Kembangkan Keragaman Jenis Tanaman

- Editor

Rabu, 11 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mempertahankan keanekaragaman jenis tanaman pangan merupakan landasan ketahanan pangan nasional. Jenis pangan pokok tak bisa dipukul rata untuk semua daerah mengingat kondisi lahan berbeda-beda dan sudah ada tanaman yang terbukti tahan pada kondisi tertentu.

“Indonesia tidak bisa diberaskan semuanya. Sesuaikan tanaman pangan dengan lahan tiap daerah,” kata Direktur Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia M Sembiring, Senin (9/5), saat panen sorgum di Dusun Likotuden, Desa Kawaleo, Kecamatan Demon Pagong, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Turut hadir Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong Kung Pr, Asisten Deputi Pangan Kementerian Koordinator Perekonomian Elias Payong Kerar, dan Direktur Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka (Yaspensel) Keuskupan Larantuka Romo Benyamin Daud Pr.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sembiring mengatakan, setiap daerah punya jenis makanan pokok khas dan hidup alami sejak lama, misalnya sagu di Papua. Di NTT, sorgum tumbuh di tengah terik dan susah air. Pemerintah tak perlu takut warga NTT kelaparan jika pasokan beras ke provinsi tersebut minim.

Itu terbukti dari keberhasilan penanaman sorgum di Flores Timur. Sekitar 200 ton sorgum dari 65 hektar lahan tandus di Flores Timur siap dipanen. Paulus Ike Kolah, Kepala Desa Kawalelo, menuturkan, dua tahun ini, padi dan jagung gagal total. Jumlah hari hujan dua bulan setahun, sedangkan padi dan jagung harus ditanam tiga bulan sebelum dipanen. “Hanya sorgum yang tumbuh. Setelah 75 hari bisa dipanen,” ujarnya.

Likotuden sekitar 27 kilometer dari Larantuka, Flores Timur. Itu kawasan pesisir, dan dari sana Pulau Solor, Pulau Adonara, dan Gunung Ile Ape di Lembata terlihat. Sepanjang jalan, hamparan jagung dan padi kering. Namun, sorgum tegak 2 meter dengan biji-biji putih siap dipanen.

Dari 155 keluarga di Desa Kawalelo, 62 keluarga menanam sorgum pada lahan 30 ha. Panen kali ini mencapai 60 ton.

Produktivitas sorgum di desa itu 3-4 ton per ha dan 2 ton per ha jika lahan berbatu. Warga tak menggunakan pupuk kimia, hanya mengandalkan unsur hara lahan. Mereka pun hanya tergantung pada air hujan. “Air lebih baik kami konsumsi,” katanya.

Meski sorgum ideal, lanjut Paulus, perhatian besar pemerintah pada padi, salah satunya subsidi pupuk. Pada tanaman lain, termasuk sorgum, perhatian minim. Namun, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT Amirudin Pohan menuturkan, Kementerian Pertanian memberi perhatian. Ia menunjuk keberadaan Direktur Serealia pada Ditjen Tanaman Pangan.

Ketua Aliansi Petani Lembor Benediktus Pambur, juga petani sorgum di Manggarai Barat, ragu komitmen pemerintah pada tanaman nonberas. Ia dan petani lain menanam sorgum pada lahan kering dan menganggur. Namun, seiring program mencetak sawah padi dan pemilik lahan setuju, 3 ha sorgum dibongkar sebulan sebelum panen. (JOG)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Mei 2016, di halaman 13 dengan judul “Kembangkan Keragaman Jenis Tanaman”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB