Spesies Sumber Pangan Liar Terancam Punah

- Editor

Jumat, 10 Mei 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebakaran lahan gambut yang terjadi di Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (25/3/2019). Foto diambil dengan drone.

KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA (ESA)
25-03-2019

Kebakaran lahan gambut yang terjadi di Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (25/3/2019). Foto diambil dengan drone. KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA (ESA) 25-03-2019

Sebanyak 24 persen dari 4.000 spesies sumber pangan liar menuju kepunahan. Padahal keragaman hayati menjadi kunci bagi ketahanan pangan, terutama untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Indonesia telah kehilangan banyak ragam hayati karena kebijakan penyeragaman pangan.

“Tanaman padi di Indonesia termasuk yang paling banyak hilang jenisnya sejak masuknya Revolusi Hijaupada tahun 1970-an. Saat itu ada penyeragaman jenis tanaman padi yang harus ditanam petani,” kata Kepala Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen), Kementerian Pertanian, Mastur, di Jakarta, Kamis (9/5).

Fenomena penyeragaman jenis tanaman ini juga terjadi untuk berbagai tanaman pangan lain. Bahkan, kebijakan pangan bias beras sejak Orde Baru, menyebabkan sumber pangan lain saat ini semakin merosot keberadaannya, misalnya sorgum, jewawut, dan sagu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Laporan Lembaga Pangan dan Pertanian – Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) yang diluncurkan Februari 2019 telah menekankan pentingnya keberagaman hayati bagi keberlangsungan pangan. Disebutkan, saat ini berbagai spesies yang berkontribusi penting bagi sektor pertanian terancam punah, meliputi berbagai jenis burung, kelelawr, hingga serangga yang bisa mengontrol hama dan penyakit, serangga penyerbuk, dan mikroorganisme tanah.

KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN (MKN)–Cacih (80), warga Kampung Gunung Bhakti, Desa Cihanjawar, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (22/11), memanen padi rogol yang ditanam di sawahnya dengan etem atau ani-ani. Meski baru bisa dipanen pada umur tujuh bulan, padi varietas lokal yang diwariskan turun temurun dan memiliki tinggi tanaman hingga 120 sentimeter itu tetap ditanam karena dinilai lebih cocok bagi sawah di ketinggian 900-1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) daerah itu.–Kompas/Mukhamad Kurniawan (MKN)

Spesies yang berkontribusi pada jasa ekosistem yang penting bagi pangan dan pertanian, termasuk penyerbuk, organisme tanah, dan musuh alami hama, dengan cepat menghilang. Penurunan juga terjadi pada spesies sumber pangan liar, meliputi tanaman, ikan, dan mamalia. Dari sekitar 4.000 spesies liar sumber pangan tersebut, 24 persen di antaranya anjlok populasinya.

Menurut ahli serangga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Rosichon Ubaidilah, penyusutan spesies serangga di Indonesia, termasuk di antaranya serangga penyerbuk diperkirakan 30 – 40 persen. Penyusutan spesies serangga akan mengancam produksi tanaman pangan. (Kompas, 9/5/2019).

Laporan terbaru The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) yang diluncurkan pekan ini, menujukkan, praktik buruk di sektor pertanian justru menjadi penyebab utama menurunnya keberagaman flora dan fauna secara global.

Bahaya penyeragaman
Penyeragaman jenis tanaman dan penanaman secara monokultur, menurut Mastur, memicu masalah serius, misalnya serangan hama yang tak terkendali. “Keragaman sumber daya genetik ini menjadi kunci ketahanan pangan kita dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan,” kata Mastur.

Setiap tanaman pangan memiliki karakteristik yang berbeda karena beradaptasi dengan kondisi yang bermacam-macam. Ada tanaman pangan yang tahan di lahan marjinal dan gambut misalnya sagu, dan ada yang tahan kering, seperti sorgum. Kekayaan karakteristik ini seharusnya dioptimalkan sesuai kondisi lokal dan sosial dengan mendorong keberagaman pangan.

Bahkan, tanaman padi memiliki karaketristik beragam. Misalnya, ada yang tahan penyakit blas, wereng, kondisi tanah asam, hingga tanah kering. Produktivitasnya juga beragam, demikian juga kandungan nutrisinya. “Perbedaan karakteristik ini jadi dasar jika kita ingin menghasilkan benih unggul. Contohnya, terkait pemanasan global, kita bisa merakit benih dengan karakteristik tahan kering atau banjir,” ungkapnya.

Upaya penyelamatan sumber daya hayati tanaman pangan di Indonesia salah satunya melalui pembentukan bank gen, salah satunya di BB-Biogen. “Koleksi sumber genetika tanaman pangan dan pertanian kita total sekitar 30.000 aksesi (koleksi yang telah didata). Sebanyak 10.000 di antaranya ada di BB-Biogen. Untuk tanaman padi ada 3.000 aksesi,” kata Mastur.

Jumlah koleksi ini masih sangat kecil, jika dibandingkan negara lain, seperti China yang punya 400.000 aksesi tanaman pangan dan pertanian dan Jepang punya 200.000. Dengan kekayaan hayati berlimpah, seharusnya Indonesia memiliki minimal 500.000 aksesi.

Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Prof Dwi Andreas Santosa mengatakan, sebagian benih lokal padi saat ini masih dimuliakan dan beredar di kalangan petani, sekalipun jumlahnya jauh berkurang. “Reduksi keragaman hayati memang terjadi sejak lama. Dulu tentara ikut memaksa petani menanam padi tertentu saja. Sekarang tidak mudah lagi mencari varietas padi bulu, seperti rojolele, itu tidak mudah lagi,” ucapnya.

Namun, belakangan petani mulai menyadari pentingnya memuliakan dan menanam kembali padi lokal ini, karena banyak di antaranya memiliki mutu unggul. “Salah satunya yang kami kembangkan sekarang adalah padi IF8 yang sudah ditanam beberapa daerah dengan produksi rata-rata 11 ton per hektar. Padi ini juga tahan banjir karena tanamannya mencapai satu meter,” kata dia.

Padi IF8 ini, awalnya ditangkarkan petani di Karanganyar dari persilangan jenis lokal. “Kami terus melakukan pelatihan pemuliaan benih di jaringan kami dan menodorong proses penyilangan dari benih-benih lokal. Ini bagian dari kontribusi untuk melestarikan keragaman hayati di kalangan petani,” kata Dwi.–AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 10 Mei 2019

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 29 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB