Home / Berita / Lebih dari 849 Juta Siswa di Dunia Belajar di Rumah

Lebih dari 849 Juta Siswa di Dunia Belajar di Rumah

Jumlah negara yang menerapkan libur sekolah terkait Covid-19 terus bertambah. Dampaknya, lebih dari 849 juta siswa terdampak. UNESCO pun menyiapkan rencana kontigensi untuk mengatasi masalah pendidikan ini.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Mahasiswa mengakses internet di perpustakaan Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020). Untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19, Universitas Indonesia mengeluarkan kebijakan pembelajaran jarak jauh.

Jumlah negara yang menerapkan kebijakan libur sekolah untuk menahan laju penyebaran virus korona baru terus bertambah dari 100 negara menjadi 112 negara pada Rabu (18/3/2020). Delapan negara baru yang memulai libur sekolah pada Kamis (19/3/2020) ialah Malaysia, Thailand, Jerman, Austria, Meksiko, Afrika Selatan, Yaman, dan Zambia.

Dari 112 negara tersebut, 101 negara menerapkan libur sekolah secara nasional, yaitu delapan negara tersebut dan juga Kamboja yang hari Selasa (17/3/2020) baru menerapkan libur sekolah di satu kota. Sementara 11 negara lainnya, termasuk Indonesia, menerapkan libur sekolah di wilayah-wilayah tertentu. Di China sejumlah sekolah mulai aktif kembali meski sebagian besar masih meliburkan siswanya.

Dengan bertambahnya jumlah negara yang menerapkan libur sekolah tersebut, berdasarkan data Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), paling tidak 849,4 juta siswa dan mahasiswa terdampak pandemi Covid-19. Jumlah itu belum termasuk siswa dan mahasiswa dari 11 negara yang baru menerapkan libur sekolah di wilayah-wilayah tertentu.

Jumlah negara di dunia, yang tercatat di PBB, sebanyak 193 negara dan dua negara pengamat, yaitu Vatikan yang berada di Roma (ibu kota Italia) serta Palestina. UNESCO memberikan dukungan negara-negara yang menerapkan kebijakan libur sekolah tersebut menjalankan pembelajaran jarak jauh dan memfasilitasi kesinambungan pembelajaran, terutama bagi mereka yang paling rentan.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Suasana lengang di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020). Untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19, Universitas Indonesia mengeluarkan kebijakan pembelajaran jarak jauh mulai efektif Rabu, 18 Maret 2020, hingga berakhirnya semester genap tahun ajaran 2019/2020 pada Juni 2020.

Rencana kontigensi
Selain menerbitkan daftar aplikasi dan platform pembelajaran yang dapat diakses secara bebas oleh orangtua, guru, peserta didik, dan sekolah, UNESCO juga mengoordinasi 173 anggota Global Network of Learning Cities (GNLC) di seluruh dunia untuk menghadapi tantangan berat di bidang pendidikan karena pandemi Covid-19 ini.

Untuk membahas rencana kontingensi dan berbagai pendekatan pembelajaran jarak jauh, anggota GNLC UNESCO akan mengadakan dua webinar yang diselenggarakan oleh Institut UNESCO untuk Pembelajaran Seumur Hidup (UIL), pada Kamis (19/3/2020) dan Selasa (24/3/2020). Kota-kota non-anggota GNLC juga diundang untuk bergabung dalam rapat yang akan dilaksanakan menggunakan aplikasi Skype ini untuk berbagi pengalaman dan belajar dari kota-kota lain.

UNESCO juga membagikan 10 rekomendasi untuk memastikan proses belajar-mengajar tidak terganggu selama periode libur sekolah ini. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan penggunaan teknologi berdasarkan keandalan pasokan listrik, konektivitas internet, dan keterampilan digital para guru dan siswa. Setelah itu, memastikan siswa memiliki akses ke program pembelajaran jarak jauh.

Privasi dan keamanan data harus menjadi perhatian dengan memastikan bahwa penggunaan aplikasi dan platform pembelajaran digital tidak melanggar privasi data siswa. Guru atau pihak sekolah juga harus memprioritaskan solusi untuk mengatasi tantangan psikososial yang mungkin dihadapi siswa ketika mereka harus belajar di rumah.

Langkah selanjutnya, mengatur jadwal studi program pembelajaran jarak jauh, tergantung kebutuhan siswa dan ketersediaan orangtua. Putuskan apakah program pembelajaran jarak jauh akan fokus pada pengajaran materi baru atau meningkatkan pengetahuan siswa tentang pelajaran sebelumnya.

Pelatihan singkat atau sesi orientasi bagi guru dan orangtua mungkin diperlukan agar proses pembelajaran jarak jauh dapat berlangsung lancar. Terkait penggunaan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh, hal itu jangan sampai membebani siswa dan orangtua, misalnya dengan meminta mereka mengunduh dan menguji terlalu banyak aplikasi atau platform.

Guru bersama orangtua dan siswa sebaiknya menetapkan aturan dalam pembelajaran jarak jauh ini, termasuk pemantauan proses belajar siswa. Pertahankan pengaturan waktu sesuai kemampuan siswa dalam pelaksanaan kelas streaming, misalnya untuk siswa sekolah dasar tidak boleh lebih dari 20 menit dan siswa sekolah menengah tidak boleh lebih dari 40 menit.

Hal terakhir yang harus diperhatikan dalam pembelajaran jarak jauh ini adalah menciptakan komunitas guru, orangtua, dan pihak sekolah untuk mengatasi masalah psikososial yang timbul akibat siswa harus belajar di rumah. Mereka juga perlu mendiskusikan strategi mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

Oleh YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 18 Maret 2020

Share
x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...