Home / Berita / Astronomi / Stasiun Luar Angkasa China Tiangong-1 Jatuh ke Bumi Akhir Maret-Pertengahan April

Stasiun Luar Angkasa China Tiangong-1 Jatuh ke Bumi Akhir Maret-Pertengahan April

Badan Antariksa Eropa (ESA) memperkirakan stasiun luar angkasa China Tiangong-1 akan masuk kembali ke atmosfer Bumi antara 24 Maret hingga 19 April. Stasiun luar angkasa seberat 8,5 ton itu diprediksi akan masuk pada wilayah antara 42,8 derajat lintang utara hingga 42,8 derajat lintang selatan.

“Area di luar rentang itu dapat dikecualikan,” kata salah satu pejabat di Kantor Sampah Antariksa ESA di Pusat Operasi Antariksa Eropa ESA di Darmstadt, Jerman, seperti dikutip space.com, Jumat (2/3). Meski demikian, tidak ada prediksi pasti tentang waktu dan lokasi dari jatuhnya stasiun luar angkasa China yang pertama tersebut.

Di sisi lain, meski perkiraan waktu masuknya kembali Tiangong-1 itu masih berupa perhitungan kasar, ESA mengingatkan pentingnya kewaspadaan di wilayah yang berpotensi menerima jatuhan wahana tersebut mengingatnya sebagian besar populasi Bumi ada di rentang wilayah tersebut.

SPACE.COM/ESA CC BY-SA IGO 3.0–Wilayah yang diprediksikan jadi lokasi masuk kembalinya stasiun luar angkasa China Tiangong-1 antara 42,8 derajat lintang utara hingga 42,8 derajat lintang selatan (tengah) beserta jumlah populasi di tiap garis lintang (kiri) dan probabilitas masuknya wahana antariksa tersebut di lintang itu (kanan).

Prediksi ESA itu sudah makin mengerucut. Aerospace Corporation pada Agustus 2017 lalu memprediksi Tiangong-1 memasuki kembali atmosfer Bumi antara Desember 2017-Maret 2018. Prediksi saat itu didasarkan atas data ketinggian orbit Tiangong-1 pada 349 kilometer di atas permukaan dan berkurang rata-rata 160 meter setiap hari.

Sebelumnya, pemerintah China sebagai pemilik stasiun luar angkasa tersebut pada 14 September 2016 memperkirakan Tiangong-1 akan kembali memasuki atmosfer Bumi pada semester kedua 2017.

Berbagai prediksi jatuhnya Tiangong-1 itu dilakukan banyak lembaga untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan dari masuknya kembali wahana antariksa itu. Bahkan, Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Luar Angkasa (UNOOSA) sudah mengingatkan pemerintah China untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan menyampaikan informasi mengenai hal itu ke publik.

Meski demikian, jatuhnya Tiangong-1 itu diperkirakan tidak akan menimbulkan kerusakan atau memunculkan bahaya berarti. “Kemungkinan membahayakan dan menyebabkan kerusakan pada penerbangan maupuan aktivitas di darat sangat kecil,” tulis pemberitahuan UNOOSA.

Obsesi antariksa China
Tiangong-1 adalah stasiun antariksa modul tunggal yang dioperasikan oleh Badan Antariksa Nasional China atau China National Space Administration (CNSA). Seperti dikutip dari space.com, Rabu (7/3), Tiangong yang artinya Istana Kahyangan itu diluncurkan pada 2011 dan sempat dihuni dua antariksawan China alias taikonaut yang melakukan sejumlah riset pada 2012 dan 2013.

Stasiun luar angkasa itu memiliki panjang 10,4 meter dan lebar 3,4 meter dan dikendalikan di Pusat Kendali Penerbangan Luar Angkasa Beijing. Laboratorium luar angkasa yang mampu menampung sejumlah antariksawan untuk tinggal dan bekerja itu mengorbit Bumi pada ketinggian 350 kilometer di atas permukaan Bumi atau sedikit lebih rendah dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Dibanding misi stasiun luar angkasa internasional lainnya, informasi tentang Tiangong-1 yang bentuknya mirip stasiun luar angkasa Rusia Mir itu tidak terlalu banyak diungkap oleh China. Meski demikian, kini China memiliki Tiangong-2 yang diluncurkan pada September 2016 untuk menjalankan misi antariksanya.

Keberanian China menjalankan misi antariksanya sendiri, meluncurkan dan mengelola stasiun luar angkasa secara mandiri itu adalah lompatan besar bagi penjelajahan antariksa. Wahana itu adalah bukti kekuatan, tekad dan ambisi China untuk menguasai antariksa.

Stasiun luar angkasa adalah wahana yang berfungsi sebagai laboratorium luar angkasa berawak. Hingga kini, hanya Rusia (Uni Soviet) dan Amerika Serikat yang mampu mengelola stasiun luar angkasa secara mandiri.

Mahalnya biaya operasional membuat negara-negara maju, termasuk Rusia dan Amerika Serikat, memilih mengoperasikan stasiun luar angkasa secara bersama-sama saat ini. Bahkan, mereka menggandeng sejumlah negara lain termasuk Jepang, Kanada dan Uni Eropa untuk mengelola ISS.

Tidak beroperasinya Tiangong-1 resmi diumumkan pemerintah China pada 21 Maret 2016. Indikasinya adalah data telemetri stasiun luar angkasa itu sudah tidak berkerja. Kondisi itu terjadi saat sedang tidak ada awak yang sedang bertugas di laboratorium luar angkasa tersebut. Namun, analisis Aerospace Corportaion menyebut hilangnya kendali China atas Tiangong-1 sudah terjadi sejak Desember 2015.

Tidak ada penjelasan kenapa data telemetri itu tidak bekerja, namun kondisi itu menandakan hilangnya kendali pengontrol di Bumi. Konsekuensinya, Tiangong-1 akan jatuh atau memasuki kembali atmosfer Bumi. “Masuk kembalinya Tiangong-1 itu tidak akan terkendali,” seperti dikutip dari aerospace.org.

Meski demikian, Tiangong-1 telah memberikan pelajaran dan pengalaman besar bagi China untuk menjalankan misi antariksanya. Kondisi itu pula yang membuat China yakin mengirimkan Tiangong-2 serta mempersiapkan sejumlah misi antariksa lainnya, termasuk misi menuju Mars.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 8 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: