Home / Sainspreneur / Sulfahri, Dari Alga Terbit Energi

Sulfahri, Dari Alga Terbit Energi

Sepuluh tahun lagi cadangan minyak Indonesia akan habis.

Sulfahri (28 Tahun) sungguh kepincut oleh alga. Sudah 10 tahun dosen Universitas Hasanuddin, Makassar, ini bergelut meneliti alga sebagai sumber bahan bakar. Hari-hari ini pun, ia tengah asyik meriset tumbuhan tersebut. “Semua riset saya tentang alga,” katanya ketika dihubungi, Ahad lalu. Selain sibuk dengan riset tersebut, Sulfahri membimbing penelitian beberapa mahasiswa yang juga berfokus pada alga.

Sulfahri menyatakan penting bagi Indonesia untuk menemukan sumber energi baru dan terbarukan. Dia mulai melakukan penelitian ketika masih belajar di SMAN I Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pada 2007, dia dinobatkan sebagai inventor muda dalam Exhibition for Young Inventors III di New Delhi, India. Setelah lulus SMA, ia berkuliah di Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Sejak itu, banyak penelitian tentang alga yang Sulfahri kerjakan.

Pada 2015, kata dia, tingkat kebutuhan bahan bakar minyak Indonesia 1,5 juta barel per hari. Padahal produksi nasional hanya sebesar 800 ribu barel per hari. Artinya, Indonesia masih harus mengimpor 700 barel atau sama de ngan 46 persen dari total kebutuhan nasional. Data Satuan Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi pada 2015 menyebutkan, Indonesia telah menghabiskan US$ 500 juta atau Rp 6,5 triliun untuk mengimpor bahan bakar minyak. Ia juga menyitir pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ketika itu, Sudirman Said, bahwa cadangan minyak Indonesia bisa bertahan hanya hingga 12 tahun mendatang. Artinya, bisa jadi pada 2045 semua kebutuhan bahan bakar Indonesia harus dipenuhi lewat impor.

Melihat situasi itu, Sulfahri memikirkan pentingnya energi alternatif. Sebelum melirik alga, Sulfahri
sempat berpikir bahwa singkong bisa menjadi sumber energi. Rupanya, alga memiliki lebih banyak keunggulan. Menurut Sulfahri, hanya 30 persen struktur singkong yang bisa dimanfaatkan untuk pengolahan energi, yaitu umbinya saja. Akar, batang, dan daun singkong tidak bisa dijadikan sumber bahan bakar. Sebaliknya, seluruh alga bisa diolah dengan bantuan fotosintesis.

Melimpahnya sinar matahari di negeri ini pun sangat menguntungkan reproduksi alga. Dari segi perkembangbiakan, alga Spirogyra pun lebih unggul. Sementara singkong baru bisa dipanen pada usia 6-10 bulan, alga bisa digunakan pada usia dua pekan.

Saat ini, Sulfahri sedang berkompetisi dengan peneliti Inggris tentang riset alga Spirogyra. Ia berusaha menelurkan hasil riset bahwa alga Spirogyra bisa memproduksi bahan bakar pengganti bensin,
juga solar. ”Satu penelitian yang menghasilkan dua fungsi bahan bakar sekaligus belum pernah terjadi. Target kami, pada 2018 penelitian ini selesai,” katanya. Ia telah mengeluarkan dana Rp 100-200 juta untuk penelitian ini.

Koordinator Bidang Hukum, Kebijakan Publik, dan Regulasi Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Paul Butarbutar, mendukung pengembangan alga sebagai sumber energi. Ia berharap pemerintah ikut memikirkan sumber energi baru itu.

Walau begitu, kata Paul, ada pekerjaan rumah besar bagi peneliti alga Spirogyra. “Sampai saat ini
teknologi panen alga belum maju di Indonesia, takutnya harga produksinya jadi mahal,” tutur Paul.

Sumber: Koran Tempo, edisi khusus kemerdekaan, 16 Agustus 2017
——————–
Ternyata Alga Bisa Disulap Jadi Bioetanol

Alga atau ganggang air rupanya bisa dipakai sebagai bahan pembuatan bioetanol. Hanya dengan alga spirogyra 0,67 kg bisa diperoleh bioetanol satu liter. Saat ini bioetanol banyak dipakai sebagai pengganti BBM.

Melalui penelitian sejak April 2010, empat mahasiswa Institut Teknologi Surabaya (ITS), yakni Sulfahri, Eko Sunarto (Bilogi FMIPA) dan Siti Mushlihah serta Renia Setyo Utami (Teknik Lingkungan FTSP) menemukan kelebihan alga spirogyra jika diolah menjadi bioetanol.

Lewat penelitian didanai hibah Dikti ini, alga terbukti lebih efisien untuk membuat bioetanol dibanding bahan-bahan lainnya. Untuk menghasilkan satu liter bioetanol dibutuhkan 8 kilogram ubi jalar atau 6,5 kilogram singkong atau 5 kilogram jagung. Tapi, untuk hasil yang sama, hanya diperlukan 0,67 kg alga spirogyra.

Sulfahri, seorang peneliti, menyatakan tertarik meneliti alga karena selama ini bioetanol hanya banyak dihasilkan dari tanaman pangan seperti jagung, singkong, dan ubi jalar. Padahal, bahan-bahan ini masih dibutuhkan sebagai penopang bahan pangan. Sedangkan alga tersebar di mana-mana, kandungan karbohidratnya lebih tinggi ketimbang jagung atau umbi-umbian.

Yang dipakai dalam penelian ini adalah spirogyra atau ganggang hijau berbentuk benang. Alga tersusun atas sel-sel yang membentuk untaian panjang seperti benang ini berkembangbiak secara vegetatif dengan cara fragmentasi dan perkembangbiakan secara generatif dengan konjugasi

Alga spirogyra memiliki kandungan karbohidrat hingga 64 persen. Karbohidrat dibutuhkan dalam proses fermentasi yang menghasilkan bioetanol. Alga cepat berkembang biak dan tidak membutuhkan lahan luas. Selain itu, proses fermentasi juga lebih cepat.

Pengolahan diawali dengan pengeringan manual di bawah terik matahari (lebih kurang tiga hari) atau dikeringkan dalam oven. Setelah kering dicampur air dengan perbandingan 1: 15. Lalu dihancurkan bisa dengan blender atau mesin.

Selanjutnya dipanaskan atau proses hidrolisis sekitar dua jam dan didinginkan dalam suhu hingga 4 derajat Celcius. Untuk membantu proses fermentasi ditambahkan enzim aminase. “Proses fermentasi 10 hari memiliki hasil lebih baik,” terang Eko.

Untuk mendapatkan bioetanol dilakukan destilasi. “Hasil dan kualitas tak kalah jika dibanding bioetanol bahan lain,” tegas Sulfahri.

Kebutuhan BBM nasional bisa dipenuhi lewat produksi bioetanol. Hingga Maret 2008, kebutuhan BBM Indonesia mencapai 1,3 juta barrel per hari, padahal produksi BBM nasional hanya sebesar 900 ribu barrel per hari. Sedangkan total produksi bioetanol Indonesia hingga 30 Juni 2008 hanya 160.000 kiloliter

Editor: Hasiolan Eko P Gultom

Sumber: Tribunnews, Rabu, 12 Mei 2010
——————-
Ganggang Bisa Jadi Bahan Bakar Baru

Ganggang bisa menjadi bahan bakar alternatif berupa bioetanol. Tanaman di air tawar dan payau itu lebih unggul dibanding bahan etanol yang terbuat dari singkong, ubi, atau jagung. Hasil penelitian mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut dinobatkan sebagai juara pertama lomba karya ilmiah ilmu hayati nasional di Institut Teknologi Bandung akhir pekan lalu.

Tim juara pertama yang beranggotakan Sulfahri dan Siti Muslihah dari Jurusan Biologi dan Teknik Lingkungan ITS Surabaya itu mengangkat riset tentang penggunaan ganggang jenis Algae Spyrogyra untuk bahan bakar alternatif berbentuk etanol. Dengan penambahan enzim-enzim alfa amilase dengan lama waktu fermentasi tertentu, mereka membuktikan tanaman ganggang bisa menjadi bahan bakar yang murah.

Menurut anggota dewan juri, Pingkan Adityawati, enzim alfa amilase biasa dipakai untuk proses pembuatan bioetanol dari bahan singkong, ubi, atau jagung. Kali ini, enzim tersebut dicoba pada ganggang. “Penelitian mereka sudah dekat untuk diterapkan,” ujar dosen Pinkan yang juga dosen ITB itu.

Sulfahri dan Siti Muslihah sengaja tidak memilih singkong, ubi, dan jagung sebagai bahan etanol karena akan mengganggu pola konsumsi masyarakat. Sebagai gantinya, mereka melirik Algae Spirogyra. Jenis ganggang yang bisa tumbuh di air tawar dan payau itu terbukti punya kandungan karbohidrat yang tinggi. Perkembang biakannya pun bisa sangat cepat.

Jika dibandingkan, untuk menghasilkan bioetanol sebanyak 1 liter, dibutuhkan 8 kilogram ubi jalar, atau singkong 6,5 kilogram, atau 5 kilogram jagung. Dengan alga itu, cukup 0,67 kilogram saja.

Agar didapat hasil yang memuaskan, mereka juga menghitung waktu terbaik lama fermentasi alga dengan enzim. Kadar bioethanol tertinggi 9,32 persen diperoleh pada hari ke-10 dengan penambahan enzim amilase sebanyak 0,06 gram.

Ganggang jenis lainnya mengantar Tim Universitas Indonesia sebagai pemenang kedua. Tangguh Wijoseno, Aditya Rinus P Putra, Muhammad Iqbal, Faris Najmuddin Zahir, dan Haafizh Izzatullah menawarkan generasi ketiga teknologi alga. Mereka memanfaatkan nutrien limbah tahu sebagai medium pertumbuhan mikroalga Chlorella Sp.

Langkah itu, ujar mereka, untuk mengurangi masalah pemanasan global, pencemaran lingkungan, sekaligus pemenuhan biofuel untuk mendukung program energi campuran di Indonesia pada 2025.

Saat ini jumlah industri tahu di Indonesia mencapai 84 ribu unit usaha dengan kapasitas 25,6 juta ton per tahun. Massa jenis limbah tahu itu sebanyak 1,3 kilogram per liter. Total volume limbah tahu di Indonesia 5 juta lebih kilo liter per hari.

Dari penelitian itu, kultur Chlorella vulgaris dengan limbah tahu berpotensi menyerap gas karbondioksida. Setiap tahunnya bisa mengurangi 1,7 miliar kilogram CO2.

Adapun juara ketiga diraih Mardhatillah Sariyanti dari Universitas Indonesia tentang kloning gen Early-7 Human Papillomavirus Tipe 16. Juara pertama hingga ketiga mendapat hadiah uang sebesar Rp 7, 5, dan 3 juta.

Sebelumnya pada penyisihan tahap pertama, dewan juri meloloskan 7 finalis dari 20 peserta. Penilaian tahap dua dilakukan Sabtu (12/2) lalu di ITB. Kompetisi National Life Science Competititon yang digelar perdana oleh Himpunan Mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Nymphaea ITB ini ingin mencari penelitian baru asli karya mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan hasilnya bisa dipakai masyarakat.–ANWAR SISWADI

Sumber: tempo.co, Senin, 14 Februari 2011
——————–
Ganggang Air Bisa Dijadikan Bioetanol

Saat ini bioetanol banyak dipakai sebagai pengganti bahan bakar minyak. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, berhasil meneliti ganggang air alias alga bisa dipakai sebagai bahan pembuatan bioetanol. Untuk satu liter bioetanol, hanya butuh 0,67 kilogram Algae spirogyra.

Para mahasiswa ITS itu adalah Sulfahri dan Eko Sunarto dari Jurusan Biologi FMIPA, serta Siti Mushlihah dan Renia Setyo Utami dari Teknik Lingkungan FTSP. Mereka mulai melakukan penelitian sejak April lalu yang didanai hibah Dikti dan menemukan kelebihan Algae spirogyra jika diolah menjadi bioetanol.

Lewat penelitian, mereka membuktikan kalau alga lebih efisien dijadikan bioetanol dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya. Untuk menghasilkan satu liter bioetanol dibutuhkan 8 kg ubi jalar atau 6,5 kg singkong atau 5 kg jagung. Namun, untuk hasil yang sama, dengan Algae spirogyra hanya diperlukan 0,67 kg.

Sulfahri menyebutkan tertarik meneliti alga karena selama ini bioetanol banyak dihasilkan dari tanaman pangan seperti jagung, singkong, dan ubi jalar. Padahal, bahan-bahan ini masih dibutuhkan sebagai penopang bahan pangan. Sementara alga tersebar di mana-mana dan kandungan karbohidratnya lebih tinggi ketimbang jagung atau umbi-umbian.

Algae spirogyra atau ganggang air yang dipakai sebagai penelitian adalah yang hijau berbentuk benang. Alga yang tersusun atas sel-sel yang membentuk untaian panjang seperti benang ini berkembang biak secara vegetatif dengan cara fragmentasi dan perkembangbiakan secara generatif dengan konjugasi

Algae spirogyra memiliki kandungan karbohidrat hingga 64 persen. Karbohidrat dibutuhkan dalam proses fermentasi yang menghasilkan bioetanol. Alga cepat berkembang biak dan tidak membutuhkan lahan luas. Selain itu, proses fermentasi juga lebih cepat.

Pengolahan diawali dengan pengeringan manual di bawah terik matahari (lebih kurang tiga hari) atau dikeringkan dalam oven. Setelah kering dicampur air dengan perbandingan 1:15. Lalu dihancurkan dengan blender atau mesin.

Selanjutnya dipanaskan atau proses hidrolisis sekitar dua jam dan didinginkan dalam suhu hingga 4 derajat celsius. Untuk membantu proses fermentasi, ditambahkan enzim aminase. “Proses fermentasi 10 hari memiliki hasil lebih baik,” kata Eko.

Untuk mendapatkan bioetanol, dilakukan destilasi. “Hasil dan kualitas tak kalah jika dibandingkan dengan bioetanol bahan lain,” tegas Sulfahri.

Kebutuhan BBM nasional bisa dipenuhi lewat produksi bioetanol. Hingga Maret 2008, kebutuhan BBM Indonesia mencapai 1,3 juta barrel per hari, padahal produksi BBM nasional hanya sekitar 900.000 barrel per hari. Sementara total produksi bioetanol Indonesia hingga 30 Juni 2008 hanya sekitar 160.000 kiloliter. (nrey)

Sumber: kompas.com, 12/05/2010

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: