Pengembangan Mikroalga Masih Lamban

- Editor

Jumat, 20 November 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengembangan mikroalga, ganggang berukuran mikro dari laut, untuk bahan baku biodiesel di Indonesia lamban. Padahal, sumber daya mikroalga melimpah karena garis pantai Indonesia terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.

Percepatan pemanfaatan mikroalga sebagai bahan baku biodiesel bergantung pada kemauan politik pemerintah, terutama dalam mendanai riset energi baru terbarukan.

“Mengikuti target energi baru terbarukan 23 persen dari semua sumber energi tahun 2025 pun terlambat,” ujar peneliti di Laboratorium Bioenergi dan Bioproses Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Swastika Praharyawan, di Cibinong Science Center-Botanical Garden, Cibinong, Bogor, Kamis (19/11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika pemerintah tak segera mewujudkan biodiesel dari mikroalga, Indonesia akan kian tertinggal. Di Amerika Serikat, perusahaan Solazyme yang berdiri sejak 2003 membuat bahan bakar turunan mikroalga untuk pesawat jet, dinamakan Solajet.

Di Malaysia, perusahaan Algaetech aktif mengkaji pemanfaatan mikroalga bagi bahan pangan dan sumber energi. Perusahaan itu juga punya proyek pemanfaatan karbon dioksida dari pembangkit listrik untuk budidaya alga di Batam, Kepulauan Riau, Indonesia.

Produktivitas tinggi
Menurut Swastika, produksi mikroalga bagi energi memberi lebih banyak manfaat dibandingkan dengan kelapa sawit yang jadi penghasil biodiesel. Riset terbaru menunjukkan, spesies tertentu mikroalga menghasilkan biodiesel 30 kali daripada sawit per hektar per tahun.

421cc232381c4307a158db9bcbb5c24aKOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Mahasiswa riset pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agnes Yuliana, menjelaskan cara mengisolasi DNA dalam Open House LIPI di Cibinong Science Center-Botanical Garden, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Kamis (19/11). LIPI menyosialisasikan hasil-hasil riset bioteknologinya kepada publik.

Produksi mikroalga tak butuh lahan produktif seperti sawit. Sebab, lahan hanya untuk menempatkan kolam perbanyakan mikroalga. “Jadi, mikroalga tak mengorbankan kebutuhan lahan bagi tanaman pangan,” ujarnya.

Sejauh ini, LIPI memiliki sejumlah jenis mikroalga potensial untuk biodiesel, seperti Nannochloropsis sp, Chlorella sp, dan Scenedesmus sp. Spesies-spesies itu lipid rendah, sekitar 30 persen, dan berpotensi menghasilkan biodiesel 10 kali jumlah biodiesel dari kelapa sawit per hektar per tahun. Namun, produktivitas mikroalga di LIPI baru dua kali produktivitas sawit.

Riset juga mencari mikroalga dengan lipid mengandung asam lemak berikatan rangkap satu lebih banyak, yakni asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid/MUFA).

Dalam open house LIPI, para peneliti bioteknologi memperkenalkan teknologi seperti kultur jaringan tanaman, inseminasi buatan ternak, dan rekayasa genetika. Menurut Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Riset Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Syamsidah Rahmawati, potensi bioteknologi di Indonesia besar mengingat sumber daya hayati melimpah, tetapi minat remaja menjadi peneliti bioteknologi rendah. (JOG)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 November 2015, di halaman 13 dengan judul “Pengembangan Mikroalga Masih Lamban”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB