Home / Berita / Terjawab, Misteri Nemo Tidak Tersengat Anemon

Terjawab, Misteri Nemo Tidak Tersengat Anemon

Setelah 15 tahun film Finding Nemo mendunia, ilmuwan Australia akhirnya menjawab misteri mengapa ikan badut itu justru berlindung di hewan laut anemon yang tentakelnya berbisa. Jawabannya, ikan badut telah berevolusi selama 60 juta tahun untuk menahan sengatan anemon dan hidup bersama dengan anemon melawan predator.

–Seekor ikan badut (Amphiprion sp) bermain di “rumah”-nya yang berupa anemon di titik selam Hoga Channel di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Selasa (11/4/2017). Foto: Kompas/Ichwan Susanto

Penelitian berjudul “Predasi Mendorong Konvergensi Berulang Dari Mutualisme Antar Spesies” itu dimuat dalam jurnal Ecology Letters yang juga dipublikasikan sciencedaily.com 28 November 2018. Penelitian dilakukan tim ilmuwan Universitas Queensland dan Universitas Deakin Australia.

Dalam film Finding Nemo, yang pertama kali dirilis 30 Mei 2003, digambarkan seekor ikan badut oranye (Amphiprion percula) bernama Marlin mencari-cari anaknya bernama Nemo. Dalam film itu digambarkan juga tempat tinggal mereka adalah anemon laut. Anemon adalah hewan laut dari kelas Anthozoa. Tentakel anemon dapat menyengat predator, kecuali ikan badut yang aman dari sengatan.

Bisa anemon juga dapat berpengaruh pada manusia yang menyentuhnya, seperti laporan penelitian Nurachmad Hadi dan Sumadiyo Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI berjudul “Anemon Laut (Coelenterata, Actiniaria), Manfaat dan Bahayanya” (Oseana, 1992).

KOMPAS/INGKI RINALDI (INK)–Dua ekor ikan badut yang bersimbiosis dengan anemon tampak di salah satu sudut titik penyelaman Tanjung Kusus-Kusu, Selat Lembeh, Sulawesi Utara, beberapa waktu lalu.

Menurut Nurachmad Hadi dan Sumadiyo, luka akibat terkena anemon laut biasanya terasa hanya sakit setempat yang dapat berkembang menjadi bintik merah di kulit dengan rasa panas dan gatal, melepuh dan rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh benda runcing. Lepuhan itu kemudian menjadi luka dan akan sembuh perlahan-lahan setelah beberapa hari. Di Pulau Seribu apabila penduduk salah mengolah anemon ini maka orang yang memakan anemon ini akan merasa gatal-gatal, tetapi tidak membawa akibat yang serius.

Sejak film itu populer di seluruh dunia, perhatian masyarakat tertuju pada pertanyaan mengapa ikan badut dapat tahan dari sengatan tentakel anemon. Untuk menjawab pertanyaan ini, peneliti Universitas Queensland William Feeney mengatakan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memahami asal-usul hubungan seperti itu, yang dikenal sebagai mutualisme antar spesies, yang sangat umum di alam.

“Ikan badut seperti Nemo dari film Finding Nemo dan anemon adalah contoh bagus dari jenis hubungan ini,” katanya.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO (GER)–Seorang wisatawan merasakan sensasi berenang bersama ikan badut yang bersembunyi di antara anemon. Sensasi ini bisa ditemukan saat melakukan selam permukaan (snorkling) di sekitar perairan Pulau Pahawang, Lampung, 24 Januari 2015.

Ikan badut hidup di dalam dan di sekitar anemon, membantu mengusir predator anemon dan menyediakannya dengan makanan. Sebagai gantinya anemon memberikan perlindungan dengan tentakel yang menyengat.

“Ikan badut telah berevolusi untuk menahan sengatan anemon, sehingga akhirnya menjadi hubungan yang sangat menguntungkan bagi kedua spesies,” tutur Feeney.

Feeney mengatakan, studi tersebut membantu menjelaskan bagaimana seleksi alam telah membentuk pola global keanekaragaman hayati. “Kami menguji dan menegaskan gagasan yang sangat mendasar dan intuitif – tetapi secara logistik sulit – dalam ekologi evolusioner. Singkatnya, kami sedang mencari untuk mengetahui apakah tekanan eksternal, seperti predator, dapat menjelaskan evolusi berulang dari jenis kemitraan yang saling menguntungkan ini,” paparnya.

Penelitian ini menggabungkan analisis genetik dengan percobaan lapangan di Polinesia Perancis untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang dinamika mutualisme ikan badut dan anemon.

VERONIKA ENDAH NOVIANTY–Ikan badut dan anemon.

Peneliti dari Universitas Deakin Rohan Brooker mengatakan tim menemukan bahwa mutualisme ikan badut dan anemon telah berevolusi setidaknya 55 kali dalam silsilah 16 keluarga ikan selama 60 juta tahun terakhir. “Ini jauh lebih umum yang diperkirakan sebelumnya. Lebih dari seperempat keluarga ikan karang yang terkait karang memiliki setidaknya satu spesies yang berasosiasi dengan anemon,” kata Brooker.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa risiko predasi telah menyebabkan terjadinya hubungan mutualisme ini, dan kemitraan dengan anemon terutama menguntungkan ikan yang lebih kecil. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa predasi dapat menjelaskan evolusi independen perilaku kooperatif antar spesies, dan bahwa pola evolusi ini dapat diterapkan secara global.

“Jika kamu tidak dapat menemukan Nemo, mungkin ide yang baik untuk pergi mengaduk-aduk tentakel teman-teman anemonnya,” ujar Brooker, berseloroh.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 29 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: