Home / Sosok / Sri Moertiningsih Adioetomo, Ilmuwan sejati Tak Pernah Berhenti

Sri Moertiningsih Adioetomo, Ilmuwan sejati Tak Pernah Berhenti

Hanya sedikit ilmuwan yang mengalami tiga kali pensiun. Pakar demografi, Prof Sri Moertiningsih Adioetomo, SE, MA, PhD (72), adalah satu di antaranya. Ilmuwan sejati tak pernah benar-benar berhenti….

Setelah membantu Menko Kesra Jusuf Kalla sebagai Deputi Pemberdayaan Perempuan (2001-2003), Toening— begitu sapaan akrabnya—kembali mengajar di Universitas Indonesia.

Menjelang ulang tahun ke-62, bulan April 2005, dia dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Ekonomi Kependudukan Fakultas Ekonomi UI. Namun, kata ”pensiun” pada usia 65 tahun hanya ada dalam kamus. Kenyataannya, tugasnya diperpanjang sampai usia 70 tahun. Setelah terlampaui tahun 2013, dia diajukan sebagai Guru Besar Emeritus. Tugasnya kembali diperpanjang lima tahun, sampai tahun 2019.

Toening yang mencintai demografi dan menekuninya, sejak mendapat nilai tertinggi mata kuliah ”Masalah Penduduk” pada tahun keempat di FEUI, sampai hari ini masih mengajar, menjadi konsultan, dan terus melakukan riset. Sebagai istri dan ibu dari dua anak, nenek dari seorang cucu, hidupnya terasa penuh, tak berbeban.

Banyak keprihatinan
Namun, begitu membicarakan soal demografi, khususnya terkait kondisi dan masa depan orang muda, dia banyak terdiam.

Menurut Toening, persoalan terbesar kita adalah jumlah penduduk yang besar, 254 juta saat ini, laju pertumbuhan penduduk yang meningkat, dari 1,34 (1990-2000), menjadi 1,49 (2000-2010), dan tingkat kesuburan (TFR) yang bertengger pada 2,6.

Sebagai pakar demografi yang melontarkan isu bonus demografi dan jendela peluang sejak awal tahun 2000-an, Toening bisa memperkirakan yang terjadi kalau penyelenggara negara dan pengambil keputusan di tingkat tinggi mengabaikan persoalan itu dan terus-menerus terjebak dalam pertarungan politik kekuasaan serta target-target pencapaian jangka pendek.

”Bonus demografi menjadi bahan advokasi untuk mengingatkan para pengambil kebijakan bahwa jumlah penduduk usia kerja lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk usia anak,” ujarnya.

Di Indonesia, jendela peluang terjadi jika angka ketergantungan 47 per 100 pekerja, tetapi kemudian akan meningkat lagi, oleh meningkatnya jumlah lanjut usia (lansia).

Bonus demografi berakhir dengan menutupnya jendela peluang. Jadi pemanfaatannya harus dioptimalisasi untuk membantu pertumbuhan ekonomi.

Terbukanya jendela peluang untuk Indonesia mengisyaratkan tingkat kesuburan 2,01-1,87 antara tahun 2020-2030. ”TFR harus bisa turun, setidaknya 2,1 pada tahun 2025, sehingga laju pertumbuhan penduduk turun. Ibaratnya satu meninggal digantikan satu yang lahir.”

Cost of no action akan membuat ledakan penduduk usia kerja tak mengarah pada jendela peluang. Integrasi ekonomi ASEAN yang secara penuh akan diimplementasikan akhir tahun 2015 adalah kejutan selanjutnya setelah implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Tiongkok (ACFTA) mulai tahun 2010.

Penduduk usia kerja, yang menurut data mencapai 44,98 persen dari total populasi, adalah konsumen yang besar, tetapi potensi produktivitasnya tinggi, kalau punya nilai tambah untuk memicu pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, mereka harus diberdayakan dengan pekerjaan layak, bisa menabung, dan diinvestasikan.

Dari satu sisi, pemerintah harus menyediakan lapangan kerja, dibarengi pengendalian jumlah penduduk melalui revitalisasi Program Keluarga Berencana (KB), program-program kesehatan dan pendidikan berperspektif jangka panjang, menyeluruh, dengan pendekatan siklus kehidupan (life-cycle approach).

Pendekatan itu mencakup sistem pendidikan dan sistem pelayanan kesehatan sejak bayi dalam kandungan hingga akhir hidup dengan pelayanan berstandar dan merata ke berbagai pelosok. Kebijakan industri harus mempertimbangkan karakteristik tenaga kerja yang ada dan berbasis pada kekuatan sumber daya domestik.

”Sementara dari sisi permintaan, tenaga kerja kita harus dilengkapi academic skill, termasuk bahasa Inggris, technical skill dan terutama soft skill,” lanjut Toening.

”Life skill”
Keterampilan secara teknis, menurut Toening, bisa dilatih dalam pekerjaan, tetapi membentuk soft skill, life skill, atau behavioral skill butuh waktu lama, selain yang bersangkutan menyadari dan mau berubah.

Di Jepang, misalnya, dimulai sejak kecil dan dikembangkan mulai dari keluarga. Soft skill di perusahaan Jepang mencakup sikap dan etos kerja, ketelitian, keterampilan, kebersihan, kesegaran, kedisiplinan, bisa ditambah integritas, dan lain-lain.

Penelitian Emanuela Grapello dan kawan-kawan (2011) menunjukkan kesenjangan skill yang dibutuhkan pasar kerja sehingga menjelaskan sebagian alasan meningkatnya angka pengangguran, khususnya di kalangan orang muda. Kesenjangan itu mencakup terutama kemampuan berbahasa Inggris, kepemimpinan, solusi masalah, kreativitas, penghitungan yang tepat, dan technical skill lainnya.

”Sampai sekarang, 60 persen angkatan kerja kita masih berpendidikan rata-rata di bawah SMP,” ujar Toening, ”Namun, naiknya tingkat pendidikan tak berkaitan langsung dengan meningkatnya produktivitas dan persaingan karena lemahnya skill.”

Persoalan lain terkait orang muda (15-29 tahun) yang jumlahnya 69 juta adalah transisi dari sekolah ke lapangan kerja (school-to-work transition), yaitu jangka waktu antara ke luar sekolah (lulus maupun putus sekolah) ke tempat kerja pertama, baik formal (kontrak, permanen), maupun tempat kerja yang secara subyektif diterima.

Menurut Toening, persoalan besar itu tidak ada yang mengurus, padahal waktu lama pada transisi itu akan meninggalkan luka sepanjang hidup, secara individual maupun masyarakat. Tingginya angka pengangguran di kalangan orang muda, termasuk yang tidak sekolah tetapi tidak bekerja (discourage workers), merupakan cermin kesulitan transisi.

Penelitian Toening dan kawan-kawan membandingkan sekolah menengah kejuruan di daerah berbasis pertanian (Lampung) dan daerah rural menuju industri (Jawa Barat), mencoba mencari sebagian jawaban persoalan itu.

Kepala SMK yang meyakini pertanian tak selalu terkait kemiskinan mencari cara-cara kreatif dan inovatif untuk meningkatkan kemampuan guru, termasuk kemampuan menanamkan etika kerja, disiplin dan life skill lainnya kepada siswa. Dia bekerja sama dengan perusahaan agrobisnis sehingga semua lulusannya terserap oleh pasar kerja.

Sebaliknya, di SMK berbasis industri, 40 persen muridnya putus sekolah karena tak tahan mengikuti aturan, tak tahan disiplin. Bahkan, syarat mengambil penduduk sekitar sebagai pekerja, sesuai peraturan daerah, tak berjalan baik karena ketiadaan sumber daya. ”Dari 70, paling hanya lima yang memenuhi syarat,” kata Toening.

Tren ke depan
Kualitas manusia menjadi syarat yang tak bisa ditawar. Namun, berbagai praktik budaya berpotensi menghambat seluruh syarat kemajuan.

Di antaranya, perkawinan usia anak, yang dampaknya sangat panjang. ”Salah satunya adalah tingginya angka kematian bayi dan anak balita dan angka kematian ibu terkait kehamilan, yang masih 359 per 100.000 kelahiran hidup,” ujarnya.

Toening juga mengamati tren meningkatnya jumlah anak. Potret kehidupan keluarga berkecukupan dengan belasan anak bahkan disiarkan melalui televisi.

”Kalau dijadikan panutan oleh mereka yang secara ekonomi tidak mampu, lalu anak-anaknya kurang gizi, penyakitan, bagaimana? Ini kan menyangkut public cost dan beban pemerintah.”

Sejak Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan di Kairo, Mesir, tahun 1994, ada pendekatan dengan nilai-nilai baru. Di antaranya, hak pada setiap pasangan untuk menetapkan jumlah anak dan jarak kehamilan.

Oleh sebab itu, pendidikan yang mendorong orang berpikir jangka panjang dan untuk kepentingan luas menjadi penting. ”Harus ada kepemimpinan yang bisa mendekati mereka dengan cara-cara persuasi dan rasional. Ini adalah kerja bersama.”

Terkait penurunan fertilitas (1980-2000) dibarengi naiknya tingkat kesejahteraan, jumlah lansia meningkat, mencapai 28 juta saat ini, 40 jutaan tahun 2025, dan 71,6 juta dari perkiraan populasi 310 juta, tahun 2050.

Meski jumlah kelompok berpenghasilan menengah naik, kenaikan tersebut lebih banyak pada kelompok berpenghasilan 2 dollar (terbanyak) sampai 20 dollar AS per hari, padahal 31-41 persen lansia masih tinggal dalam keluarga.

Toening menyebut fenomena ”sandwich generation”, yakni generasi yang masih mengurus anak-anak, tetapi harus juga mengurus orangtua. Sumber daya keluarga akan diperebutkan antara yang muda dan lansia.

”Angkatan kerja sekarang adalah lansia di masa depan,” ujar Toening, ”Padahal, pendapatan sekarang boro-boro dipakai menabung. Keamanan kerja juga tak jelas.”

Antara 60-70 persen pekerja saat ini masih terserap di sektor informal dengan upah minimal, tanpa jaminan kesejahteraan. Entah apa jadinya kalau tak ada intervensi.

601ef175c3d94347870846a30855cfedKompas/Agus Susanto

Prof Sri Moertiningsih Adioetomo, SE, MA, PhD

LAHIR
Solo, 20 Mei 1943

PENDIDIKAN
PhD di bidang Demografi, Australian National University (1994), MA (Demografi, ANU, 1981), Sarjana Ekonomi (UI, 1972)

Organisasi profesional: antara lain,
Ikatan Praktisi Ahli Demografi Indonesia, International Union on Scientific Studies on Population (IUSSP), Asosiasi Kependudukan Asia, Wakil Ketua Forum Masyarakat Statistik, menjadi pembicara pada berbagai konferensi internasional dan nasional

PUBLIKASI
sedikitnya 34 publikasi, buku, monograf, jurnal, di dalam dan di luar negeri.

–Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana Pambudy–
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Juni 2015, di halaman 33 dengan judul “Ilmuwan sejati Tak Pernah Berhenti”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: