Home / Berita / Hindari Konsumsi Satwa Liar guna Turunkan Risiko Zoonosis

Hindari Konsumsi Satwa Liar guna Turunkan Risiko Zoonosis

Salah satu upaya mencegah penyebaran penyakit baru yang bersumber dari hewan atau zoonosis adalah dengan menghentikan praktik konsumsi satwa liar.

Perdagangan satwa liar di Indonesia mulai meningkat pesat sejak awal tahun 2000-an. Padahal, virus SARS-CoV-2 penyebab pandemi Covid-19 terjadi karena penularan penyakit dari hewan liar ke manusia atau zoonosis. Menjaga ekosistem hutan tetap sehat dan mengurangi paparan dengan hewan liar, termasuk mengonsumsinya, menjadi syarat mutlak agar tidak menciptakan virus baru yang berbahaya bagi manusia.

Direktur Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program Noviar Andayani menyampaikan, gangguan pada ekosistem yang mendegradasi hutan telah meningkatkan konflik antara manusia dan satwa liar. Ini terjadi karena satwa liar kehilangan habitat alami akibat konversi hutan ataupun kegiatan perambahan. Kondisi tersebut berkelindan dengan kegiatan perburuan ilegal untuk memenuhi permintaan perdagangan satwa liar, baik untuk tujuan konsumsi maupun kebutuhan lain.

Berdasarkan data WCS, Indonesia merupakan negara sumber perdagangan satwa liar. Pasar perdagangan satwa liar ini juga telah merambah ke sejumlah negara di Asia, seperti China, Taiwan, Hong Kong, serta sejumlah negara di Eropa, Australia, dan Amerika.

Tercatat 36 spesies yang diperdagangkan bebas di pasar telah dipasok dari pemburu liar di seluruh Sulawesi. Bahkan, setiap tahun 319 ton daging kelelawar, 72 ton daging ular, dan 419 ton daging babi hutan terjual di pasar hewan liar di Sulawesi.

Menurut Noviar, daging hewan liar yang dijual di Sulawesi Utara jauh lebih mahal daripada daging domestik. Hal ini menunjukkan permintaan daging hewan liar didorong oleh preferensi konsumen.

”Jumlah pasarnya tetap sama, tetapi jumlah perdagangan satwa liar telah berlipat ganda,” ujarnya dalam webinar bertajuk ”Perdagangan Satwa Liar, Penyakit Zoonosis, dan Pandemi”, Kamis (18/6/2020).

Selain berpengaruh pada ekosistem, perdagangan daging hewan liar yang tak terkendali juga berpotensi menciptakan virus baru dan menularkan penyakit ke manusia. Sama halnya dengan virus SARS-CoV-2 penyebab pandemi Covid-19 yang juga ditularkan dari perdagangan hewan liar di Wuhan, China.

Kepala Badan Ekologi Penyakit Satwa Griffith University, Australia, Hamish McCallum, yang turut menjadi narasumber webinar tersebut mengemukakan, saat ini penyakit baru semakin meningkat dan umumnya bersumber dari hewan. Penyakit atau virus yang tercipta akan menjadi patogen untuk berkembang biak.

”Penyebaran penyakit baru ini juga berhubungan dengan perdagangan hewan liar. Kemungkinan penyebarannya akan jauh lebih besar dan meningkat di pasar daging hewan liar,” ujarnya.

Salah satu upaya mencegah penyebaran penyakit baru yang bersumber dari hewan, ungkap Noviar, adalah dengan menghentikan praktik perdagangan hewan liar. Praktik ini bisa dihentikan jika permintaan masyarakat terhadap daging hewan liar juga bisa ditekan.

”Setiap negara juga harus memperkuat penegakan hukum terkait perdagangan satwa liar. Di sisi lain, penguatan kebijakan dan kelembagaan juga dibutuhkan untuk mencegah dan mengendalikan penularan penyakit zoonosis,” katanya.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 19 Juni 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: