Home / Profil Ilmuwan / Temuan Peraih Nobel Allison dan Honjo, Amunisi Baru untuk Perangi Kanker

Temuan Peraih Nobel Allison dan Honjo, Amunisi Baru untuk Perangi Kanker

Lebih dari 100 tahun para ilmuwan berupaya memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker yang ganas. Pengembangan pendekatan ini tidak begitu sesuai harapan sampai akhirnya dua pakar imunologi dari dua benua yang berbeda melakukan riset tentang itu. Mereka adalah, James P Allison dari Amerika Serikat dan Tasuku Honjo dari Jepang.

Hasil penemuan keduanya menjadi amunisi baru bagi para klinisi di dunia untuk memenangkan perang melawan kanker dan menyelamatkan lebih banyak lagi nyawa manusia.

Di bidang kedokteran dua hasil penemuan keduanya kemudian lebih dikenal dengan immune checkpoint therapy. Cara ini tidak menyasar langsung sel kanker yang ganas untuk dihancurkan melainkan menstimulasi sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker.

Pendekatan ini ternyata mampu secara fundamental mengubah hasil pengobatan kanker, terutama untuk kelompok pasien dengan kanker yang sudah menyebar (metastasis).

Terapi dengan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh tersebut atau imunoterapi pun menjadi pilar keempat terapi kanker setelah operasi, radiasi, dan obat anti-kanker. Atas dedikasi tak kenal lelah yang menghasilkan pendekatan berharga dalam menangani kanker itu James dan Honjo dianugerahi Hadiah Nobel Fisiologi/ Kedokteran tahun 2018.

REUTERS–James P Allison, profesor di University of Texas MD Anderson Cancer Center, Houston, Texas, Amerika Serikat, yang diambil gambarnya pada 1 Oktober 2018 (kanan) dan Tasuku Honjo, profesor di Kyoto University, Jepang, yang diambil gambarnya pada 17 September 2018.

“Penghargaan ini adalah impian seumur hidup. Saya tidak tahu harus berkata apa, saya tertegun begitu mendengarnya,” kata James ketika menjawab telepon dari Adam Smith, perwakilan Komite Nobel dari Stockholm, Swedia.

Saat pengumuman pemenang Hadiah Nobel dilakukan, Senin (1/10/2018) di Karolinska Institutet, Stockholm panitia belum berhasil mengontak James dan menyampaikan kabar gembira ini.

James baru mengetahui dirinya mendapat Hadiah Nobel ketika seorang wartawan dari Swedia mengontaknya pagi hari dan anaknya pun meneleponnya dan memintanya untuk melihat televisi.

Saat pengumuman disampaikan kepada publik James ternyata sedang berada di New York menghadiri sebuah konferensi imunologi. Begitu kabar bahagia itu tersiar akhirnya James dan koleganya berkumpul di hotel tempat mereka menginap dan merayakannya.

Sangat berarti
Sementara itu, kepada Adam Smith, Honjo menyampaikan bahwa dirinya bahagia dan merasa terhormat mendapat Hadiah Nobel. Lebih dari itu, pria asal Kyoto itu bahagia karena berkat hasil penelitiannya ada banyak lagi nyawa terselamatkan.

“Bagi saya lebih dari bahagia rasanya bertemu pasien dan mereka mengatakan bahwa saya sudah menyelamatkan nyawanya. Adalah bagian paling menyenangkan mengetahui apa yang kita lakukan sangat berarti bagi banyak orang,” tutur Honjo.

Kiprah James dimulai ketika di tahun 1990-an ia melakukan riset salah satu protein sel T, yaitu CTLA-4, di laboratoriumnya di University of California, Barkeley, Protein itu berfungsi seperti rem yang menghambat aktivasi sel T dalam melawan sel kanker. Sel T merupakan salah satu jenis sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh kita.

Allison mengembangkan antibodi yang bisa menempel pada CTLA-4 dan menghambat fungsinya. Begitu fungsi CTLA-4 terhalang antibodi ini, sistem kekebalan tubuh melalui sel T bisa optimal melawan sel-sel kanker.

Beberapa tahun sebelum Allison mengembangkan anti-CTLA-4, di Jepang, Honjo juga menemukan protein lain yang ada pada permukaan sel T, yaitu protein PD-1. Setelah serangkaian uji coba bertahun-tahun, diketahui ternyata PD-1 memiliki fungsi yang sama dengan CTLA-4, yakni menghambat sel T dalam memerangi sel kanker.

Pada tahun 2012, studi penting menunjukkan efikasi terapi dengan menghalangi PD-1 bekerja pada beberapa jenis kanker, termasuk pada kasus kanker yang metastasis dan semula dianggap tak bisa lagi diatasi.

Allison menghabiskan puluhan tahun karirnya sebagai peneliti imunologi meneliti mekanisme sel T. Salah satu hasil riset yang dinilai berhasil adalah pengembangan ipilimumab, antibodi monoklonal pertama yang disetujui oleh Food and Drugs Administration (FDA), Amerika Serikat.

Kolega Allison di University College London, Prof Sergio Quezada menggambarkan Allison sebagai sosok pria yang luar biasa, rendah hati, mentor yang fantastis, juga pemain harmonika yang mahir. Ketika menelepon Allison, Adam Smith sangat berharap Allison memainkan harmonikanya saat prosesi pemberian Hadiah Nobel, Desember nanti di Stockholm.

Adapun Honjo lahir di Kyoto 76 tahun yang lalu. Honjo banyak menghabiskan masa kecilnya di Kota Ube, Perfektur Yamaguchi. Semasa anak-anak ia gemar beraktivitas di luar ruang dan menjalani ketertarikannya pada penelitia dengan mengamati Saturnus dan membaca biografi bakteriologis terkenal asal Jepang, Hideyo Noguchi (1876-1928).

Meski berhasil meletakkan pondasi imunoterapi, Honjo merasa masih perlu banyak penelitian untuk semakin menyempurnakan terapi kepada pasien kanker yang lebih beragam. Selain itu, efikasi imunoterapi pun masih perlu ditingkatkan.

“Penelitian imunoterapi ini hanya permulaan dari sebuah cerita. Kita perlu banyak orang untuk terus mengembangkan terapi ini,” ujarnya.

James P Allison
Lahir: Alice, Texas, AS, 7 Agustus 1948

Pendidikan:
PhD dari University of Texas tahun 1973
Postdoctoral fellow di The Scripps Clinic and Research Foundation, La Jolla, California (1971-1974)
Investigator pada Howard Hughes Medical Institute (1997-2012)
Raih gelar professor dari University of Texas MD Anderson Cancer Center, Houston, Texas (2012)

Pekerjaan:
Pengajar di University of Texas System Cancer Center (1977-1984)
Pengajar di University of Barkeley (1985-2004)
Bekerja di Memorial Sloan- Kettering Cancer Center, New York (2004-2012)
University of Texas MD Anderson Cancer Center, Houston, Texas
Direktur Parker Institute for Cancer Immunotherapy, San Francisco, California

Penghargaan:
Hadiah Nobel Fisioterapi/ Kedokteran (2018)
Medal of Honor of Basic Research, American Cancer Society (2015)
Tang Prize untuk sains biofarmasetika (2014)

Tasuku Honjo
Lahir: Kyoto, Jepang, 27 Januari 1942

Pendidikan
Mendapat gelar dokter (1966)
Research fellow di Carnegie Institution of Washington, Baltimore (1971-1974) dan National Institutes of Health, Bethesda, Maryland, AS (1971-1974)
PhD dari Kyoto University (1975)
Pengajar di Tokyo University (1974-1979)
Pengajar di Osaka University (1979-1984)
Professor imunologi dan kedokteran genomik di Kyoto University (1984- sekarang)

Pekerjaan
Dekan Fakultas Kedokteran Kyoto University (1996-2000, 2002-2004)

Penghargaan
Hadiah Nobel Fsisioterapi/ Kedokteran (2018)
Kyoto Prize untuk sains dasar (2016): Tang Prize (2014)
(nobelprize.org/theguardian/japantimes.co.jp)

ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 3 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: