sumber daya alam; Laut Masa Depan Indonesia

- Editor

Rabu, 17 September 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lautan adalah masa depan Indonesia. Tak hanya menjadi sumber protein, laut juga menjadi sumber daya mineral masa kini dan masa depan, terutama minyak dan gas, yang kian menipis. Namun, lautan Indonesia juga spesifik karena berpotensi gempa besar dan tsunami sehingga pembangunannya harus ekstra hati-hati.

”Saat ini eksploitasi sumber daya mineral di daratan sudah sangat sulit. Pasti akan memicu banyak konflik karena daratan dipadati penduduk,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono, Selasa (16/9), di Jakarta.

Menurut Surono, salah satu hambatan keterlambatan eksploitasi cadangan minyak dan gas baru di Indonesia karena selama ini surveinya dilakukan di daratan. Adapun survei seismik di daratan sangat sulit, terutama karena persoalan konflik lahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Potensi kita untuk memenuhi kebutuhan minyak dan gas tinggal dari lautan, yang luasannya mendominasi. Bisa dikatakan, masa depan kita ada di laut,” katanya. ”Hanya saja bagaimana ilmu pengetahuan membantu kita mengambilnya tanpa mencemari.”

Berbasis mitigasi
Tidak bisa tidak, kata Surono, eksploitasi maritim di Indonesia harus berhati-hati. Sebab, wilayah laut rentan dilanda gempa besar dan tsunami. ”Sepuluh tahun terakhir ada 12 gempa besar di dunia yang korbannya 1.000 orang lebih. Empat bencana di Indonesia, Aceh tahun 2004, Nias 2005, Yogyakarta 2006, dan Padang 2009,” katanya.

Gempa Aceh tahun 2004 yang menewaskan lebih dari 150.000 orang merupakan tsunami dengan korban terbanyak dalam sejarah modern. ”Dari empat gempa besar dalam 10 tahun terakhir, tiga di antaranya bersumber di laut. Namun, penelitian kita tentang ini masih sangat jarang,” ujarnya.

Surono mengusulkan, mitigasi bencana dilihat sebagai investasi dalam pembangunan yang berbasis maritim. ”Sekarang seolah- olah mitigasi bencana masih dilihat sebagai beban. Padahal, gempa dan tsunami yang terjadi tiba-tiba bisa menyebabkan kerugian triliunan rupiah,” katanya.

Diberitakan Kompas, sepuluh tahun terakhir, kerugian ekonomi akibat bencana Rp 126,7 triliun atau rata-rata Rp 13 triliun per tahun. Namun, menurut Abdul Muhari, peneliti Indonesia yang bekerja di International Research Institute of Disaster Science, setiap tahun dalam APBN tidak ada anggaran untuk menanggulangi potensi kerugian ekonomi akibat bencana. (AIK)

Sumber: Kompas, 17 September 2014

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB