Home / Berita / Dua Ekosistem dalam Satu Perangkat

Dua Ekosistem dalam Satu Perangkat

Setiap sistem operasi yang tersemat dalam perangkat memiliki fungsi dan tujuan sendiri sesuai fitur teknologi dan spesifikasi perangkat keras. Kombinasi tersebut menciptakan ekosistem atau portofolio aplikasi yang bisa dipasang ke perangkat dengan sistem operasi tertentu.

Saat ini terdapat tiga ekosistem sistem operasi arus utama yang mendominasi perangkat telekomunikasi bergerak ataupun komputer, yakni Windows, Android, dan iOS. Tentu hal itu belum mencakup nama lain, seperti Linux atau Tizen yang dikembangkan Samsung untuk perangkat elektronik pintar mereka.

Itulah mengapa setiap ekosistem memiliki pengguna sendiri, dipakai sesuai gaya hidup atau produktivitas masing-masing. Windows banyak dipakai untuk mengolah dokumen. Sementara Android dan iOS lebih banyak dipakai untuk kebutuhan hiburan dan terhubung dengan jejaring media sosial.

Emulasi
Perbedaan tidak menghalangi niat untuk menggabungkan dua ekosistem menjadi satu. Yang paling jamak ditemukan adalah menjalankan sistem operasi Android dalam sistem operasi Windows. Tujuannya sederhana, mendapatkan manfaat dari dua hal dalam satu unit perangkat.

Ada beberapa layanan yang menawarkan fungsi emulasi atau meniru cara kerja Android di atas sistem operasi Windows. Nama yang banyak disebut, misalnya Bluestacks, Andy, dan Genymotion, menawarkan pengguna untuk menikmati Android yang dijalankan di komputer Windows dalam berbagai versi. Ada yang beroperasi di Jelly Bean dan ada yang sudah Lollipop.

efd8c9ff92e243e08ba200cab8c4e1f4KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Menggunakan sistem operasi berbeda dalam satu perangkat kini makin mudah dilakukan, Senin (13/6). Beberapa produsen elektronik sudah menyiapkannya sejak dipasarkan kepada konsumen. Keuntungan menggunakan sistem operasi berbeda adalah mendapatkan manfaat dari setiap ekosistem aplikasi dan layanan untuk mendukung aktivitas pengguna.

Yang menarik, sebagian besar bisa dinikmati tanpa mengeluarkan biaya. Tinggal mengunduh file utama dan dipasang, ekosistem kedua pun sudah bisa dipergunakan di komputer.

Harga yang harus dibayar tidaklah sedikit. Menjalankan sistem operasi lain di atas sistem operasi yang ada akan menguras sumber daya komputer, seperti memori dan penyimpanan internal. Yang dilakukan dalam emulasi Android oleh komputer adalah membuat perangkat virtual dalam kerja komputasi komputer yang berproses layaknya perangkat Android.

Itu sebabnya, sumber daya komputasi lantas terbagi dua, satu menjalankan perangkat virtual dan satu lagi menjalankan komputer itu sendiri. Singkat kata, emulasi Android hanya bisa dilakukan oleh perangkat yang memiliki daya komputasi tinggi.

Konsekuensi lain adalah pengalaman pengguna yang akan berbeda sehingga bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Android adalah sistem operasi yang sepenuhnya dijalankan dengan sentuhan jari di layar, sementara komputer masih banyak mengandalkan input dari tetikus atau papan tuts. Memberikan input berupa sentuhan lewat klik tombol tetikus bisa dilakukan, tetapi tidak terasa natural bagi penggunanya.

Orientasi layar juga jadi masalah tersendiri. Orientasi monitor komputer lazimnya adalah landscape atau memanjang, sementara layar gawai Android bisa dioperasikan baik secara landscape maupun portrait atau meninggi.

Beberapa aplikasi Android yang dipaksa untuk berjalan di layar komputer tidak bisa beralih orientasi dari portrait ke landscape. Biasanya hal ini diselesaikan oleh layanan emulasi yang memaksa untuk memutar layar agar nyaman dilihat.

Belum lagi emulasi yang dilakukan terkadang tidak mampu menjembatani semua aplikasi Android untuk dijalankan menggunakan cara tersebut. Tantangan ini biasanya diselesaikan oleh penyedia layanan dengan menghadirkan dukungan yang spesifik terhadap judul aplikasi tertentu sesuai masukan dari pengguna mereka.

Alasan dari penggunaan emulasi adalah mereka yang ingin menggunakan beberapa layanan aplikasi tertentu lewat komputer tanpa harus beralih melihat ke layar gawai, terlebih mengakses aplikasi atau permainan yang hingga kini belum tersedia di sistem operasi Windows.

Fitur emulasi lebih banyak dimanfaatkan oleh para pengembang aplikasi untuk sistem operasi Android. Layanan ini bisa memudahkan mereka untuk menguji kestabilan dari aplikasi buatan mereka tanpa harus memiliki perangkat uji coba. Salah satu kendala dari pengembangan aplikasi Android adalah fragmentasi perangkat akibat begitu banyak vendor yang memproduksi produk dengan sistem operasi ini. Pengembang harus memastikan bahwa aplikasi yang akan diluncurkan ke pasar aplikasi digital, seperti Play Store, bisa dijalankan pada sebagian besar perangkat yang ada di pasar.
efd8c9ff92e243e08ba200cab8c4e1f4KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Windroid adalah seri produk komputer jinjing dari Axioo yang memungkinkan pengguna mengoperasikan perangkat dengan dua sistem operasi berbeda, yakni Windows dan Android, Senin (13/6). Dengan harga sekitar Rp 3 juta, produk ini terjangkau untuk melakoni beberapa aktivitas ringan, seperti mengetik dan berselancar internet.

Sistem operasi
Metode lain yang bisa ditempuh untuk mencicipi dua ekosistem dalam satu perangkat adalah memasang sistem operasi untuk komputer yang berbasis Android. Satu nama yang baru-baru ini meluncurkan layanan tersebut adalah Jide dengan sistem operasi Remix OS. Pada dasarnya pengguna memasang satu sistem operasi di samping yang sudah terpasang di komputer. Setiap kali komputer dinyalakan, muncul pilihan untuk menggunakan sistem operasi yang mana.

Cara ini lebih baik karena sumber daya komputasi bisa dialokasikan lebih efisien ketimbang menciptakan perangkat virtual di atas sistem operasi yang sedang berjalan. Remix OS ini sendiri terus mendapat pembaruan untuk mendapat peningkatan kemampuan dan fitur.

Sewaktu Kompas mencoba sistem operasi ini, Remix OS tidak sekadar memindahkan tampilan antarmuka Android ke komputer, tetapi juga membuat Android yang dioperasikan menggunakan input dari tetikus dan papan tuts. Sekilas layar utama dari sistem operasi ini terlihat seperti Windows. Namun, perbedaan akan terlihat begitu membuka layanan Play Store, komputer yang digunakan bisa dipakai untuk mengunduh aplikasi-aplikasi yang selama ini hanya tersedia untuk perangkat.

Tidak hanya emulasi, Remix OS juga memiliki fitur yang tidak ada di Android saat ini, yakni bekerja dengan beberapa aplikasi sekaligus. Di perangkat Android, pengguna bisa bertukar aplikasi, namun hanya bisa fokus pada satu layar. Remix OS memperbaiki hal tersebut dengan jendela-jendela berisi aplikasi yang bisa berdampingan sehingga pengguna bisa bekerja lebih cepat dan efektif.

Saat ini, pemasangan Remix OS terbilang sederhana, yakni mengunduh file untuk kemudian dipasang di komputer. Nantinya akan ada partisi atau pemisah pada penyimpanan internal komputer antara sistem operasi awal dan sistem operasi ini. Setiap kali komputer dinyalakan, ada pilihan sistem operasi yang akan dipakai pengguna.

Alternatif untuk Remix OS yang bisa dicoba adalah Phoenix OS yang dikembangkan oleh tim dari Tiongkok. Kendala yang muncul dari sistem operasi ini adalah bahasa yang sulit dipahami kebanyakan pengguna serta belum ada dukungan dari Play Store sehingga beberapa layanan Google akan sulit dijalankan.

Vendor
Komputer yang datang dari vendor langsung dengan dua sistem operasi sebetulnya juga tersedia di pasar, termasuk Indonesia. Namun, hanya ada segelintir yang konsisten merilis produk dengan dua sistem operasi ini. Salah satunya adalah Axioo yang memiliki lini produk Windroid. Dalam setahun terakhir, mereka merilis dua seri produk, yakni Windroid 9G Plus dan Windroid 10G Plus, masing-masing dengan ukuran layar 9 inci serta 10 inci.

Pilihan sistem operasi sudah tersedia setiap kali menyalakan perangkat, yakni Windows 10 dan Android Kitkat. Dengan monitor layar sentuh, pengguna bisa mengoperasikan Android layaknya memegang sabak elektronik. Beberapa tombol pintasan dari papan tuts yang biasa dipakai oleh sistem operasi Windows juga bisa dioperasikan di Android, seperti menyalin, memasang, atau berganti aplikasi secara cepat.

Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan penyimpanan internal. Karena tidak terintegrasi, kapasitas penyimpanan perangkat ini nyaris habis terbagi dua untuk memasang dua sistem operasi berbeda.

Begitu pula dengan kendala yang dialami seluruh teknologi emulasi, yakni file yang disimpan di satu sistem operasi tidak bisa dipindahkan secara langsung ke sistem operasi lain kecuali lewat perangkat fisik, seperti batang flashdisk, atau lewat layanan penyimpanan di awan.

Harga jual perangkat sekitar Rp 3 juta membuat Windroid ini menjadi solusi perangkat bergerak yang menawarkan kelebihan Windows dan Android. Begitu pula dengan alternatif yang sudah disebutkan sebelumnya, masing-masing memiliki konsekuensi sesuai kebutuhan dari para pengguna yang ingin menikmati manfaat dua ekosistem dalam satu perangkat.–DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Juni 2016, di halaman 24 dengan judul “Dua Ekosistem dalam Satu Perangkat”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: