Home / Sosok / Tyovan Ari Widagdo, Meretas Hidup dengan Bahasa

Tyovan Ari Widagdo, Meretas Hidup dengan Bahasa

Tyovan Ari Widagdo (27) belum jadi sarjana ketika dipercaya mengelola dana sekitar Rp 6 miliar untuk mengembangkan aplikasi belajar bahasa Inggris, Bahaso. Dua tahun berjalan, Tyovan mengajak 25 anak muda bekerja di perusahaan pengembang aplikasi itu. Ia kini mulai membalas budi atas anugerah itu kepada ratusan ribu orang Indonesia.

”Aku baru pulang kemarin dari Banda Aceh menyerahkan beasiswa untuk 1.000 perempuan Aceh belajar bahasa Inggris,” kata Tyovan di kantornya, Jumat (15/12), di daerah Gambir, Jakarta Pusat. Ia adalah chief executive officer (CEO), alias pucuk pimpinan PT Bahaso Intermedia Cakrawala, perusahaan pengembang Bahaso.

Di luar ruang rapat yang sejuk itu, suasana riuh oleh gurauan pekerja yang sebaya dengan Tyovan. Mereka sedang berbagi donat. Sekitar setengah jam kemudian, suasana senyap. Mereka tekun menghadap komputer masing-masing.

Para penerima beasiswa di Aceh itu adalah penghasil kerajinan rumah tangga. Harapannya, jika mereka pandai berbahasa Inggris, mereka bisa berjualan dengan pembeli mancanegara lewat internet.

Penerima beasiswa bisa mengakses kelas premium di aplikasi Bahaso. Peserta ajar kelas premium membayar Rp 100.000 per bulan. Namun, ada juga materi yang bisa dinikmati gratis, dengan fasilitas terbatas. Total pengguna aplikasi itu kini mencapai angka 350.000 orang, sebanyak 30 persen, di antaranya, adalah pengguna premium. Pendapatan perusahaan itu diperoleh dari pelanggan berbayar. ”Jadinya, sistem subsidi silang,” katanya.

Perusahaan itu ia kembangkan dari dana investor sebesar 500.000 dollar AS, atau sekitar Rp 6 miliar, yang ia peroleh pada 2014. Baru-baru ini mereka mendapat bantuan modal berikutnya dari perusahaan telekomunikasi dalam negeri. Suntikan dana itu membuat perusahaan Tyovan lebih leluasa mempromosikan aplikasi tersebut.

Tyovan berencana memberi beasiswa kepada sekitar 100.000 orang. Selain di Banda Aceh, ia juga telah membagikan beasiswa itu di Bojonegoro, Manado, Wonosobo, dan Kabupaten Lampung Timur. Bahaso rupanya juga dipakai pekerja migran asal Indonesia, seperti di Dubai dan Hong Kong.

Cari solusi
”Kurikulum di pendidikan formal (sekolah) masih fokus pada bagaimana mendapat nilai ujian tinggi, bukan bagaimana menggunakan bahasa itu dengan semestinya,” katanya. Kebutuhan itu berusaha dipenuhi lembaga kursus. Sayangnya, tidak semua orang bisa kursus. Selain kendala jarak dan waktu, biaya kursus juga relatif mahal. Tyovan memotong kendala tersebut, dengan menyebarkan materi pengajaran melalui internet. Apalagi, pengguna ponsel berbasis Android makin jamak.

Tyopan mengembangkan aplikasi pengajaran bahasa saat dia berkuliah di Jurusan Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta. Proyek ini meluluskan dia dari kampusnya walau dengan nilai skripsi pas-pasan. ”Selama kuliah, nilaiku memang selalu nasakom (nilai satu koma, alias tak sampai dua),” katanya tertawa.

Nilainya yang jeblok itu adalah akibat dari sering membolos. Ketika kuliah, ia mengurusi perusahaan yang ia bangun sejak kelas dua SMA, yaitu Vemobo. Perusahaan itu membangun web dan aplikasi serta konsultan teknologi.

Keajaiban dunia IT memikat Tyovan sejak remaja. Ia sering menghabiskan waktu main gim video meski tak punya alatnya di rumah. Uang sakunya sering habis untuk membayar sewa PlayStation. Namun, dia tak cuma bermain gim, dia pun mencoba membuat gim. Dia sering menghabiskan waktu di warnet mempelajari teknologi informatika yang sebagian besar berbahasa Inggris.

Ia punya kamus, tetapi uang jajannya terlalu sedikit untuk menyewa warnet. Dengan uang saku hanya Rp 5.000 per hari, dia bisa mengakali dua warnet di kota Wonosobo yang bertarif Rp 10.000 per jam. Ayah dan ibunya bukan orang berada. Mereka berdagang tahu kupat di trotoar di kota Wonosobo.

Waktu kelas satu di SMA Negeri 1 Wonosobo, kejahilannya pernah menggegerkan sekolah. Virus ”pelajar” yang dibuatnya menyebar ke semua komputer sekolah. Walaupun membuat penawar, ia dihukum dilarang memakai komputer di laboratorium.

Kegandrungannya akan komputer tersalurkan setelah dia menjadi penyiar radio sekolah. Saat itu dia pun sempat merancang web berisi informasi lengkap tentang pariwisata Wonosobo bernama e-wonosobo. Setelah itu, orderan membangun website pun berdatangan dengan upah sampai Rp 3 juta.

Suatu ketika ia mendapat proyek dengan nilai Rp 25 juta dari instansi pemerintah. Usaha untuk mendaftarkan perusahaannya kandas. Sang notaris yang didatanginya meminta dia datang lagi ketika sudah cukup umur, sesuai undang-undang.

Kejahilannya muncul lagi. Ia menuakan umur di kartu identitas. Berbekal identitas fiktif, dia berhasil mendaftarkan diri sebagai pemilik perusahaan teknologi informatika bernama CV Vemobo Citra Angkasa.

Uang proyek yang ia terima tunai itu ia belikan laptop pertamanya. ”Tetap saja enggak dilirik cewek, mereka milih cowok yang punya motor, ha-ha-ha,” ujarnya.

Perjalanannya berlanjut di Jakarta. Saat kuliah di Binus Jakarta, ia berjejaring dengan praktisi TI lain, juga pelaku usaha rintisan (startup). Bisnis Vemobo pun tetap langgeng. Kiprahnya itu membuat dia diundang Universitas Stanford di AS sebagai wakil dari Indonesia di ajang ASES Stanford Summit and Pitch IT pada 2013.

Di sana ia ”menziarahi” Silicon Valley dan Silicon Alley—kiblat kancah TI dunia, serta memperluas relasi. Dalam pesawat di perjalanan ke Tanah Air, Tyovan terpikir membuat sesuatu yang berguna bagi orang banyak, berbasis teknologi. Gagasan itu mewujud pada awal 2015 dalam bentuk Bahaso. Ia sedang terancam drop out kuliah. Bahaso menyelamatkan akademiknya.

Setelah meraih gelar sarjana, Bahaso tetap ia hidupkan. Ia mencari pakar bahasa Inggris demi menyusun konten pengajaran. Gayung itu disambut Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia. Peserta ajar Bahaso mendapat sertifikat dari kampus itu.

Kehidupan Tyovan sudah jauh berbeda ketika umurnya belum lagi 30 tahun. Ia tak lagi kepingin punya motor karena ada Toyota Fortuner berkode inisial namanya di pelat nomor. Ia berumah di daerah Joglo, Jakarta Barat.

Tyovan belum hendak berhenti. Ia ingin menua seperti Bill Gates, panutannya, yang menyantuni banyak orang di dunia. Pembagian beasiswa kelas bahasa Inggris adalah langkah kecilnya.–HERLAMBANG JALUARDI

Sumber: Kompas, 23 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Monika Raharti Memotivasi Peneliti Belia Indonesia

Monika Raharti memotivasi pelajar SMA untuk menjadi peneliti belia yang bisa berkompetisi di ajang internasional. ...

%d blogger menyukai ini: