Teknologi Antariksa; Indonesia Kembangkan Satelit secara Mandiri

- Editor

Kamis, 28 Agustus 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hingga tahun 2019, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional bertekad mampu mandiri membuat satelit pengindraan jauh dan mengembangkan satelit telekomunikasi. Meski bekerja sama dengan sejumlah negara dan lembaga internasional, semua tahap pembuatan akan dilakukan di Indonesia.

”Dari kerja sama itu, para ahli Indonesia akan mengembangkan satelit dengan kecanggihan terus meningkat,” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin seusai membuka Pelatihan Teknologi dan Aplikasi Sistem Satelit Navigasi Global (GNSS) bersama Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Antariksa Asia Pasifik (APSCO) Celal Ünver, di Jakarta, Selasa (26/8).

Pengembangan satelit Lapan dimulai dengan membuat satelit eksperimen, yakni satelit Lapan A1 (Lapan-Tubsat), Lapan A2, dan Lapan A3. Lapan A1 yang diluncurkan pada 2007 mampu beroperasi lebih lama dari dua tahun yang ditargetkan. Lapan A2 yang akan diluncurkan 2010 mundur jadi tahun ini karena satelit India yang akan diluncurkan bersama Lapan A2 memakai roket peluncur India belum siap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, pengembangan dilakukan dengan membuat satelit operasional, mulai dari satelit pengindraan jauh, telekomunikasi, hingga navigasi.

Konstalasi Satelit LAPANKepala Biro Kerja Sama dan Humas Lapan Agus Hidayat mengatakan, tahap pembuatan satelit harus berurutan agar Indonesia menguasai semua aspek pembuatan satelit. Jika melompat ke satelit operasional kompleks, itu menyulitkan. Satelit operasional harus dikembangkan konsorsium besar di bawah Kementerian Riset dan Teknologi, melibatkan banyak lembaga riset, perguruan tinggi, dan swasta, karena butuh dana besar.

Di antara negara ASEAN, hanya Indonesia yang punya program pengembangan satelit secara mandiri. Negara lain umumnya membeli satelit operasional dari negara-negara maju. ” Satelit itu umurnya hanya 5-15 tahun. Jika tak menguasai, selamanya Indonesia bergantung pada negara lain,” kata Agus.

Satelit navigasi
Menurut Agus, Lapan mempertimbangkan apakah akan mengembangkan satelit navigasi sendiri atau mengandalkan kerja sama internasional. Sistem satelit navigasi butuh lebih dari 20 satelit sehingga tak efektif jika dikembangkan tiap negara.

Kini ada sistem satelit navigasi Global Positioning System (GPS) milik Amerika Serikat dan GLONASS milik Rusia. Sementara Tiongkok dan Uni Eropa masing-masing mengembangkan Beidou dan Galileo yang akan diluncurkan 2020. Namun, yang populer di Indonesia baru GPS.

Meski demikian, industri nasional bisa mengembangkan teknologi penerima sinyal satelit navigasi yang kompatibel dengan berbagai GNSS. Pasar industri penerima sinyal kian terbuka seiring makin banyak orang memakai satelit navigasi untuk penentu posisi dan petunjuk arah.

Jadi, Lapan bisa fokus pada pemanfaatan sinyal GNSS untuk riset antariksa. Kini, Lapan memakai sinyal satelit navigasi untuk meneliti kondisi dan komposisi atmosfer. (MZW)

Sumber: Kompas, 28 Agustus 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 62 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru