Home / Berita / Tren Peminatan Program Studi Belum Berubah

Tren Peminatan Program Studi Belum Berubah

Perkembangan teknologi di era digital tidak lantas diikuti perubahan tren pemilihan program studi di perguruan tinggi. Program studi yang populer relatif sama.

Dalam masa seleksi penerimaan mahasiswa baru, belum terlihat ada tren baru dalam pemilihan program studi di perguruan tinggi. Minat siswa kelas XII masih di seputar program-program studi yang sudah banyak diketahui awam.

Dari segi pembukaan program studi (prodi) baru, perguruan tinggi juga tidak gencar melakukannya. Mereka lebih memilih memutakhirkan konten mata kuliah dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan sesuai kebutuhan karakter dan industri masa kini.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Para siswi kelas XII-IPA SMAN 11 Tangerang Selatan bersantai sesudah mengikuti sesi Ujian Nasional Berbasis Komputer pada hari Kamis (4/4/2019).

Para siswa kelas XII yang tengah mengikuti Ujian Nasional umumnya mengaku bahwa minat untuk masuk ke perguruan tinggi masih dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar. Misalnya, melihat ada sanak saudara atau pun alumnus sekolahnya yang menekuni bidang tertentu membuat siswa memupuk cita-cita untuk masuk bidang yang sama.

“Saya ingin mengambil prodi (program studi) kedokteran karena kebetulan mama saya bidan. Sejak kecil sudah sering melihat alat-alat kesehatan dan diajak ke rumah sakit,” kata Inayatul Fauziah, siswi kelas XII-IPA SMAN 10 Tangerang Selatan, Banten, ketika ditemui di sekolahnya pada Kamis (4/4/2019).

Cita-cita itu semakin diperkuat karena Inayatul sering kesal melihat berbagai hoaks kesehatan yang bertebaran di media sosial. Ia terinspirasi dengan video-video unggahan para mahasiswa kedokteran di situs Youtube yang menjelaskan mengenai hoaks kesehatan hingga memberi kiat-kiat hidup sehat. Menurut dia, apabila mengambil prodi kedokteran, ia juga bisa membuat konten informasi kesehatan yang akurat sambil memberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Sementara itu, Jeanrika Gibawa, juga siswi SMAN 10 Tangsel mengungkapkan keinginannya mempelajari ilmu gizi. Sama seperti Inayatul, ia menilai berbagai informasi tata cara diet dan obat-obatan penurut berat badan yang diiklankan di media sosial menyesatkan masyarakat. Selain itu, ia juga berasal dari keluarga yang mengutamakan pola makan sehat sehingga memengaruhi keputusannya memilih prodi ilmu gizi.

Para siswa mengatakan bahwa mereka memercayai kerabat dan kakak kelas dalam menginspirasi menentukan prodi. Jeanrika mengungkapkan belum pernah mendengar jenis-jenis lapangan pekerjaan baru di era digital seperti perancang program kecerdasan buatan, pengembang piranti lunak, dan pengelola konten mahadata.

“Sempat sekilas baca soal pengembang software (perangkat lunak) di media sosial, tapi saya enggak kenal dengan orang yang menekuni bidang itu. Jadi saya enggak akan tahu kuliah dan pekerjaannya seperti apa,” tuturnya.

Relatif sama
Dalam waktu yang berbeda, Wakil Rektor I Universitas Indonesia Bambang Wibawarta mengatakan, proses seleksi mahasiswa baru masih berlangsung. Setelah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ada Ujian Tertulis Berbasis Komputer dan seleksi mandiri sehingga perubahan tren peminatan prodi belum terlihat.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi Universitas Gadjah Mada Iva Ariani mengungkapkan, setiap tahun perguruan tinggi negeri di Yogyakarta itu mengalami pola yang relatif sama. Pada klaster sains dan teknologi, prodi populer ialah farmasi, kedokteran, dan teknik sipil. Adapun di klaster sosio dan humaniora, prodi psikologi, manajemen, dan hukum amat digemari.

Sama seperti UI, UGM juga baru membuka prodi aktuaria. Aktuaria adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung risiko keuangan, misalnya untuk membantu perusahaan sebelum melakukan investasi atau pun mengambil langkah radikal.

Sebelumnya, materi aktuaria merupakan bagian dari prodi matematika atau pun statistik. Akan tetapi, sejak dua tahun lalu, ilmu ini memisahkan diri menjadi prodi tersendiri karena proses penghitungan dan penganalisaannya berbeda daripada matematika, statistik, dan akuntansi. Selain UI dan UGM, prodi ini juga baru dibuka di Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

“Khusus di UGM, peminatnya sudah mencapai 488 orang untuk kuota 40 orang,” tutur Iva. Untuk jumlah pasti mahasiswa baru yang diterima belum diumumkan karena menunggu selesainya proses seleksi.

Menelaah jurnal
Sementara itu, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia Asep Saefuddin mengatakan, pemutakhiran ilmu tidak selalu dengan membuka prodi baru, tetapi memutakhirkan isi materi perkuliahan di setiap prodi agar relevan dengan konteks terkini. Selain itu, harus turut dikembangkan kemampuan siswa membaca jurnal, menganalisanya, dan membuat karya tulis rutin berdasarkan bacaan ilmiah. Hal ini merupakan tantangan karena kemampuan mahasiswa membaca dan menulis ilmiah rendah.

“Kampus mengembangkan lokakarya bagi dosen untuk bisa menerapkan perkuliahan yang terpusat kepada mahasiswa. Pemberi materinya dari Whadwany Institute di Amerika Serikat yang memang fokus mengembangkan pendidikan kewirausahaan,” ujarnya.

Dosen harus memiliki literasi digital sehingga bisa membekali mahasiswa dengan silabus yang bisa menjadi pijakan untuk mengakses jurnal-jurnal lain. Selain itu, dosen juga harus memberi pengajaran tata cara menulis ilmiah dan membiasakan mahasiswa melakukannya.

“Pemutakhiran materi juga melalui riset-riset lokal dan nasional yang relevan dengan kebutuhan bangsa, bukan yang berbasis teks-teks dari luar negeri saja,” kata Asep. Dengan demikian, perguruan tinggi tidak didikte pasar dalam hal pembukaan prodi baru karena perguruan tinggi harus bisa menjawab tantangan di masyarakat tanpa terseret arus.–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 5 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: