Home / Berita / Semanggi Jadi Ikon Baru

Semanggi Jadi Ikon Baru

Belasan Ribu Lampu Hias Memperindah Simpang Susun Semanggi
Permainan cahaya lampu hias mewarnai Simpang Susun Semanggi setiap malam. Belasan ribu lampu memperindah jalan baru di Ibu Kota dengan membentuk gambar beraneka tema. Harapannya, Simpang Susun Semanggi menjadi ikon baru bagi Kota Jakarta.

Dani Widiatmoko, Manajer Proyek Pengembangan Simpang Susun Semanggi dari PT Wijaya Karya, Selasa (1/8), menjelaskan, saat pembangunan, sudah dipikirkan tata cahaya di Simpang Susun Semanggi. Hal itu perlu dipersiapkan karena simpang susun yang terdiri atas dua ruas melengkung di atas simpang lama yang berbentuk daun semanggi bakal menjadi ikon baru Jakarta selain Monas.

Dani menyebutkan, konsep awal yang diusung tim lighting PT Mandala Putera Prima, mitra PT Wijaya Karya, adalah konsep water flow atau air mengalir. Adapun Wijaya Karya adalah kontraktor utama simpang susun ini.

Konsep tersebut terinspirasi dari semanggi, tanaman yang tumbuh mengambang di air. “Untuk mewujudkan tata cahaya, ada belasan ribu lampu LED yang dipasang. Kami menggunakan lampu dari Panasonic, Philips, dan produksi Lumascape, Australia,” ujar Dani.

Lampu LED yang dipesan dari Australia adalah lampu yang dipesan khusus berjumlah 1.500 unit dan dipasang di bagian bawah jembatan serta di tiang penyangga simpang susun. Lalu, 16.000 lampu dot (bulb lamp) dari Philips yang dipasang di parapet atau pagar ruas simpang susun. Ada pula lampu dari Panasonic yang dipasang di jembatan lama yang sudah ada sebelumnya.

Dani melanjutkan, tes atas ketahanan lampu sudah dilakukan di suhu minus dan suhu panas. “Ternyata lampu tetap bisa menyala bagus,” ujarnya.

Secara kasatmata, lampu-lampu hias itu tidak terlihat. Di badan simpang susun, lampu-lampu itu ditutup dengan satu material, juga untuk menjaga supaya cahaya tidak menyebar ke mana-mana.

Belasan ribu lampu hias itu dipasang dengan cara membagi lampu-lampu ke dalam grup-grup. Grup-grup lampu itu dikumpulkan dalam panel-panel dan membutuhkan daya 125 kilowatt untuk menyala. Listrik yang dibutuhkan ini dinilai cukup efisien.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Belasan ribu lampu hias dipasang di Simpang Susun Semanggi, Jakarta, seperti terlihat Jumat (28/7) malam. Lampu hias itu dikendalikan dari jarak jauh dan bisa menampilkan aneka jenis gambar dengan tema tertentu. Simpang Susun Semanggi tidak hanya dimanfaatkan untuk mengurangi kemacetan di kawasan itu, tetapi juga diproyeksikan sebagai ikon baru Kota Jakarta. Selain lampu hias, lampu penerangan jalan juga ditempatkan di sejumlah lokasi di seputar kawasan ini.

Selain lampu hias, masih ada lagi lampu penerang jalan yang disiapkan di sekitar Simpang Susun Semanggi.

“Artlighting tujuannya bukan untuk penerangan sehingga kami juga memasang lampu penerangan jalan dan menambah lagi 4 high mast (lampu bertiang) dari jumlah yang sudah ada 12 tiang,” ujar Dani.

Kendali jarak jauh
Warna dasar lampu hias ini adalah merah, hijau, dan biru. Warna dasar itu lantas dicampur untuk menghasilkan gradasi warna lain. Dari lampu warna merah saja bisa menghasilkan gradasi jutaan warna.

“Dengan kemampuan lampu jenis itu, tim lighting dari PT Mandala Putera Prima malah menjawab tantangan tentang animasi. Bukan hanya satu jenis atau tema, melainkan bisa bervariasi. Menjelang peresmian pada 17 Agustus, sudah ada konsep mengenai hari kemerdekaan yang muncul,” ujar Dani.

Tata cahaya simpang susun, lanjut Dani, diatur dari ruang server yang disiapkan.

“Di sana ada komputer yang kami pasangi software untuk mengintegrasikan panel per grup lampu sehingga seorang programmer bisa mengeset lampu secara manual di ruang server dan juga mengintegrasikan server yang berbasis web itu ke Jakarta Smart City. Dengan demikian, teman-teman di Jakarta Smart City tanpa datang ke lokasi bisa mengatur animasi atau mengoperasikan bentuk-bentuk,” ujar Dani.

Kepala Unit Pengelola Jakarta Smart City Setiaji menjelaskan, untuk bisa mengintegrasikan gambar dari lampu hias itu, ada sensor berbasis teknologi informasi yang dipasang di lampu. Dengan sistem TI dari ruangan di Jakarta Smart City, pengaturan tata cahaya atau tulisan bisa dilakukan oleh operator.

“Sekarang ini kami tengah menyiapkan sistem untuk integrasi itu, juga masalah keamanannya,” ujar Setiaji.

Menjelang peresmian, pakar tata cahaya dari perusahaan Lumascape, Australia, juga bakal datang serta membantu tim lighting dari Wijaya Karya dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memastikan ketepatan instalasi dan tata cahaya.

“Sekarang kami masih menyempurnakan program animasinya,” ujar Dani.

Ia berharap programmer Pemprov DKI Jakarta bisa menyiapkan tema-tema animasi yang cukup kreatif supaya tata cahaya kian menarik. (HLN)
—————————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Agustus 2017, di halaman 25 dengan judul “Semanggi Jadi Ikon Baru”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: