Home / Sosok / Toety Heraty N Rooseno; Gelisah Terus Mencari

Toety Heraty N Rooseno; Gelisah Terus Mencari

Eksperimen kehidupan. Pencarian yang membuatnya terus gelisah, terbebas dari rasa tertekan. Berbagai eksperimen itu, menurut Prof Dr Toeti Heraty Noerhadi Roosseno (82), selalu membuahkan keberuntungan.

Tidak sampai mempertanyakan apakah keberuntungan (luck) itu terjadi atas ”kehendak Yang Kuasa” atau bukan, bagi Toeti Heraty, keberuntungan itu karunia. Menyandang sejumlah atribut dalam ranah publik, dalam ranah privat ia tetap merasa sebagai anak sulung dari Prof Dr Ir Roosseno—penemu metode beton bertulang—dan RA Oentari, ibu 4 anak dan 8 cucu.

Sejak kecil hidupnya diwarnai mobilitas yang tinggi, tidak hanya fisik, tetapi juga penjelajahan dalam ranah ilmu dan berbagai kegiatan budaya, politik, gerakan feminisme, dan hukum. Pencarian yang tidak pernah selesai. Sampai sekarang.

Oleh karena itu, ketika merayakan ulang tahunnya ke-80 pada 2013—lahir di Bandung, 27 November 1933—Toeti Heraty mengatakan, ”For me, life begins at 80.” Katanya, ”Saya betul-betul merasa bebas mau melakukan apa saja, tidak mau didikte orang.”

Mengapa berpindah-pindah, dari psikologi lantas filsafat, lantas ke berbagai bidang? Pertanyaan itu dijawab Toeti, Selasa (26/1), di galeri-museum di Jalan Cemara Nomor 6, Jakarta Pusat—sekaligus tempat tinggalnya. ”Saya jenuh dengan tubuh. Saya tertarik ke masalah kejiwaan.”

Bergabung sebentar tiga tamunya—Keith Foulcher, Putu Oka Sukanta, dan Oki—Toeti Heraty berkata sambil berkelakar, ”Kadang-kadang saya mengalami kerancuan identitas—antara Toeti Heraty N Roosseno, Toeti Heraty Noerhadi, atau Toeti Heraty (bandingkan Toeti Heraty: Fragmen Otobiografi, Pencarian Belum Selesai, Indonesia Tera, Magelang, 2003).”

Rupanya faktor luck, keberuntungan, kemujuran, selalu berpihak kepadanya. Meninggalkan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tingkat IV, pindah ke psikologi, dan lulus sarjana muda di Leiden, menikah dengan Eddie Noerhadi—sarjana biologi yang baru saja lulus di Utrecht—setahun kemudian dua putri kembar (Cita Citrawinda dan Inda Citraninda) lahir, keluarga Noerhadi kembali ke Bandung, tahun 1958.

Kembali ke Indonesia (Bandung)—tempat kerja suaminya sebagai dosen Institut Teknologi Bandung—berarti memulai hidup dalam ranah publik. Penjelajahan yang berayun di antara eksperimen-eksperimen kehidupan yang ”tidak direncanakan sebelumnya”, terjadi begitu saja. Dalam berbagai bentuk penjelajahan, Toeti Heraty selalu menemukan hal yang spontan, kebetulan sekaligus keberuntungan, kemujuran.

Setelah hijrah dari kedokteran ke psikologi, lulus sarjana psikologi tahun 1962 dengan skripsi tentang pemikiran feminisme tahun 1950-an Simone de Beauvoir dengan pembimbing N Drijarkara SJ dan meraih doktor filsafat tahun 1979—doktor filsafat pertama yang dihasilkan dari universitas di Indonesia—dengan promotor CA Van Peursen, tercapai sudah pencarian keilmuan dan pendasaran terstruktur daya tariknya tentang ilmu-ilmu kejiwaan. Saat berkutat dengan kegiatan sebagai dosen dan istri dosen, pada saat yang sama kegiatan dalam ranah publiknya semakin bervariasi.

eca3e21bf2ec43f491853129bf7f6730KOMPAS/RIZA FATHONI–Toety Heraty Rooseno

Tentang penjelajahannya, ia tambahkan, ”Ilmu–ilmu kedokteran ada hubungan dekat dengan psikologi, kemudian dengan disiplin ilmu filsafat.” Di ruang privat sekaligus ruang tamunya, dilatarbelakangi rak-rak buku yang dia tak tahu jumlah eksemplar dan judulnya, dikitari ratusan koleksi lukisan dengan kafe di ruang depan yang sedang dikunjungi beberapa tamu bule, Toeti Heraty N Roosseno berkisah tentang kegelisahannya terus mencari.

Berikut sebagian rekamannya.

Anda kuliah di Jakarta, bekerja dan tinggal di Bandung secara bersamaan pada tahun 1960-an. Kok, bisa!

Saya penumpang setia suburban trayek Bandung-Jakarta, pulang balik selama hampir dua tahun. Suami saya dosen dan ketua jurusan botani di ITB. Rumah di Bandung, kuliah di Fakultas Psikologi UI. Saya jalani itu tiap hari sejak mengandung anak ketiga (Migni Myriasandra) dan sampai anak keempat (Cyril Noerhadi) lahir. Salah satu dosen saya, Yap Kie Hien, dosen psikologi klinis, memarahi saya, jangan anggap enteng itu. Dia tambahkan, sedang hamil lagi. Begitu lulus, saya mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.

Anehnya, Yap Kie Hien yang dulu memarahi saya malah meminta saya jadi asistennya. Mengajar psikologi klinis di FPUI. Setelah mengajar 1,5 tahun, saya dibisiki Arief Budiman, katanya orang-orang pada heboh. Mata kuliah itu jadi rebutan banyak peminat. Saya, kan, bukan orang UI, tapi orang Unpad. Orang yang paling keras protes itu Fuad Hassan, Pudek FPUI. Katanya orang yang akan pegang mata kuliah itu sudah pulang dari London. Oh ya, kata saya, saya tunggu saja surat keputusannya. Surat keputusan datang dan saya tidak ngajar lagi.

Keluar kedokteran, pindah ke psikologi, lantas filsafat, alasannya sama-sama ilmu sekitar kemanusiaan?

Waktu mengajar di FPUI, saya sudah mulai menulis disertasi tentang psikologi. Saya ragu-ragu. Psikologi itu tentang soul, sedangkan filsafat tentang mind. Jadi besarannya compassion. Nah, mengapa tidak filsafat sekalian. Jadi, saya mulai belajar filsafat. Kesempatan datang pada 1971. Prof Harsya Bachtiar, Dekan Fakultas Sastra UI, mengusahakan beasiswa studi filsafat di Leiden selama dua tahun. Orang-orang protes, kok, beasiswa FS diberikan ke orang psikologi, bukan dari UI lagi. Dijawab oleh Pak Harsya, karena ada rencana mendirikan jurusan filsafat di Fakultas Sastra.

Saya pun bernegosiasi yang kedua dengan suami. Yang pertama ketika saya mau kerja di Jakarta, yang kedua sekarang saya mau studi dua tahun di Belanda. Akhirnya, saya berangkat ke Belanda dengan dua anak kami. Kurang empat bulan jatah beasiswa habis, kuliah-kuliah penyesuaian sudah selesai. Sisa beasiswa saya pakai untuk mempersiapkan disertasi di bawah bimbingan Van Peursen.

Aku dalam Budaya: Suatu Teori Orientasi Filsafat Barat Modern, disertasi Anda, menunjukkan betapa banyaknya buku referensi.

Mungkin saja benar kalau bacaan referensi saya cukup banyak. Saya bertolak dari gagasan Van Peursen yang dalam salah satu bukunya membahas tentang aku dalam budaya. Dia membahasnya dari segi mitis, ontologis, dan fungsional. Saya menambahkan segi analisis karena pada waktu itu sedang berkembang. Hermeunetik fenomenologis. Saya mau lebih dari apa yang sudah dilakukan Van Peursen.

Saya lulus doktor dengan yudisium cum laude tanggal 27 Januari 1979. Doktor filsafat pertama yang dihasilkan dari perguruan tinggi di Indonesia. Sebelumnya, tahun 1974, saya dilibatkan dalam proses pendirian jurusan filsafat di Fakultas Sastra UI. Tanggal 31 Maret 1975, jurusan filsafat diresmikan dengan Pak Soerjanto Poespowardojo dan saya masing-masing ditetapkan sebagai ketua dan sekretaris. Mengajar hingga usia 56 tahun, ketika mau pensiun diusulkan jadi guru besar, tapi baru tiga tahun kemudian saya diangkat guru besar.

Sejak pendirian jurusan filsafat sampai purnabakti tahun 2014, berapa tahun Anda terlibat dalam pengembangan filsafat di UI?

Tiga puluh sembilan tahun. Kalau dihitung dengan sekarang pun saya masih membimbing dua calon doktor—tapi tidak lagi mengajar—anggaplah 40 tahun. Hingga saat ini sudah ada 14 doktor di bawah bimbingan saya. Agar ilmu filsafat juga semakin diterima masyarakat dan dibaca umum, disertasi semua promovendi itu saya bukukan. Kini sudah ada tiga jilid buku. Saya berharap dan sekarang mulai dirasakan, filsafat tidak lagi sebagai ibu dari segala ilmu, tetapi salah satu dari ilmu-ilmu yang ada yang semakin diminati.

Spontan-kebetulan
Dari filsuf ke penyair. Loncatan besar atau kecil?

Jadi penyair itu mungkin kebetulan. Ketika ayah saya meminta saya mengurusi Biro Oktroi Roosseno tahun 1966, biro yang mengurusi hak kepemilikan intelektual, barang asing di zaman itu, kami mengontrak rumah di Jalan Palm, Jakarta, dekat kantor Biro Oktroi. Rumah kami dekat dengan gedung Balai Budaya, pusat aktivitas seni dan budaya. Saya sering hadir dalam acara-acara di sana. Berkenalan dengan orang-orang seni, seperti Zaini, Asrul Sani, Wiratmo Soekito, PK Ojong, dan Rendra.

Mereka suka melanjutkan diskusi di rumah. Saat itu, saya mulai menuliskan catatan-catatan reflektif berupa puisi. Tahun 1966, saya kirimkan puisi-puisi saya ke majalah Horison. Suatu hari, Zaini bilang, ”He, saya tahu kamu kirim puisi ke Pak Jassin. Akan diterbitkan, tuh!”. Benar, awal tahun 1967, puisi saya diterbitkan pertama kali di Horison. Suatu hari, Rendra datang, bilang mau ketemu penyair baru. Saya pun menulis puisi dan dimuat di majalah Sastra, Horison,dan Budaya Jaya. Saya dikenal sebagai penyair wanita dan memperoleh komentar tokoh kritikus sastra.

Tahun 1966 itu, ketika Indonesia mengalami kebangkitan politik, saya pun mengalami hal yang sama. Luck itu karunia. Selain psikologi, filsafat, dan sastra, saya memasuki ranah kebudayaan, sebab lalu pernah dipercaya sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Akademi Jakarta, Rektor Institut Kesenian Jakarta, lantas anggota dan Ketua Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, pembicara di mana-mana.

Hal-hal yang tidak diinginkan serupa terjadi dengan rumah ini sebagai museum, galeri, kafe, dan rumah tinggal sekaligus. Di Bandung, kantor suami saya berdekatan dengan kantor Departemen Seni Rupa di mana berkumpul para seniman, termasuk pelukis, di antaranya Mochtar Apin. Karya Mochtar Apin itulah, bersama dengan karya Salim yang tinggal di Paris, menjadi koleksi pertama.

Rumah ini sudah 47 tahun saya tempati. Saya pesan kepada anak-anak saya, tolong museum ini dipelihara, juga Jurnal Mitra yang baru diluncurkan tanggal 9 Februari. Ini edisi ke-12 sebab edisi pertama hingga ke-11 sudah terbit ketika Yayasan Mitra Budaya harus pindah dari rumah di Jalan Tanjung 34, milik Pertamina.

Diselingi memanggil Ifa—sekretaris pribadinya yang tahu persis tempat buku-buku di deretan rak buku, masa kerja Toeti dalam berbagai jabatan, dan mengatur orang yang akan bertemu—Toeti dengan tetap bersemangat menceritakan perjalanan hidupnya sebagai eksperimen kehidupan. Suaminya, Prof Dr Eddie Noerhadi, setelah pensiun menetap di Jakarta, keluarga berkumpul, tetapi dua tahun kemudian meninggal dalam usia 67 tahun, tepatnya tahun 1994.

Mengenai berbagai peristiwa aktual, terkait Rancangan Undang-Undang Kebudayaan dan penggunaan kekerasan atas nama agama, menurut Toeti, agama merupakan bagian dari spiritualitas. Kekerasan tidak bisa digunakan. Kekerasan itu pengkhianatan atas spiritualitas. Yang dilakukan Einstein juga spiritualitas. Spiritualitas saintifik.Yang dilakukan olehBunda Teresa juga bentuk spiritualitas. Spiritualitas humanistik. Jadi, macam-macamlah bentuk spiritualitas. Kita hanya tahu spiritualitas religius, itu pun disalahgunakan dan dikhianati.

Pada usia menjelang 83 tahun, agenda acara Toeti Heraty tetap padat, antara lain ke Sydney, Australia, mengantar kembali sekolah salah satu cucunya, berkeliling ke beberapa negara Eropa Timur pada bulan April, dan mengorganisasi rencana Roosseno Award tahun 2016.

ST SULARTO
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Februari 2016, di halaman 13 dengan judul “Gelisah Terus Mencari”.
————–
Toeti Heraty dalam Tiga Buku

Toeti Heraty N Roosseno pun menjelajah ke ranah politik, gerakan feminisme, dan keadilan lewat Suara Ibu Peduli, Koalisi Perempuan, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, MARA yang jadi embrio berdirinya Partai Amanat Nasional, bahkan juru kampanye nasional dan calon anggota legislatif PAN dari Jawa Timur. Sesudahnya dia merasa terjun ke politik praktis tidak lagi sebagai bentuk perjuangan kepentingan kemanusiaan. Alih-alih terjun ke politik praktis sekadar numpang lewat.

Selain puluhan buku kumpulan puisi, bahan ceramah dan artikel, perlu disebut tiga buku yang ditulisnya dalam rentang tahun 1979 sampai 2015. Pertama, Aku dalam Budaya, disertasi untuk memperoleh gelar doktor filsafat dari Fakultas Sastra UI tahun 1979. Kedua, Toeti Heraty: Fragmen Biografi, Pencarian Belum Selesai,terbit tahun 2003. Ketiga, Tentang Manusia Indonesia dsb, terbit tahun 2015.

Buku pertama bertolak dari antropologi filsafat, menurut Toeti, adanya subyektivitas atau suatu aku menjadi ciri khas manusia di samping manusia selalu hidup dalam budaya. Sebuah kajian hermeunetik fenomenologis.

Buku kedua disebut fragmen biografi sebab merupakan kumpulan tulisan yang bersinggungan dengan sebagian sosok Toeti Heraty. Dalam buku ini, Toeti menegaskan, dirinya melakukan berbagai “eksperimen kehidupan” yang didasarkan atas kebebasan seorang perempuan, anak sulung dari enam bersaudara-lahir di Bandung, berpindah tempat ke Kediri, Yogyakarta, Bandung, Jakarta-yang dalam sekian atribut ranah publiknya pernah mengelola usaha restoran tinggalan ibunya dan Biro Oktroi Roossseno tinggalan bapaknya.

Judul buku ketiga diilhami karya Mochtar Lubis tahun 1977, berisi sembilan artikel, masing-masing menyentuh ciri-ciri negatif manusia Indonesia yang disebutkan oleh Mochtar Lubis. Mengaku menulis tentang manusia Indonesia sama mustahilnya menulis tentang Indonesia.

Ketiga buku karya Toeti Heraty menegaskan sosoknya baik dalam ranah privat maupun publik. Dari sekian penghargaan yang pernah diterimanya, perlu disebut penghargaan dari Kerajaan Belanda, Commandeur in de orde van Oranje-Nassau (1955), dan dari Pemerintah Perancis, Chevalier de L’ordre des Arts et des Lettres, Le Ministre de la Culture et de la Communication (2005). (STS)
———–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Februari 2016, di halaman 13 dengan judul “Toeti Heraty dalam Tiga Buku”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: