Hindari Konsumsi Satwa Liar guna Turunkan Risiko Zoonosis

- Editor

Jumat, 19 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu upaya mencegah penyebaran penyakit baru yang bersumber dari hewan atau zoonosis adalah dengan menghentikan praktik konsumsi satwa liar.

Perdagangan satwa liar di Indonesia mulai meningkat pesat sejak awal tahun 2000-an. Padahal, virus SARS-CoV-2 penyebab pandemi Covid-19 terjadi karena penularan penyakit dari hewan liar ke manusia atau zoonosis. Menjaga ekosistem hutan tetap sehat dan mengurangi paparan dengan hewan liar, termasuk mengonsumsinya, menjadi syarat mutlak agar tidak menciptakan virus baru yang berbahaya bagi manusia.

Direktur Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program Noviar Andayani menyampaikan, gangguan pada ekosistem yang mendegradasi hutan telah meningkatkan konflik antara manusia dan satwa liar. Ini terjadi karena satwa liar kehilangan habitat alami akibat konversi hutan ataupun kegiatan perambahan. Kondisi tersebut berkelindan dengan kegiatan perburuan ilegal untuk memenuhi permintaan perdagangan satwa liar, baik untuk tujuan konsumsi maupun kebutuhan lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data WCS, Indonesia merupakan negara sumber perdagangan satwa liar. Pasar perdagangan satwa liar ini juga telah merambah ke sejumlah negara di Asia, seperti China, Taiwan, Hong Kong, serta sejumlah negara di Eropa, Australia, dan Amerika.

Tercatat 36 spesies yang diperdagangkan bebas di pasar telah dipasok dari pemburu liar di seluruh Sulawesi. Bahkan, setiap tahun 319 ton daging kelelawar, 72 ton daging ular, dan 419 ton daging babi hutan terjual di pasar hewan liar di Sulawesi.

Menurut Noviar, daging hewan liar yang dijual di Sulawesi Utara jauh lebih mahal daripada daging domestik. Hal ini menunjukkan permintaan daging hewan liar didorong oleh preferensi konsumen.

”Jumlah pasarnya tetap sama, tetapi jumlah perdagangan satwa liar telah berlipat ganda,” ujarnya dalam webinar bertajuk ”Perdagangan Satwa Liar, Penyakit Zoonosis, dan Pandemi”, Kamis (18/6/2020).

Selain berpengaruh pada ekosistem, perdagangan daging hewan liar yang tak terkendali juga berpotensi menciptakan virus baru dan menularkan penyakit ke manusia. Sama halnya dengan virus SARS-CoV-2 penyebab pandemi Covid-19 yang juga ditularkan dari perdagangan hewan liar di Wuhan, China.

Kepala Badan Ekologi Penyakit Satwa Griffith University, Australia, Hamish McCallum, yang turut menjadi narasumber webinar tersebut mengemukakan, saat ini penyakit baru semakin meningkat dan umumnya bersumber dari hewan. Penyakit atau virus yang tercipta akan menjadi patogen untuk berkembang biak.

”Penyebaran penyakit baru ini juga berhubungan dengan perdagangan hewan liar. Kemungkinan penyebarannya akan jauh lebih besar dan meningkat di pasar daging hewan liar,” ujarnya.

Salah satu upaya mencegah penyebaran penyakit baru yang bersumber dari hewan, ungkap Noviar, adalah dengan menghentikan praktik perdagangan hewan liar. Praktik ini bisa dihentikan jika permintaan masyarakat terhadap daging hewan liar juga bisa ditekan.

”Setiap negara juga harus memperkuat penegakan hukum terkait perdagangan satwa liar. Di sisi lain, penguatan kebijakan dan kelembagaan juga dibutuhkan untuk mencegah dan mengendalikan penularan penyakit zoonosis,” katanya.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 19 Juni 2020

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB