak beroda enam seukuran mobil dengan berat 1.025 kilogram (kg) ini juga memiliki bor di ujung lengan robotiknya guna mengumpulkan 40 sampel tanah di sekitar Jezero. Sampel tanah Mars itu akan dibawa kembali ke Bumi oleh misi bersama NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) pada 2031.

KOMPAS/NASA/GUNTER’S SPACE PAGE—Helikopter mini Ingenuity yang akan dibawa oleh wahana penjejak Perseverance saat melakukan penjelahan di tanah Mars. Helikopter milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat itu akan membuat jangkauan untuk meneliti wilayah Mars menjadi lebih luas, tidak terpaku pada jarak seperti yang dialami wahana penjejak.

Selain itu, Perseverance membawa teknologi baru penopang riset dan pengiriman manusia ke Mars di masa depan. Untuk keperluan ini, ada helikopter mini seberat 1,8 kg bernama Ingenuity untuk memudahkan perpindahan lokasi pengamatan. I

Hal itu akan menjadi helikopter pertama yang bekerja di luar Bumi. Ada pula mikrofon khusus untuk menangkap suara di Mars karena hingga kini belum ada misi yang bisa merekam suara di Mars secara langsung.

Ada pula instrumen Mars Oxygen In-SItu Resouze Utilization Experiment (Moxie) untuk mengubah karbondioksida yang melimpah di Mars jadi oksigen murni. Jika peralatan ini dapat ditingkatkan kapasitasnya, dia akan sangat membantu kolonisasi manusia Bumi di Mars.

Informasi yang diperoleh Perseverance itu akan memperkaya pengetahuan manusia soal Mars. Terlebih, sepekan sebelum kedatangan Perseverance, wahana pengorbit (orbiter) Mars Al Amal milik Uni Emirat Arab (UEA) serta wahana pengorbit dan penjejak milik China Tianwen-1 sudah datang, masing-masing pada 9 Februari 2021 dan 10 Februari 2021. Namun pendaratan wahana penjejak Tianwen-1 baru akan dilakukan Mei atau Juni 2021.

NASA VIA AP—Foto pertama yang dikirim NASA menunjukkan penampakan pertama yang dikirim wahana antariksa Perseverance memperlihatkan permukaan Mars hanya beberapa saat setelah mendarat.

Kedatangan wahana UEA dan China untuk pertama kali itu membuat eksplorasi Mars makin ramai. Sebelumnya, sudah ada wahana AS, Uni Soviet, Uni Eropa, dan India yang meneliti Mars. Sedang Jepang akan mengirim misi ke bulan Mars, Phobos, pada 2024.

Situasi Indonesia
Di balik kemajuan eksplorasi Mars, Indonesia belum tergerak untuk melakukan hal sama. Meski ekonomi Indonesia diperkirakan ada di posisi lima dunia setelah China, AS, India dan Jepang pada tahun 2024, hingga tahun 2040 belum ada rencana Indonesia mengeksplorasi Mars.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin mengatakan, dalam rencana induk keantariksaan 2016-2040, Indonesia menargetkan bisa membuat satelit penginderaan jauh, roket peluncur pengirim satelit ke orbit rendah bumi, serta beroperasinya banda antariksa nasional pada 2040.

Keterbatasan anggaran jadi isu klasik. “Teknologi antariksa itu mahal dan berisiko,” katanya. Situasi ekonomi yang belum kuat membuat kebijakan anggaran masih terfokus pada program kesejahteraan masyarakat. Akibatnya, pengembangan teknologi antariksa pun masih untuk menopang kesejahteraan, seperti satelit eksplorasi bumi, telekomunikasi dan navigasi.

Namun India meski memiliki tingkat pendapatan per kapita lebih rendah dari Indonesia, mampu menjadi pemain eksplorasi antariksa yang diperhitungkan. Negara itu memiliki visi keantariksaan kuat dan didukung penuh pemerintahnya, baik eksekutif maupun legislatif.

—-President Perancis Emmanuel Macron mengacungkan jari selama mengikuti rapat yang menunjukkan pendaratan wahana antariksa Perseverance Mars. Kamis (20/02/2021).

“Visi keantariksaan Presiden Soekarno yang melahirkan Lapan tidak berlanjut pada periode-periode berikutnya,” tambahnya.

Di Indonesia, program keantariksaan masih dianggap terlalu tinggi dan tidak membumi. Padahal UEA, justru menjadikan peluncuran Al Amal sebagai pengungkit mereka ekonomi selain minyak dan gas bumi serta mendorong anak mudanya menekuni ilmu pengetahuan dan teknologi. (SPACE/AP?LUK)

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 20 Februari 2021

Share
%d blogger menyukai ini: