Temuan-temuan yang Tak Menghasilkan Uang untuk Penemunya

- Editor

Jumat, 5 Juli 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hari ini (5 Juli) mouse (tetikus) adalah perlengkapan komputer yang sudah sangat jamak dipakai. Tetapi, Douglas Engelbart, peneliti sekaligus penemu tetikus ini, yang meninggal Selasa (2/7/2013), ternyata tak pernah mendapatkan royalti dari paten tetikus. Engelbart tak sendirian soal karya yang tak mendatangkan uang meski dipakai di segala penjuru bumi.

Setidaknya, ada 10 karya yang tak kalah jamak dikenal di dunia laiknya tetikus, tetapi tak menjadi sumber uang bagi para penemunya. Apa sajakah karya itu? Juga siapakah penemunya?

Pertama, lampu LED. Ini adalah lampu kecil yang banyak dipakai di piranti elektronik meskipun dalam perkembangannya juga sudah mulai dipakai sebagai lampu penerangan karena kecilnya konsumsi listrik yang dibutuhkan. Penemu lampu LED adalah Nick Holonyak Jr pada 1962.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Holonyak jauh hari telah meramalkan lampu ini akan menggantikan bola lampu karya Edison. Rekan Holonyak berpendapat ia layak mendapat hadiah Nobel untuk penemuannya. Tetapi, Holonyak hanya menjawab dengan sederhana: “Ini konyol untuk berpikir bahwa seseorang berutang sesuatu (kepada saya). Saya beruntung masih hidup ketika datang ke sana.”

Post-it notes
Dua, Post-it notes. Para pekerja perkantoran atau mereka yang kerap berurusan dengan dokumen dan pesan pada umumnya mengenal benda ini. Sepotong kertas dengan perekat di satu bagiannya, yang memudahkan pesan atau catatan ditempel, tetapi bisa dipindah atau dilepaskan sama mudahnya kemudian.

3M menjual miliaran post-it notes per tahun, tetapi para penemunya sama sekali tidak kaya dari itu. Mereka adalah Spencer Silver, yang pada 1968 mengembangkan perekat dengan karakteristik “dapat dipindahkan” dan Art Fry, yang punya gagasan tentang “catatan penunjuk” yang dapat ditempel di buku nyanyiannya.

Tiga, senapan AK-47. Senapan legendaris dan diduga paling banyak digunakan di dunia ini adalah rancangan Mikhail Kalashnikov. Dia yang juga baru saja meninggal pekan lalu merancang senapan ini setelah selesai menjalani perawatan akibat luka di Perang Dunia II. Kabar terakhir, kesehatannya sedang dalam pantauan intensif.

Empat, sapphire stylus. Mungkin ini karya yang tak lagi banyak dijumpai hari ini. Tetapi, pada masanya, alat temuan Marie Killick ini sangat bermanfaat untuk memutar piringan hitam. Pada 1958, dia pernah memenangkan gugatan untuk mendapatkan lisensi karyanya ini dari Pye, tetapi pada tahun berikutnya mengalami kebangkrutan.

Lima, hovercraft. Ini adalah kapal dengan semacam pelampung ban udara sebagai dasarnya. Sir Christopher Cockerell menggunakan vacuum cleaner dan kaleng untuk menguji teori saat ia mengembangkan hovercraft. Kapal hasil teori ini melintas pertama kali pada 1959 dari Calais ke Dover. Cockerell mendapatkan penghargaan, tetapi sempat selama bertahun-tahun harus berjuang keras sekadar untuk mendapatkan lump sum dari National Research Development Corporation.

Tetris
Enam, permainan tetris. Meski sudah masuk kategori “permainan lawas”, tetris masih dapat dijumpai sampai hari ini. Programer Rusia mengembangkan permainan ini bersama teman-temannya di pusat penelitian yang didanai Pemerintah Rusia pada 1985. Ia baru mulai mendapatkan royalti 10 tahun kemudian ketika ia mendirikan The Tetris Company.

Tujuh, the wind-up radio. Penemu peralatan ini, Trevor Baylis, baru-baru ini mengatakan dia tak lagi bisa tinggal di rumahnya di London, Inggris. Meski karyanya terjual jutaan unit ke seluruh dunia, ia tak punya kontrol, apalagi keuntungan dari produk itu. Dia berkilah tak selalu sesuatu dibuat untuk uang.

Delapan, mesin karaoke. Alat yang masih populer sampai sekarang ini dibuat oleh Daisuke Inoue. Bermula dari dia yang berhalangan datang bermain drum untuk sebuah band yang biasanya mengiringi pengunjung menyanyi. Dia buatlah apa yang sekarang disebut dengan alat karaoke itu agar para pengunjung bar itu tetap bisa bernyanyi dengan iringan musik yang sudah dia rekam terlebih dahulu. Inou tak mematenkan temuannya itu dan nyaris tak mendapatkan yen dari alat itu.

Sembilan, mp3. Bagi pengguna internet dan peralatan komputer, format mp3 sangat familiar untuk mendengarkan musik dan rekaman suara. Penemu format file suara ini adalah Karlheinz Brandenburg, yang pada 1980 merupakan mahasiswa doktoral di Jerman. Karena tak punya uang untuk mendistribusikan karyanya, dia menyebarkan format mp3 sebagai shareware, alias nyaris gratis dengan mengharap atau mematok sumbangan dari pengguna.

Sepuluh, www alias world wide web. Semua pengguna internet hari ini sangat mengenal deretan tiga huruf yang mengawali alamat sebuah situs meski kini bukan satu-satunya. Penemu prosedur internet tersebut adalah Sir Tim Berners-Lee, yang membuatnya untuk mempermudah pekerjaan para peneliti di laboratorium CERN di Eropa. Dia berpendapat, keberhasilan penyebaran temuannya ini dengan tepat adalah karena prosedur itu tersedia bebas dan gratis.

Dari karya-karya di atas, pernyataan Dr Tilly Blyth, Keeper of Engineering and Technology at the Science Museum, sepertinya mewakili. “Tidak semua penemu terdorong untuk membuat uang, tetapi beberapa ingin membuat kontribusi untuk kebaikan bersama.”

Menurut Blyth, orang-orang cenderung melihat sebuah riset dan produk sebagai pengembangan komersial. Tetapi, pada kenyataannya, ujar dia, masyarakat dan pemerintahlah yang mengantarkan sebuah penemuan sampai tahap tertentu.

“Jika melihat iPhone, Anda pikir itu sebuah penemuan besar dari Steve Jobs dan Apple. Tetapi, komponen vital seperti layar, cip, prosesor, dan asal usul mereka semua adalah dalam penelitian yang didanai pemerintah,” tutur Blyth. Banyak penelitian, tegas dia, berasal dari pikiran yang murni dan “berlangit biru”, yang dilakukan di fasilitas penelitian publik dengan tujuan kebaikan umat manusia, bukan untuk menghasilkan uang.

Sumber : BBC
Penulis dan Editor : Palupi Annisa Auliani

Sumber: Kompas, Jumat, 5 Juli 2013 | 02:47 WIB

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB