Home / Berita / Tanaman Bidara Laut untuk Cegah Longsor

Tanaman Bidara Laut untuk Cegah Longsor

Tanaman bidara laut teruji memiliki sistem perakaran kuat dan menembus lapisan bidang gelincir tanah. Tanaman ini akan digunakan untuk merehabilitasi lereng kritis bersama rumput vetiver pada daerah aliran sungai.

PRESENTASI BLI KLHK–Bidara Laut (Strychnos lucida), tanaman ini memiliki fungsi ekologi tinggi sebagai pencegah longsor. Ini diambil dari presentasi Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 21 Januari 2020.

Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkenalkan tanaman bidara laut (Strychnos lucida) yang teruji memiliki sistem perakaran kuat dan menembus lapisan bidang gelincir tanah. Tanaman ini akan digunakan untuk merehabilitasi lereng kritis bersama rumput vetiver pada Daerah Aliran Sungai Ciujung dan Cidurian terkait banjir dan longsor di Lebak, Banten.

Hingga kini, Badan Litbang dan Inovasi KLHK masih memetakan lokasi-lokasi yang cocok ditanami S lucia sebagai bagian pengaplikasian teknik soil bioengineering. Namun, tanaman ini diperkirakan tak bisa ditanam di kawasan konservasi setempat, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, karena tanaman itu bukan endemis setempat.

“Bidara laut ini endemis di Nusa Tenggara, Sulawesi, dan sebagian Sumatera,” kata Budi Hadi Narendra, peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, Selasa (21/1/2020) di Jakarta.

Bagaimana dengan kawasan konservasi di Jawa? Ia menjawab perlu dilakukan survei jenis dan populasi keberadaan tanaman ini. “Kalau tidak ada ya susah masuk (ditanam di kawasan konservasi),” katanya.

Penanaman bidara laut untuk merehabilitasi lahan kritis dan mitigasi bencana longsor dinilai akan lebih baik jika dikombinasikan dengan tanaman lain. Selain menghindari penanaman monokultur, penanaman jenis lain bisa mendatangkan manfaat tambahan.

Budi Hadi mencontohkan, penanaman bidara laut dengan rumput vetiver akan membentuk kanopi berstrata/bertingkat. Hal itu disebabkan vetiver yang tidak terlalu tinggi menapis hujan di lapisan bawah dan tanaman biara laut dengan kanopi yang ada lebih tinggi akan berfungsi menahan hujan di lapisan atas. Ini akan berperan efektif dalam pengurangan erosi.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Memitigasi banjir dan longsor di awal tahun ini, peneliti Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkenalkan soil bioengineering melalui pemanfaatan tanaman yang memiliki perakaran sesuai untuk pencegahan longsor. Satu jenis tanaman yang diperkenalkan saat itu adalah bidara laut. Tampak narasumber temu media itu yang dilakukan pada Selasa (21/1/2020), dari kiri ke kanan Djati Witjaksono Hadi (Karo Humas), Ahmad Gadang Pamungkas, Prof riset Chairil Anwar Siregar, dan Budi Hadi Narendra (BLI KLHK).

Pencegah longsor
Ada beberapa jenis tanaman lain yang memiliki fungsi perakaran seperti bidara laut. Menurut data Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai di Solo, terdapat 47 jenis tanaman potensial pencegah longsor. Jenis-jenis tanaman buah-buahan yang biasa ditanam warga seperti nangka dan mangga juga memiliki perakaran kuat.

Namun, tanaman seperti pohon mangga akan tumbuh dengan diameter batang besar dan besar sehingga terlalu berat untuk ditanam di daerah tebing. Sebagai informasi, bidara laut atau disebut songga atau kayu ular di Sumatera, hanya memiliki diameter 10 centimeter.

Prof Chairil Anwar Siregar, peneliti dari BLI KLHK, mengatakan tanaman lain yang memiliki fungsi meningkatkan kohesi tanah yaitu berbagai jenis bambu. “Makanya kalau di daerah slope (tebing) itu selalu ada bambu,” katanya.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Para peneliti Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa (21/1/2020) di Jakarta, memberikan keterangan kepada media terkait mitigasi bencana longsor di awal tahun melalui teknik soil bioengineering. Teknik ini memanfaatkan kemampuan alamai tanaman dalam mencengkeram tanah serta mengikat air. Tampak para peneliti tersebut (berseragam cokelat) Budi Hadi Narendra (kiri) dan Chairil Anwar Siregar.

Selanjutnya, masyarakat diminta tidak terlalu pusing dengan jenis tanaman yang akan ditanam sendiri. “Pada prinsipnya semua tanaman bagus, yang tak bagus kalau tidak ditanam karena (tanah) langsung dihantam air (sehingga terjadi longsor),” ungkapnya.

Pada prinsipnya penanaman atau soil bioengineering seperti ini menutupi permukaan lereng yang terbuka dengan tanaman. Tujuannya, akar tanaman bisa meningkatkan kohesi tanah sebagai sistem konstruksi alami penstabil lereng. Selain itu, akar dapat menyerap air dalam tanah melalui proses transpirasi sehingga dapat menurunkan tegangan air pori.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 22 Januari 2020

Share
x

Check Also

Diramalkan Sejak 1973, Duplikat Manusia Tak Terbukti 2020

Tahun 1973, seorang ilmuwan di Swiss meramalkan duplikat manusia tercipta tahun 2020 ini. Akankah terbukti? ...