Home / Profil Ilmuwan / Stephen Hawking, Ilmuwan Unggul yang juga Manusia Biasa

Stephen Hawking, Ilmuwan Unggul yang juga Manusia Biasa

Kecerdasan adalah kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan. (Stephen Hawking)

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Namun kematian Stephen Hawking, Rabu (14/3), tidak hanya meninggalkan nama. Gagasannya tentang kosmologi dan semangat hidup yang luar biasa jadi warisan sekaligus inspirasi besar umat manusia.

Kematian Hawking (76) dalam damai di rumahnya di Cambridge, Inggris, pada Rabu dinihari diumumkan anaknya: Lucy, Robert dan Timothy. Kelahiran dan kematian Hawking adalah sesuatu yang unik. Dia lahir tepat 300 tahun kematian fisikawan Galileo Galilei (1564-1642) dan meninggal tepat ulang tahun ke-139 fisikawan paling ternama di abad ke-20 Albert Einstein (1879-1955).

Meski pada 1963 dia divonis hanya mampu bertahan hidup dua tahun akibat penyakit yang dideritanya, nyatanya ia mampu bertahan hingga 55 tahun kemudian.

Meski kondisi tubuhnya terus menurun, ia justru bisa menghabiskan sisa hidupnya dengan berpikir dan berkarya dan melakukan banyak hal bermakna.

Hawking divonis menderita penyakit yang membuat tidak berfungsinya saraf pengendali otot. Di masa kini, penyakit itu dikenal sebagai amyotrophic lateral scelrosis (ALS). Penyakit itu membuatnya raganya terpaku di kursi roda, bicaranya dipandu mesin penyintesis kata yang menghasilkan suara elektronik mirip robot, serta hidupnya sangat bergantung pada orang lain.

Kejeniusannya memadukan teori relativitas Einstein dan mekanika kuantum melahirkan teori-teori kosmologi cemerlang. Selain itu, di kalangan ilmuwan dia juga dikenal karena kapasitasnya yang luar biasa untuk memvisualisasikan solusi ilmiah tanpa perhitungan matematis atau percobaan.

Salah satu idenya adalah gagasan yang mengubah pandangan lama tentang lubang hitam (black hole).

Sebelum 1970an, lubang hitam dipandang sebagai obyek dengan gravitasi luar biasa hingga cahaya pun tidak bisa lolos darinya. Hawking justru menilai sebaliknya, yaitu masih ada informasi di sekitar lubang hitam yang lolos dan disebutnya sebagai radiasi Hawking.

Teori lain yang populer adalah soal nasib alam semesta yang dibangun Hawking bersama ahli fisika matematika Inggris Roger Penrose. Dalam teori ini, jika semesta bermula dari dentuman besar (big bang), maka akhir semesta adalah menjadi lubang hitam.

Berbagai gagasan itu menantang ilmu pengetahuan. Bukan hanya karena kesulitan untuk untuk membuktikan teori itu melalui observasi, kerumitan teorinya juga menjadi tantangan sendiri. Persoalan itulah yang membuat banyak kalangan menilai Hawking sulit untuk mendapat Hadiah Nobel.

AP PHOTO/LIONEL CIRONNEAU–Stephen Hawking saat menjawab pertanyaan wartawan dengan bantuan mesin sintesis suara di Paris, Perancis, 3 Maret 1989.

Inspirasi
Di luar warisannya yang luar biasa bagi ilmu pengetahuan, perjuangan Hawking untuk bertahan dari ALS yang menderanya adalah inspirasi besar bukan hanya bagi sesama penderita ALS, namun juga manusia umumnya untuk tetap berjuang dan berkarya dalam kondisi apapun.

Dalam memoarnya pada 2013, Hawking sempat merasa hidup sangat tidak adil saat pertama kali didiagnosis menderita ALS. Ketika itu, ia pikir hidupnya sudah berakhir dan ia tidak pernah menyadari potensinya di depan.

“Setelah 50 tahun kemudian, saya puas dengan hidup saya,” katanya seperti dikutip dari BBC.

Nyatanya, penyakitnya berkembang lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Itu justru memberiknya kesempatan besar untuk lebih leluasa berpikir, menghasilkan karya-karya ilmiah yang menakjubkan, hingga menjalani hidupnya seperti orang lainnya, termasuk menikahi istri pertamanya Jane Wilde dan memiliki tiga anak.

Tak hanya berkarya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, Hawking juga masih sempat menulis buku untuk awam agar mereka lebih mudah memahami kosmologi, A Brief History of Time (1988). Meski demikian, buku yang laku lebih dari 10 juta eksemplar dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa itu dianggap buku paling populer yang tidak pernah dibaca.

Namun, itu tak menyurutkannya untuk menerbitkan buku keduanya Universe in a Nutshell yang terbit pada 2001.

Popularitas Hawking juga melampaui status keilmuwanannya. Ia adalah sosok ilmuwan yang juga menjadi selebritas di dunia hiburan.

Sosoknya muncul dalam berbagai tayangan hiburan, mulai figur kartun dalam film kartun The Simpson, menjadi dirinya sendiri dalam serial komedi Red Dwarf dan tampil dalam bentuk hologram di film StarTrek: The Next Generation.

Bahkan, grup rock Pink Floyd pernah menggunakan sintesis suaranya pada lagu Keep Talking di album The Division Bell (1994).

Sementara itu, pada 2014, film yang mengisahkan kehidupan Hawking yang dibuat berdasar cerita Jane, The Theory of Everything, diproduksi. Ia juga sempat tampil dalam sejumlah seri Discovery Channel yang memuat pandangannya tentang kehidupan cerdas di luar Bumi atau kemusnahan manusia.

Dalam kondisi hidup di kursi roda dan bergantung pada orang lain, Hawking juga sempat menjalani petualangan yang sulit dirasakan manusia normal lain, mulai dari pergi ke Antartika hingga merasakan sensasi terbang di lingkungan gravitasi mikro seperti yang dirasakan para antariksawan.

Hawking juga berkesempatan melakukan sejumlah riset kolaborasi di luar bidang kosmologi seperti riset alat yang bisa membaca pikiran pemakainya pada 2011 dan program Terobosan Starshot untuk membantu manusia mencari peluang kehidupan di bintang Alfa Centauri, tetangga terdekat Matahari, bersama pendiri Facebook Mark Zuckerberg dan miliarder Rusia Yuri Milner.

Semua capaian yang menakjubkan itu dia dapat saat penyakitnya telah berkembang dan menurunkan terus kondisi tubuhnya. Kondisi itu membuatnya percaya bahwa penyakitnya justru membawa keberuntungan baginya.

“Meskipun saya cacat, saya telah berhasil dalam kerja ilmiah saya,” tulisnya dalam akun Facebook-nya pada November 2014 seperti dikutip space.com.

Kosmolog Institut Teknologi Bandung yang juga Ketua Yayasan ALS Indonesia Premana W Premadi menilai Hawking adalah sosok yang menginspirasi. “Sikap positifnya dalam segala aspek kehidupan adalah hal yang luar biasa,” katanya.

Bagi penderita ALS, di tengah terus menurunnya kondisi fisik, mempertahankan semangat adalah tantangan terbesar.

Belum lagi, ada keluarga yang harus dihidupi. Demikian pula karir dan reputasi yang harus dijaga. Dengan semua tuntutan itu, Hawking adalah inspirasi besar bagi sesama penderita ALS untuk tetap berjuang dan berkarya dalam kondisi apapun.

Premana sebenarnya sempat berjanji bertemu Hawking pada 23 Februari 2018 pukul 2 siang di kantornya di Cambridge. Namun pertemuan itu dibatalkan saat Premana sudah berada di Inggris karena kondisi kesehatan Hawking menurun serius.

Pertemuan itu bukan hanya untuk membahas sejumlah isu tentang kosmologi, tetapi yang lebih penting untuk membicarakan tentang bertahan hidup dengan ALS.

“Hawking dengan tekun membantu saya memotivasi penderita ALS di Indonesia agar bisa melanjutkan hidupnya dengan berkualitas dan tujuan yang jelas,” katanya.

Keluarga
Meski kini Hawking terkenal sebagai ilmuwan jenius dan populer, namun Hawking kecil sejatinya adalah bocah yang biasa saja. Bahkan saat duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, Hawking menduduki peringkat ketiga terbawah di kelasnya. Kemampuannya yang biasa-biasa saja itu terus bertahan hingga dia memasuki bangku kuliah.

Daripada menekuni pelajaran dan duduk manis di bangku atau berkutat di perpustakaan, Hawking lebih suka bermain di luar kelas dan menekuni kegiatan alam bebas. Bahkan ketika awal kuliah di University College, Universitas Oxford, Hawking lebih senang menggeluti tari dan olahraga dayung.

Penyakitnya mengubah segalanya. Vonis ALS itu jatuh saat ia sedang menempuh pendidikan doktoralnya. Momen itulah yang justru menjadikan Hawking menjadi ilmuwan yang populer seperti sekarang.

Kesuksesan itu tidak lepas dari keluarga dan orang-orang di dekatnya. Karena itu, Hawking sering memberikan penghormatan khususnya bagi istri pertamanya Jane yang telah mendampingi dan merawatnya lebih dari 20 tahun. Jane-lah yang mendampingi Hawking sejak awal penyakitnya hingga menjalani awal kesuksesan karirnya.

Sikap itulah yang membuat banyak kerabat dan publik terheran-heran saat Hawking akhirnya menceraikan Jane pada 1990. Hawking kemudian memilih menikahi perawatnya Elaine Mason pada 1995 walau akhirnya harus berakhir dengan perceraian kembali pada 2006.

Di masa pernikahan keduanya itu, Hawking kerap mengunjungi Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Addenbrooke’s di Cambridge guna mendapat perawatan sejumlah luka. Namun, Hawking bersikukuh bahwa luka itu bukan disebabkan oleh tindak kekerasan atau pelecehan hingga akhirnya kasus itu tidak ditindaklanjuti oleh polisi.

Bagi Hawking yang menghabiskan hampir seluruh masa dewasanya di kursi roda, penyemangatnya hingga sukses dalam pekerjaan dan kariernya adalah keluarga. Selagi ada keluarga dan orang-orang terdekat yang mendukung, bagaimanapun kondisi yang dialami seseorang, “Orang tidak perlu kehilangan harapan,” katanya.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 15 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: