Waspadai Jatuhnya Tiangong-1 di Wilayah Indonesia

- Editor

Kamis, 15 Maret 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Stasiun Antariksa milik Tiongkok Tiangong-1 akan masuk kembali ke atmosfer bumi atau re-entry sekitar tanggal 10 April 2018, dengan peluang sebulan lebih lambat atau lebih cepat dari tanggal tersebut. Perkiraan ini berdasarkan data elemen orbit tanggal 9 Maret 2018 yang dikeluarkan NORAD Amerika Serikat melalui situsnya www.space-track.org.

Hal ini disampaikan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Jasyanto Sahur, Senin (12/3), di Jakarta.

Menurut Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, prediksi ini akan masih dapat berubah berdasarkan aktivitas matahari dan geomagnet yang akan mempengaruhi kerapatan atmosfer yang dilalui satelit itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aktivitas matahari dan geomagnet dapat dilihat pada tautan Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS).

Jatuhnya Tiangong-1 ini perlu dipantau mengingat ukurannya yang cukup besar. Massa Tiangong-1 ketika diluncurkan 8.500 kilogram, dengan ukuran panjang 10,5 meter, dan diameter 3,4 meter.

Satelit yang tidak terkendali ini berpeluang besar jatuh di wilayah Indonesia, yang wilayahnya terbentang di ekuator, sekitar 30 persen keliling bumi. Tiangong-1 memiliki inklinasi orbit 43 derajat sehingga seluruh daerah di Bumi mulai dari 43 derajat Lintang Utara hingga 43 derajat Lintang Selatan memiliki peluang terkena debris (pecahan) satelit ini.

Satelit dikatakan mengalami re-entry jika telah melewati ketinggian dibawah 120 kilometer. Ketika memasuki atmosfer Bumi, satelit akan terbakar. Diperkirakan akan ada bagiannya yang tersisa ketika sampai di permukaan Bumi.

Bagian tersebut adalah tangki bahan bakar yang sangat berbahaya jika disentuh langsung. “Tangki bahan bakar tersebut kemungkinan masih mengandung Hidrazine yang merupakan bahan beracun dan bersifat korosif,” ujar Deputi Teknologi Penerbangan dan Antariksa LAPAN, Rika Andiarti.

Tiangong-1 dalam masa operasionalnya telah mengalami setidaknya 14 kali penyesuaian ketinggian dengan menaikkan kembali ketinggian menggunakan mesin roketnya. Penyesuaian ketinggian terakhir dilakukan pada 16 Desember 2015.

Jatuhnya Stasiun Antariksa Tiangong-1 tersebut disampaikan oleh otoritas antariksa Tiongkok pada 4 Mei 2017 kepada Komite PBB untuk Penggunaan Aktivitas Antariksa Secara Damai (United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space – UNCOPUOS).

Tiangong-1 akan masuk kembali ke atmosfer Bumi karena mengalami kerusakan dan tidak dapat dikontrol lagi sejak 16 Maret 2016. Stasiun luar angkasa pertama Tiongkok ini diluncurkan pada 30 September 2011 dari Jiuquan Satellite Launch Center.–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 15 Maret 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB