Home / Berita / Sri Mulyani, berjuang selamatkan sekolah dari ancaman tutup

Sri Mulyani, berjuang selamatkan sekolah dari ancaman tutup

Seperti apa perasaan seorang guru yang mengetahui bahwa sekolah tempatnya mengajar terancam tutup lantaran siswa yang masuk makin lama makin sedikit? Rasa pedih itu pasti salah satu yang dirasakan Sri Mulyani, guru di MI Sudirman Pabongan, Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Namun wanita kelahiran Karanganyar, 11 November 1974 ini tak mau menyerah berjuang menghidupkan kembali sekolah tersebut.

Arif, bijaksana, tekun dan bersabar itulah moto yang selalu ia pegang selama menjalankan tugasnya menjadi guru di MI Sudirman. Ibu dari tiga anak masing-masing Pratama, 12; Rivaldi, 9; dan Nabila, 20 bulan ini bahkan rela bergerak dari pintu ke pintu untuk menarik minat warga bersekolah di MI Sudirman. Saat itu, hati nuraninya tergerak melihat sekolah yang ikut dirintisnya mulai sepi. Kondisinya bahkan nyaris tutup. Ibaratnya mati tidak, hidup pun tak mau.

Satu per satu guru mulai meninggalkan sekolah itu dan memilih mengajar di sekolah lain. Namun Sri tetap bertahan mengajar di sekolah tersebut. “Padahal saya waktu itu masih WB (wiyata bhakti-red). Teman-teman saya yang keluar dan mengajar di luar justru sudah diangkat menjadi PNS. Saya sampai nangis sendiri,” ujarnya.

Namun keikhlasan dan kesabaran serta ketekunan niatan untuk memajukan sekolahnya, akhirnya sekolah itu bisa kembali bangkit. Sri mendatangi dari rumah ke rumah mencari siswa dan merintis kembali sekolah MI Sudirman dengan mengawali dari tingkat RA/TK sejak lima tahun lalu. “Sebanyak 12 siswa saat itu bisa masuk ke sekolah ini dan sampai sekarang Alhamdulillah sekolah ini sudah bisa hidup kembali,” tuturnya.

Penantian panjang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dari guru WP selama hampir 14 tahun lebih akhirnya membuahkan hasil. Sejak dua tahun lalu dirinya diangkat menjadi PNS dan terus mengajar di MI Sudirman. Banyak hal yang perlu disikapi secara arif dan bijaksana dalam menjalankan profesi sebagai tenaga pendidik. Kesabaran, itulah kunci utama dalam menjalankan tugas tersebut. “Dengan dilandasi keikhlasan dan sukarela semua permasalahan diterima dengan bersyukur. Itu yang terpenting dalam menjalankan tugas sebagai seorang guru,” ujarnya.

Indah Septiyaning Wardani

Sumber: Solo Pos, Kamis, 14 Juli 2011 12:47 WIB

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: