Home / Berita / Teknologi Digital Mendukung Pembelajaran Siswa

Teknologi Digital Mendukung Pembelajaran Siswa

Teknologi digital dapat menjadi alat bantu bagi siswa dalam proses pembelajaran di sekolah dan saat belajar mandiri di rumah. Namun, hal itu perlu pendampingan guru dan orangtua agar siswa dapat memanfaatkan gawainya dengan tepat.

Anggota Komisi Pendidikan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia yang juga Pendiri klikcoaching.com, Budy Sugandi, mengatakan, kombinasi antara metode pembelajaran konvensional dan penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran dibutuhkan.

PANDU WIYOGA UNTUK KOMPAS–Siswi SMA Muhammadiyah 12 Jakarta menunjukkan aplikasi kelas maya Quipper yang mereka gunakan sebagai sarana belajar, Jumat (15/2/2019), di Jakarta. Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk membantu murid dalam proses pembelajaran di sekolah ataupun belajar mandiri di rumah.

”Dalam hal ini, peran guru dalam mendukung siswa untuk menggunakan teknologi digital sangat dibutuhkan,” kata Budy di Jakarta, Minggu (3/3/2019). Ia menekankan, guru tidak dapat lagi menjadi orang yang selalu di depan dan hanya mengajar secara satu arah.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Budy Sugandi

Menurut Budy, dalam pembelajaran perlu ada diskusi, ditambah dengan program tambahan. Guru dapat memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti menggunakan telepon genggam, sebagai alat proses belajar lanjutan.

Ia mengatakan, telepon genggam akan dapat lebih bermanfaat bagai pelajar jika tidak hanya digunakan untuk membuka media sosial atau bermain saja. Telepon genggam dapat digunakan sebagai alat bantu proses belajar dengan memanfaatkan aplikasi digital yang berkaitan dengan pendidikan.

Melalui aplikasi digital tersebut, pelajar dapat belajar mengerjakan latihan soal, melihat video pembelajaran, atau belajar bahasa. ”Hal ini butuh proses karena belajar perlu berpikir, beda dengan bermain atau melihat video hiburan yang sifatnya untuk kesenangan,” ujar Budy.

Karena itu, peran orangtua dalam mendampingi anaknya juga dibutuhkan. Hal tersebut berguna agar anak-anak dapat memanfaatkan gawainya dengan tepat dan dapat mengatur waktu dengan baik. Anak juga perlu bersosialisasi dengan teman sebayanya agar tidak menjadi egois.

Permasalahan yang ada saat ini, yaitu tidak semua guru mampu mengikuti perkembangan teknologi dengan baik, terutama di daerah perdesaan. Hal tersebut menjadi tantangan pemerintah untuk mengedukasi guru yang ada di pedesaan.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu mengubah metode pembelajaran di sekolah. Menurut Budy, waktu belajar di Indonesia lebih panjang daripada di negara maju, seperti Singapura dan Korea Selatan. Namun, kualitas pendidikan di Indonesia kalah maju dibandingkan dengan kedua negara tersebut.

Ia mengatakan, pelajar di Indonesia tidak dapat menyerap semua materi dan memahaminya, sedangkan pelajar di kedua negara tersebut dapat menyerap semua materi dengan maksimal. Karena itu, metode pendidikan di Indonesia perlu dibuat lebih efektif .

Belajar mandiri
Pada era perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, siswa dapat belajar mandiri dengan memanfaatkan aplikasi digital terkait dengan pendidikan. Guru Matematika SMA Kolese Kanisius, Rindu Rumapea, mengatakan, beberapa kali ia menyampaikan kepada muridnya bahwa mereka dapat belajar dari berbagai sumber belajar secara daring, seperti ruangguru, brainly, dan quipper, yang mudah diakses dan materinya lengkap.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dapat dibantu dengan teknologi. Melalui PGRI Smart Learning Center, para guru diperkuat pedagogi siber/digital dalam pembelajaran di era digital.

Siswa juga dapat menggunakan Youtube untuk belajar. Rindu pun menggunakan aplikasi digital dalam menyampaikan materi pembelajaran di kelas. Ia menggunakan aplikasi Photomath dan Geogebra. Kedua aplikasi ini khusus untuk pembelajaran matematika.

Photomath bisa menyelesaikan banyak soal matematika yang disertai dengan cara mengerjakannya. Adapun aplikasi Geogebra bisa membantu siswa belajar memahami terkait grafik. ”Saya juga mengajar siswa membuat soal baru dengan memodifikasi soal yang saya berikan menggunakan aplikasi tersebut sehingga siswa memiliki banyak soal latihan tanpa terbatas pada soal yang saya berikan,” ujar Rindu.

Beberapa aplikasi tersebut sangat membantu siswa untuk belajar, terutama belajar secara mandiri. Siswa juga semakin termotivasi untuk menguji kemampuannya sendiri dengan membuat soal sendiri dan menjawabnya tanpa perlu mengonfirmasi kepada guru mengenai jawaban yang benar. Meskipun demikian, tidak semua soal matematika dapat diselesaikan oleh aplikasi tersebut.

Peran guru tetap dibutuhkan dalam pembelajaran menggunakan aplikasi digital. Contohnya, guru perlu membuat kesepakatan dengan siswa mengenai penggunaan telepon genggam, khusus untuk mengakses aplikasi terkait pembelajaran saja dan menyampaikan konsekuensi yang diterima siswa jika kesepakatan dilanggar. Guru juga perlu mempraktikkan penggunaan aplikasi dan bagaimana memodifikasi soal untuk membuat soal baru atau soal yang lebih kompleks.

Selain itu, guru mengingatkan siswa bahwa aplikasi digunakan untuk membantu belajar sehingga siswa diminta menyelesaikan soal terlebih dulu, kemudian mengecek jawaban menggunakan aplikasi. Ketika siswa mengalami kesulitan menyelesaikan soal, siswa dapat melihat cara penyelesaian soal dengan membuka aplikasi.

PANDU WIYOGA UNTUK KOMPAS–Sejumlah siswi SMA Muhammadiyah Jakarta mencoba aplikasi Rumah Belajar, Jumat (15/2/2019), di Jakarta.

Salah seorang pelajar kelas X di Sekolah Menengah Atas Kolese Kanisius Jakarta, Frederic Bryan Eunrico Windratno, menceritakan pengalamannya saat belajar menggunakan aplikasi ruangguru. ”Pada awalnya saya tertarik belajar menggunakan ruangguru karena anjuran teman dan dorongan orangtua,” ujar Bryan.

Ia tertarik menggunakan aplikasi tersebut karena mendapatkan rangkuman materi dan video pembelajaran. Saat mengalami kesulitan, ia dapat bertanya kepada guru pendamping melalui kanal ruangles yang ada di ruangguru. Di kanal tersebut, ia dapat mencari guru sesuai dengan kebutuhannya.

Di kanal ruangles, Bryan dapat berinteraksi langsung dengan guru pendamping menggunakan digital bootcamp. Untuk memilih guru yang cocok, ia dapat mencoba terlebih dulu. Jika tidak cocok, ia dapat mencari guru pengganti.

”Biasanya saya belajar melalui ruangles pada pelajaran Matematika karena kalau belajar menggunakan materi yang ada, saya sulit memahaminya. Jadi, perlu guru yang mendampingi,” ujar Bryan.

Selain menggunakan ruangles, ia juga terbiasa belajar pada kanal ruangbaca dan ruangbelajar untuk mencari materi serta tips yang membantu proses belajar. Menurut Bryan, dirinya sangat terbantu dengan metode pembelajaran melalui aplikasi digital karena lebih mendalam. ”Kalau belajar di kelas, waktunya terbatas dan banyak murid lain yang harus dibimbing oleh guru,” ujarnya.

Bryan pun merasa nilainya semakin membaik ketika menggunakan aplikasi digital dalam belajar. Ia dapat mengejar materi di sekolah yang memiliki target tinggi. Selain matematika, ia juga menggunakan ruangguru untuk belajar mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi, dan pelajaran lainnya.

ANTARA/ROSA PANGGABEAN–Pendiri Go-Jek Indonesia, Nadiem Makarim (kiri), dan pendiri startup Ruangguru, Adamas Belva Syah, menghadiri rapat terbatas tentang Pendidikan Vokasi dan Implementasinya di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/11/2017). Presiden berharap agar pembangunan pendidikan di Indonesia dapat relevan dengan perubahan dunia terutama pada bidang teknologi digital.

Product and Business Operations Manager Ruangguru Nurfaridah mengatakan, ruangles mempertemukan murid dengan guru. ”Murid sering kesulitan mencari guru yang sesuai dengan kebutuhannya. Di sisi lain, guru kesulitan mencari tempat untuk membuka les dan mencari murid,” kata Nur.

Dari permasalahan tersebut, ruangles dibuat. Murid dapat melihat profil guru yang dikehendaki dan memilih sesuai kebutuhannya. Guru yang dipilih akan mendapatkan notifikasi untuk meresponsnya.

Ketika sudah sesuai dengan pilihannya, guru dapat langsung datang ke murid yang membutuhkannya atau dapat belajar menggunakan aplikasi digital. Selain untuk membantu mengerjakan tugas sekolah, guru juga dapat mengunggah soal untuk dikerjakan oleh murid sebagai latihan.

Ruangles juga menyediakan sistem pembelajaran dengan menggunakan digital bootcamp. Murid akan masuk di dalam kelompok dan mereka disediakan satu fasilitator dan satu guru. Mereka dapat belajar bersama-sama untuk mempersiapkan ujian atau untuk latihan mengerjakan soal.–PRAYOGI DWI SULISTYO

Sumber: Kompas, 3 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: