Home / Berita / Tahun 2020 Menjadi Penanda Persimpangan Masa Depan Bumi

Tahun 2020 Menjadi Penanda Persimpangan Masa Depan Bumi

Pandemi Covid-19 menjadi refleksi kuat pentingnya perlindungan hutan yang menjadi habitat bagi satwa dan tumbuhan di dunia. Keberadaan hewan dan tanaman itu diperlukan untuk memitigasi penyakit-penyakit zoonosis.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN—Kawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) melintasi semak belukar di Desa Pemayungan, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Kawanan gajah itu kian terdesak oleh berbagai aktivitas manusia dalam hutan. Upaya konservasi mendesak dilakukan demi menghindari kepunahan satwa dilindungi tersebut.

Tahun 2020 ini, argo setiap negara untuk merealisasikan komitmen penurunan emisi gas rumah kaca dimulai, termasuk bagi Indonesia. Tahun ini pula virus korona baru merebak menjadi pandemi penyakit Covid-19 di hampir seluruh negara sebagai sinyal bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja.

Merebaknya virus korona disebut terkait “interaksi” manusia dengan satwa liar, dalam kasus Covid-19 yang diyakini sekarang adalah trenggiling yang membawa virus dari kelelawar. Interaksi itu diyakini bukan menjadi faktor tunggal. Ada faktor lain saling berkaitan seperti deforestasi yang menyebabkan iklim dunia berubah.

Dalam kicauan di media sosial, akun resmi Program Lingkungan PBB atau UNEP menyebutkan, satu penyakit menular baru terjadi tiap empat bulan yang sekitar 75 persen di antaranya berasal dari hewan. Masih dalam kicauan sama pada 2 April 2020 waktu setempat tersebut, UNEP menyebut pandemi Covid-19 merupakan wake-up call untuk mencegah kejadian berikutnya dengan menyetop perdagangan hewan liar dan perusakan habitatnya.

Penyakit akibat penularan dari hewan yang disebut zoonosis ini bukan barang baru dalam sejarah peradaban manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, lebih dari 200 penyakit zoonosis dan sebagian besar di antaranya pernah jadi wabah seperti rabies, leptospirosis, anthrax, sindrom pernapasan akut parah (SARS), sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS), demam kuning (yellow fever), dengue, HIV, Ebola, chikungunya, serta malaria yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Kelelawar yang dijual di Kota Palangkaraya, Jumat (7/2/2020).

Transmisinya bisa secara langsung dari hewan ke manusia seperti rabies atau pun melalui inang perantara seperti nyamuk malaria serta lingkungan/makanan. Penularannya pun bisa menjadi manusia ke manusia seperti Ebola maupun Covid-19 yang kita alami sekarang. Dalam hal Covid-19 malah dijumpai penularan berbalik dari manusia ke hewan dengan ditemukannya harimau di Kebun Binatang Bronx Amerika Serikat yang positif menderita penyakit tersebut.

Kepala bidang Zoologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi mengungkapkan, dalam kurun 10 tahun ini banyak bermunculan penyakit terutama yang berhubungan dengan satwa liar. Dari SARS, MERS, flu burung, dan kini Covid-19. “Para ahli sudah memberi peringatan muncul dan munculnya kembali beberapa penyakit akibat deforestasi, perburuan dan perubahan iklim,” ungkapnya.

Bagaimana hal itu bisa terjadi, ia memberi logika sederhana. Berbagai jenis satwa liar secara alami merupakan inang atau host bagi berbagai jenis virus, bakteri, dan mikroba lain. Bahkan ada riset baru-baru ini yang menyebut makin tinggi keanekaragaman spesies maka kian tinggi pula jenis virus pada jenis hewan itu. Ini menjadi tantangan sendiri bagi Indonesia yang memiliki biodiversitas sangat tinggi di dunia.

Selama satwa-satwa liar berada di habitatnya seperti hutan, spill over atau bangkitnya virus menular ke manusia kemungkinan kecil dan tidak serta merta dapat berpindah ke manusia. Selama satwa liar hidup di habitatnya dengan hutan yang masih bagus, interaksi ke manusia rendah, sehingga virus, bakteri dan mikroba lain tetap berkutat di situ.

Namun saat interaksi meningkat, potensi transmisi pun semakin besar. Beberapa penyakit seperti SARS, MERS tak langsung menular dari kelelawar ke manusia, tetapi melalui perantara. Seperti SARS pada tahun 2002-2003 diketahui melalui perantara musang, sama halnya MERS melalui unta.

EARTH.COM–Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii)

Bila berkaca pada Laporan Panel Ilmiah untuk Keanekaragaman Hayati PBB (IPBES) 2019, tiga perempat daratan dan dua pertiga lingkungan laut telah diubah dengan amat signifikan sehingga sekitar 1 juta spesies hewan dan tumbuhan berada pada risiko kepunahan. Setahun sebelumnya, laporan WWF’s Living Planet Report 2018, menyatakan 60 persen penurunan kelimpahan hewan bertulang belakang di dunia dalam kurun waktu 40 tahun.

Kondisi ini diperparah dengan emisi gas rumah kaca yang terus meningkat sehingga kini penghangatan suhu mencapai 1 derajat celsius dibandingkan masa pra-industri. Angka krusial mengingat Laporan Panel Ahli Perubahan Iklim PBB (IPCC) 2019, menyarankan peningkatan suhu tak mencapai lebih dari 1,5 derajat atau manusia dan penghuni bumi akan dihadapkan pada konsekuensi kerugian yang terlalu tinggi.

Menekan alih fungsi lahan, melindungi hutan tersisa, merestorasi lahan/hutan yang rusak merupakan berbagai upaya yang bisa diupayakan untuk menyelamatkan bumi di samping memulai transisi ketergantungan pada energi fosil. Penyelamatan hutan dalam konteks pandemi saat ini kian menjadi penting mengingat kajian Loh NH dan kawan-kawan pada 2015 berjudul Targeting Transmission Pathways for Emerging Zoonotic Disease Surveillance and Control, menunjukkan alih fungsi lahan (termasuk deforestasi dan perubahan habitat alam) bertanggung jawab atas hampir setengah penyakit zoonosis yang merebak.

Hutan tropis yang menjadi rumah bagi keanekaragaman spesies satwa yang koheren dengan virus (dan mungkin bakteri, jamur, dan parasite lain) yang menghinggapinya, meminjam istilah Cahyo Rahmadi, merupakan kotak terawetkan. Ketika manusia mengeksploitasi hutan, kotak tersebut terbuka dengan konsekuensi paparan virus-virus tersebut.

Contoh yang telah memiliki referensi ilmiah yaitu kasus Ebola di Afrika. Peningkatan tekanan ke hutan-hutan Afrika Barat telah membuat populasi manusia lebih dekat dengan kelelawar yang membawa virus Ebola.

Di Afrika juga, komunitas manusia yang masuk ke dalam hutan telah meningkatkan interaksi kontak langsung dan tidak langsung dengan reservoir penyakit, yang mengarah pada peningkatan penyakit seperti demam kuning (ditularkan melalui nyamuk dari monyet yang terinfeksi) dan penyakit leishmaniasis. Bahkan HIV diadaptasi ke manusia dari varian yang ditemukan pada kera di hutan Afrika Tengah, sebelum menyebar melalui transmisi manusia-manusia.

Penebangan di hutan tropis menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, termasuk malaria dan demam berdarah. Di Borneo Malaysia, misalnya, deforestasi telah dikaitkan dengan peningkatan kasus malaria jenis baru.

LAPORAN WWF INTERNASIONAL—Tabel berbagai penyakit menular akibat zoonosis yang ada pada Laporan terbaru WWF berjudul The Loss of Nature and Rise of Pandemics: Protecting Human and Planetary Earth, Maret 2020.

Arief Yuwono, ahli lingkungan dalam Institute of Sustainable Earth and Resources (I-SER) Universitas Indonesia menyatakan kejadian Covid-19 agar dilihat sebagai momentum untuk pemihakan kepada lingkungan. Apabila dalam tindakan pemulihan dari Covid-19 diintegrasikan dengan komitmen dan rencana aksi ramah lingkungan, termasuk perubahan iklim, maka umat manusia di planet bumi diharapkan memiliki keseimbangan baru dengan budaya baru. Tak hanya berpihak pada kemajuan ekonomi, tetapi dengan mempertimbangkan risiko lingkungan dan perlindungan sosial.

Pada komitmen penurunan emisi gas rumah kaca atau NDC Indonesia, Indonesia masih membuka peluang deforestasi terencana seluas 3,25 juta hektar (ha) atau 325.000 ha per tahun dari 2020-2030. Dunia masih terbuka peluang bagi Indonesia dan negara lain untuk lebih ambisius meningkatkan penurunan emisi. Meski kini bayang-bayang draf terkini omnibus law RUU Cipta Kerja menurut analisa banyak pihak akan memperparah deforestasi.

Pandemi saat ini menjadi refleksi kuat pentingnya perlindungan hutan yang menjadi habitat bagi satwa dan tumbuhan di dunia yang diperlukan untuk memitigasi penyakit-penyakit zoonosis. Meminjam kalimat penutup pada Laporan terbaru WWF berjudul The Loss of Nature and Rise of Pandemics: Protecting Human and Planetary Earth, Maret 2020, “Planet yang sehat adalah fondasi kesehatan dan kesejahteraan kita (manusia) sendiri.”

Merawat hutan, merawat Bumi, dan merawat peradaban manusia. Selamat hari Bumi.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 22 April 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: