Imunoterapi Kian Menjanjikan

- Editor

Senin, 6 November 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Riset agar Kian Efektif bagi Semua Jenis Kanker
Terapi kanker dengan imunoterapi merupakan terobosan medis yang menjanjikan bagi pasien kanker yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Terapi itu diyakini akan menjadi terapi masa depan karena hasilnya terbukti aman dan efektif.

Di sela-sela seminar ilmiah berseri Dr Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2017 di Jakarta, Sabtu (4/11), Ketua Yayasan Kanker Indonesia Prof Aru Sudoyo mengatakan, riset dan pengembangan terapi dengan metode imunoterapi baru berkembang satu dekade terakhir. Imunoterapi jadi terapi paling mutakhir bagi kanker setelah terapi target.

Selama ini penanganan kanker dilakukan dengan menghancurkan langsung kanker di tubuh pasien. Caranya beragam, mulai dari operasi, kemoterapi, hingga radiasi. Ilmu pengetahuan bidang kedokteran berkembang sampai muncul cara lain menangani kanker, seperti terapi target dan yang terakhir ialah imunoterapi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Prinsipnya, imunoterapi adalah cara menghancurkan sel kanker dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh pasien itu sendiri. Caranya bisa dilakukan melalui obat dan darah. “Imunoterapi 10 tahun terakhir ini mulai berkembang. Di luar negeri pun aplikasi imunoterapi baru lima tahun terakhir dimulai. Di Indonesia juga baru mulai, yakni obat pembrolizumab,” kata Aru.

Pembrolizumab adalah obat kanker paru stadium lanjut. Obat itu mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak Juni 2017.

Cara konvensional
Menurut Direktur Stem Cell and Cancer Institute yang juga Ketua Umum DBSDLS 2017 Sandy Qlintang, imunoterapi akan jadi dasar terapi masa depan menggantikan obat dan terapi konvensional. Mayoritas terapi kanker saat ini dengan cara konvensional, langsung membunuh sel kanker. Terapi ini efektif membunuh sel kanker, tapi efek sampingnya masih jadi kendala.

Terapi kanker dengan metode imunoterapi menjanjikan. Terapi itu dilakukan dengan memanfaatkan spesifitas, kapasitas memori, dan sel-sel kekebalan tubuh demi mengenali sel target sehingga lebih aman, efektif, dan berefek bagus dalam jangka panjang untuk semua jenis kanker.

Sejumlah produk hasil terapi imunoterapi bagi kanker telah dihasilkan dan lolos uji klinis dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat. Salah satunya adalah monoklonal antibodi pada molekul immune checkpoint inhibitor. Selain itu, ada sejumlah terapi imunoterapi berbasis sel.

Prof Soo Khee Chee dari National Cancer Center Singapura menambahkan, dari perspektif ahli bedah, imunoterapi sebaiknya sebagai terapi tambahan atau diaplikasikan pada pasien kanker stadium awal. Itu meningkatkan angka keberhasilan pengobatan.

Acara DBSDLS menghadirkan sejumlah pakar imunoterapi, di antaranya Prof Malcolm K Brenner dari Baylor College of Medicine, Texas, AS, yang menjelaskan rekayasa genetika mengatasi kanker. Prof Stephen J Russell dari Mayo Clinic, Rochester, Minnesota, AS, memaparkan riset imunoterapi dengan virus hasil rekayasa. (ADH)

Sumber: Kompas, 6 November 2017

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB