Tak Perlu Lukai Jari, Cek Kadar Gula Darah Bisa Gunakan Keringat

- Editor

Rabu, 15 Mei 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setiap hari harus menusuk jari untuk mengeluarkan darah untuk diukur kadar gula darahnya akan dapat sangat membosankan dan menyakiti penderita diabetes. Sejumlah peneliti menawarkan deteksi melalui keringat.

Kadar gula darah yang terkontrol menjadi pekerjaan rumah bagi setiap penderita diabetes. Untuk memastikan kadar gula darahnya senantiasa terkontrol, tak jarang setiap penderita diabetes harus menjalani tes gula darah setiap hari.

Sampai hari ini, tes gula darah tersebut umumnya dilakukan dengan cara melukai, yaitu menggunakan tusukan pada jari untuk mengeluarkan setetes darah untuk diletakkan pada strip alat ukur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tusukan demi tusukan pada jari setiap hari ini bisa menjadi sangat melelahkan, menyakiti, dan menyiksa bagi penderita. Karena itulah, saat ini sejumah peneliti mengembangkan perangkat yang dapat mengukur glukosa dalam keringat dengan sentuhan ujung jari.

Cara kerja alat ini ditampilkan dalam jurnal ilmiah ACS Sensors, 19 April 2021, berjudul ”Touch-Based Fingertip Blood-Free Reliable Glucose Monitoring: Personalized Data Processing for Predicting Blood Glucose Concentrations”. Dalam laman internet American Chemical Society (ACS) yang mengelola jurnal ilmiah tersebut, 5 Mei 2021, dijelaskan melalui keringat bisa didapatkan algoritma yang dipersonalisasi untuk memberikan perkiraan akurat akan kadar glukosa darah.

ACS SENSORS—-Infografik dalam ACS Sensors yang menunjukkan mekanisme pengukuran kadar gula darah dengan menggunakan keringat, bukan darah seperti pada umumnya.

Temuan para peneliti dari University of California San Diego Amerika Serikat ini, yaitu Juliane R Sempionatto, Jong-Min Moon, dan Joseph Wang, akan sangat berguna dan bermanfaat bagi para penderita diabetes.

Hal ini mengingat jumlah penderita diabetes di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada 2030 menjadi 700 juta orang dibandingkan dengan jumlah pasien diabetes pada 2014 yang tercatat 346 juta orang. Sementara laporan Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan prevalensi diabetes melitus secara nasional 8,5 persen.

Sementara itu, menurut American Diabetes Association, lebih dari 34 juta anak-anak dan orang dewasa di Amerika Serikat menderita diabetes. Meskipun swa-monitor glukosa darah merupakan bagian penting dari manajemen diabetes, rasa sakit dan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh pengambilan sampel darah dengan menggunakan jari dapat membuat orang tidak melakukan pengujian sesering yang seharusnya.

Para ilmuwan mengembangkan cara untuk mengukur glukosa dalam keringat. Namun, kadar gula pada darah yang jauh lebih rendah daripada dalam darah menyebabkan metode penggunaan keringat dapat bervariasi sesuai dengan tingkat keringat dan sifat kulit seseorang.

ACS SENSORS—Alat ukur genggam untuk mendeteksi kadar gula darah pada keringat seseorang. Ujung jari diletakkan pada sensor yang telah diberikan algoritma. Infografik bersumber dari laman internet American Chemical Society (ACS) yang diterjemahkan dari ACS Sensors. Cara ini sangat bermanfaat bagi penderita diabetes yang harus rutin mengukur kadar gula darahnya.

Akibatnya, kadar glukosa dalam keringat biasanya tidak mencerminkan nilai dalam darah secara akurat. Untuk mendapatkan perkiraan gula darah yang lebih andal dari keringat, Joseph Wang dan rekannya merancang sistem yang dapat mengumpulkan keringat dari ujung jari, mengukur glukosa, dan kemudian mengoreksi variabilitas individu.

Para peneliti membuat sensor glukosa keringat berbasis sentuhan dengan menggunakan hidrogel alkohol polivinil di atas sensor elektrokimia, yang dicetak layar ke strip plastik fleksibel. Ketika seorang sukarelawan meletakkan ujung jarinya di permukaan sensor selama satu menit, hidrogel tersebut menyerap sedikit keringat.

Di dalam sensor, glukosa dalam keringat mengalami reaksi enzimatik yang menghasilkan arus listrik kecil yang terdeteksi oleh perangkat. Para peneliti juga mengukur gula darah sukarelawan dengan tes tusuk jari standar, dan mereka mengembangkan algoritme yang dipersonalisasi yang dapat menerjemahkan glukosa keringat setiap orang ke kadar glukosa darah mereka.

Dalam pengujian, algoritme tersebut lebih dari 95 persen akurat dalam memprediksi kadar glukosa darah sebelum dan sesudah makan. Untuk mengalibrasi perangkat, penderita diabetes hanya perlu menusuk jari satu atau dua kali sebulan. Namun, catatan para peneliti, sebelum diagnosis keringat dapat digunakan untuk mengelola diabetes, studi skala besar harus dilakukan.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 6 Mei 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 5 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB