Home / Artikel / Trihalomethane Dalam Air Minum Bisa Akibatkan Kanker

Trihalomethane Dalam Air Minum Bisa Akibatkan Kanker

Air yang merupakan kebutuhan pokok manusia, tidak hanya yang hidup saja yang memerlukannya, bahkan sampai matipun masih juga memerlukan air untuk memandikan mayatnya.

Air minum harus mempunyai syarat kualitas tertentu. Tidak hanya warna, bau dan rasa yang langsung dapat dilihat, tetapi juga kandungan zat-zat tertentu dalam air minum harus lebih kecil dari nilai ambang batas (NAB) yang diperbolehkan. Air minum yang kelihatan jernih belum tentu sehat untuk diminum karena kemungkinan mengandung zat-zat kimia yang berbahaya atau kuman penyakit

Di negara maju, misalnya Jepang dan Amerika, standar kualitas air minum mendapat pengawasan sangat ketat. Salah satu parameter yang diawasi dengan ketat sekali yaitu apa yang disebut trihalomethane (THMs), yaitu senyawa hasil reaksi kimia antara senyawa derivat (turunan) methan dengan senyawa atau unsur halogen. THMs ini telah lama diketahui sebagai penyebab kanker. Karena itu di negara maju kandungan trihalomethane dalam air minum yang diperbolehkan maksimum 0,1 mg/liter.

Trihalomethane atau disingkat THMs adalah senyawa organik derivat methan (CH4) yang telah bereaksi dengan unsur haIogen misalnya khlorine, fluorine, bromine, dan sebagainya dimana tiga buah atom hidrogen (H) dari methan tersebut diganti dengan tiga buah atom halogen tersebut. Yang termasuk senyawa trihalomethan antara lain chloroform (CHCl3), bromoform (CHBr3), bromodichloromethan (CHBrCl2).

Sumber THMs
Trlhalomethane dapat terbentuk akibat pengolahan air minum dengan bahan air baku yang telah tercemar. Di Jakarta khususnya dan juga di kota besar lain di Indonesia umumnya pengoIahan air minum masih menggunakan proses pengolahan konvensional dengan urutan proses yakni pemberian bahan kimia (koagulasi), panggumpalan (flokulasi), pengendapan (sedimentasi), penyaringan (filtrasi) dan yang terakhir khlorinasi sebagai penyucihamaan (disinfeksi).

Dengan semakin kotornya air sungai di Jakarta yang merupakan sumber baku air minum, oleh zat-zat polutan misalnya zat organik, detergen, phenol, amonia, dan zat lainnya, maka sistem pengolahan secara konvensional tadi sangat memungkinkan terbentuknya trihalomethane (THMs) dalam air minum hasil olahan.

Dengan proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi dan filtrasi, air sungai yang kotor tadi memang dapat dijernihkan. Tetapi kadar zat organiknya masih tetap ada. Zat organik ini akan berkontak dengan khlorine yang digunakan sebagai disinfektan sehingga akan bereaksi dan membentuk senyawa trihalomethane. Jika kadar THMs dalam air minum lebih besar 0,1 mg/liter, dapat mangakibatkan kerusakan pada hati, ginjal serta dapat menyebabkan kanker.

Penanggulangan
Cara menanggulangi terbentuknya trihalomethane secara prinsip adalah menghindari terjadinya reaksi antara zat organik dengan unsur halogen misalnya dengan khlorine, bromine, flour, dan lainnya.

Pertama yakni menghindari terjadinya pencemaran air sungai atau badan air yang merupakan sumber air baku air minum. Cara ini sangat kompleks, karena menyangkut masyarakat dan juga beberapa instansi yang terkait masalah pengelolaan air sungai maupun lingkungan’.

Untuk kota Jakarta, mungkin masih memerlukan waktu yang cukup lama karena di sini masih belum ada fasiiitas pengoiahan air buangan kota.

Cara yang kedua adalah menggunakan proses pengolahan air minum yang sesuai dengan kuaIitas air bakunya. Untuk air yang telah tercemar zat organik maka dengan proses pengolahan secara konvensional seperti tersebut di atas, masih kurang memadai. Pasalnya proses tersebut memang tidak dirancang untuk pengolahan air yang telah tercemar.

Salah satu alternatif adalah dengan memakai pengolahan dengan karbon aktif karena karbon aktif mempunyai sifat dapat menyerap zat-zat organik atau zat polutan lainnya.

Untuk pengolahan air minum skala besar, misalnya PAM, maka dapat menggunakan proses pengolahan dengan karbon aktif bubuk. Sebelum dilakukan proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi dan khlorinasi, air baku dikontakkan dulu dengan karbon aktif untuk menghiIangkan zat organik maupun zat polutan lainnya, baru dilakukan proses seperti pada pengolahan secara konvensional. Dengan demikian akan terhindar terjadinya reaksi antara zat organik dengan khlorine yang menghasilkan senyawa trihalomethane.

Untuk skala rumah tangga dapat memakai saringan yang berisi karbon aktif butiran (granular) yang banyak dijual di pasaran. Di sini air yang diduga mengandung zat organik THMS atau zat polutan lainnya dialirkan ke dalam fllter yang berisi karbon aktif sehingga zat-zat tersebut dapat diserap oleh karbon aktif tersebut

Standar kualitas
Untuk penanggulangan pencemaran air minum secara keseluruhan perlu adanya standar kualitas air minum yang memadai. Di dalam standar kualitas air minum yang dikeluarkan Depkes (Tabel 1), masalah trihalomethane masih belum tercantum. Oleh karena itu sudah waktunya diadakan peninjauan kembali mengingat masalah pencemaran air minum mempunyai dampak yang besar bagi masyarakat. Sebenarnya yang penting bukan hanya standar kualitas saja tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah pelaksanaan dari peraturan tersebut. Karena jika tidak maka upaya penyediaan air minum yang sehat untuk masyarakat tidak akan terpenuhi.

(Nusa Idaman Said, Staf Kelompak pengelolaan Air Bersih, Direktorat Pangkajian Sistem, BPPT)

Sumber: Kompas, 23 Juli 1989

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Menyoal Kenetralan Pendidikan

Riset pendidikan matematika telah mengungkapkan secara jelas bahwa mengajar matematika merupakan ”highly political act” atau ...

%d blogger menyukai ini: