Home / Berita / Sosok Ekonomi Para Peneliti; Hidup Layak Asal Kreatif

Sosok Ekonomi Para Peneliti; Hidup Layak Asal Kreatif

ANGGAPAN yang menyebutkan profesi peneliti merupakan pekerjaan ’litbang’(sulit berkembang), kurang menjanjikan, agaknya mesti dipikir ulang, setidaknya jika mengamati kehidupan mereka yang tinggal di Bogor, sekitar 60 km dari Jakarta. Rata-rata peneliti pangan, pertanian dan bioteknologi itu sudah menempatkan diri dalam strata sosial ekonomi menengah ke atas. Bukan pemandangan baru jika sebagian dari mereka kini mengendarai mobil sekelas Corolla atau bahkan BMW.

KESEMPATAN yang dibuka pemerintah untuk peneliti dalam melakukan riset atau membina hubungan kemitraan dengan swasta, tampaknya menjadi modal utama dalam peningkatan status sosial para ilmuwan itu. Dengan segala kreativitasnya, peneliti juga dapat memperoleh tambahan dana dengan menggbungkan diri atau membentuk biro konsultansi, maupun menjadi anggota dalam Riset Unggulan Terpadu (RUT) atau dalam Program Hibah Bersaing, suatu program penelitian yang ditelurkan Depdikbud. Jadi, plesetan bahwa menjadi peneliti termasuk golongan ”litbang”, tampaknya sudah tidak kena lagi.

”Sudah masanya nasib peneliti Indonesia berubah dan mampu hidup sejajar dengan profesi lain. Karena seorang peneliti yang betul-betul mumpuni, pasti ada saja proyek penelitian yang dapat diikutinya. Dia bisa ikut RUT, ikut konsultan atau bekerja sama dengan swasta sehingga pendapatannya bisa berlipat. Kalau dia memang benar peneliti, pasti banyak yang mengikutkan berbicara dalam seminar, menuliskan hasil penelitiannya di media massa, dan banyak lagi kreativitas lain yang dapat dilakukan sesuai kadar keilmuannya,” ujar Kepala Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (Balitbio) Bogor, Dr Ir H Djoko S. Damardjati ketika dihubungi Kompas pekan lalu.

Jumlah peneliti di Balitbio kini mencapai 111 orang, terdiri atas 33 bergelar doktor, 22 magister, dan 53 sarjana S-1. Menurut Djoko, seorang peneIiti murni atau yang semata-mata karena tidak mendapat kerja di tempat lain, pasti memiliki visi ke depan, misalnya mampu merencanakan penelitian serta menuliskan karyanya.

Tidak ada yang akan menghalangi usulan atau perencanaan yang dibuat seorang peneliti, kalau rencana itu memang diperlukan untuk perkembangan ilmu dan teknologi masa mendatang. Peneliti yang seperti ini pasti akan maju dan berkembang dan dia akan didengar. Namun, kalau dia mencari kerja bukan karena dorongan jiwa, otomatis kariernya akan mentok di tengah jalan. Keunggulan peneliti, kata Djoko, terletak pada kreativitas, sehingga di mana pun berada, di daerah terpencil sekalipun, ia bisa bekerja. Peneliti bisa bekerja sama dengan pemerintah daerah, menawarkan rencana sesuai dengan kemampuan ilmiahnya. “Kalau peneliti tidak bisa melakukan itu, berarti ia tidak jeli memanfaatkan peluang,” katanya.

MEMACU kreativitas, agaknya juga merupakan pekerjaan pokok yang dilakukan para peneliti dari Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (PAU-P&G IPB).

Peneliti yang bernaung di sini selalu digenjot kreativitasnya untuk bersaing, tidak perduli dia masih yunior atau senior. Peneliti dipacu lebih banyak berkomunikasi dengan semua pihak terkait, mencari informasi dari jurnal dalam dan luar negeri, aktif menggunakan Internet serta menjaga hubungan dengan relasi.

”Karena dana pemerintah terbatas, tidak mungkin semua biaya penelitian kita harapkan dari penyelenggara negara ini. Makanya kita mulai membina hubungan dengan industri swasta. Kita juga tidak melarang peneliti untuk membuka atau ikut dalam konsultan murni maupun freelance,” kata Prof Dr Ir Dedi Fardiaz Msc, Direktur PAU-P&G IPB.

”Kalau banyak berkomunikasi, kita akan mudah mencari informasi. Kalau mau informasi lain tinggal buka Internet. Saya kalau mau seminar butuh data atau literatur, tinggal buka Internet. Seyogyanya semua peneliti menggunakan teknologi itu. Kalau mau iuran bersama, tentunya akan murah biayanya. Kita juga terbuka buat teman-teman yang di daerah untuk magang atau melakukan penelitian di sini,” tambahnya.

Profesor yang berusia 48 tahun mi mengungkapkan, setelah tiga tahun membangun kemitraan dengan swasta, lembaga penelitian mereka sudah mampu mandiri. Berbagai terobosan dilakukan agar industri yang bergerak dalam bidang pangan dan gizi percaya dan melakukan riset dan pengembangan di tempatnya. Termasuk mengubah sistem penjagaan rahasia formula atau resep perusahaan yang menggunakan jasa mereka. Perusahaan yang melakukan.

Perusahaan yang melakukan penelitian produk dipersilakan memakai semua peralatan yang ada di laboratorium. Mereka bisa magang, mengembangkan produk atau pelatihan program. Rahasia formula tetap dikerjakan orang perusahaan, sementara peneliti PAU-P&G cukup membantu melakukan analisis atau pekerjaan yang dibutuhkan mitranya. Dengan cara begitu, perusahaan swasta tampaknya lebih tertarik. Banyak perusahaan sudah memakai jasa mereka. Walaupun kebanyakan masih berasal dari industri kecil, namun bukan berarti perusahaan raksasa seperti Indofood tidak menggunakan jasa mereka.

Kreativitas peneliti di Pusat Pengkajian Keanekaragaman Hayati Tropika (LPKHT) IPB lain lagi. Lembaga yang baru berdiri 7 Agustus 1995 berani mengambil risiko ”menabur umpan untuk manual ikan”. Mereka tidak segan-segan menawarkan usulan kerja sama program penelitian dan pelatihan dalam pengelolaan sumber daya hutan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan kepada setiap instansi terkait, baik pemerintah maupun swasta. Padahal, sejak awal berdirinya, IPB sebagai tempat bernaung hanya memberi fasilitas perkantoran dan peralatan seadanya untuk melaksanakan aktivitas penelitian.

Tanggal 20 Juni 1996 lalu, lembaga yang masih ”bau kencur” ini mengeluarkan dana tidak sedikit untuk menyelenggarakan diskusi panel Strategi Pembangunan Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah di Hutan Produksi. Pelaksanaan diskusi yang diikuti 100 orang dari berbagai instansi, terutama perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH), kantor Dephut, Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia, WWF dan Komisi Nasional Plasma Nutfah, ternyata berimbas positif. Beberapa waktu setelah itu, PT Barito Pacific Timber Group Jambi memakai jasa mereka dalam menyusun model rencana kawasan pelestarian plasma nutfah di areal HPH-nya.

”Pelaksanaan diskusi itu memang strategi kita. Pada saat itu kita memang merugi, namun kerja itu bagus untuk promosi mendatang. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan, umpan kita ditangkap Barito Group,” ungkap Sekretaris Eksekutii LPKHT IPB, Ir Tutut Sunarminto.

Tutut mengatakan, bukan masanya lagi peneliti menunggu tawaran Pemerintah, baru bisa bekerja. Pola itu harus diubah dengan sistem ”jemput bola”. Mumpung IPB masih mendukung penuh seluruh kerja, ditambah lagi penelitinya masih memiliki back-up pendapatan sebagai dosen. Namun, dalam perkembangan berikutnya, lembaga ini sudah punya bayangan akan memiliki peneliti mandiri.

Pandangan LPKHT sederhana saja, di era sekarang ini di mana semua departemen memiliki lembaga penelitian sendiri, ditambah adanya lembaga kondang seperti LIPI dan BPPT, tentunya membuat pemerintah lebih memprioritaskan riset dan pengembangan Iptek kepada instansi tersebut. Hal itu mau tidak mau tentu akan berimbas kepada makin minimnya kerja lembaga penelitian di luar departemen, LIPI maupun BPPT. Karena itu, peneliti sekarang harus berani mengubah jasa saluran kerjanya ke pihak swasta.

”Dasar berdirinya LPKHT juga disebabkan keunggulan IPB masih dekat dengan pusat kekuasaan, dan banyak memiliki ahli dalam bidangnya. Ditambah lagi perguruan tinggi di wilayah kaya sumber daya alam, seperti Sumatera, Kalimantan maupun Irian belum bergerak dalam bidang ini. Lagi pula keanekaragaman hayati sudah menjadi isu nasional, sehingga kehadiran Iembaga ini sudah mendesak,” ujar Tutut.

KREATIVITAS seorang peneliti, menurut Kepala Laboratorium Kapal dan Instrumentasi Perikanan IPB, Dr Ir Bonar Panlindungan Pasaribu, memang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan ide-ide cemerlang untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, kreativitas itu bukan bertujuan untuk mendapatkan penghasilan tambahan karena alasan pemerintah tidak mampu membayar gaji yang cukup. Apalagi seorang peneliti sampai harus bekerja di luar instansinya hanya untuk menjadi seorang konsultan.

”Adalah kesalahan pemerintah kalau membiarkan penelitinya mencari tambahan di luar instansinya, apalagi menjadi konsultan. Hal itu merugikan pemerintah sendiri karena aparatnya menghabiskan jam dinas,” katanya.

Menurut Pasaribu, agar peneliti bekerja maksimum, idealnya pemerintah harus menaikkan penghasilan para peneliti setingkat doktor atau profesor empat kali lipat dibanding sekarang. Jadi kalau saat ini pendapatan peneliti (termasuk tunjangan) sebesar Rp 1 sampai 1,5 juta, seyogianya ditingkatkan menjadi Rp 4 sampai 6 juta per bulan. Jumlah itu pun baru untuk sekadar hidup dalam pengertian layak dalam strata sosial di masyarakat dan mampu menyekolahkan anak-anaknya, sehingga mereka dapat mengerjakan tugas murni sebagai peneliti tanpa harus disibukkan mencari tambahan dana lain.

Jepang dan negara maju lainnya, kata Pasaribu, selalu mengistimewakan peneliti, termasuk mereka yang berada di perguruan tinggi. Dengan imbalan yang layak peneliti dituntut untuk mengembangkan Iptek sekaligus mendidik dan mencetak sumber daya manusia.

”Tidak ada alasan pemerintah tidak mampu menggaji peneliti lebih besar, kalau memang benar-benar berniat mengembangkan sumber daya manusia (SDM). Saat ini dana APBN selalu lebih diprioritaskan kepada pembangunan fisik dibanding pembangunan SDM. Selalu saja dikatakan dana terbatas. Kenaikan gaji itu tidak ada artinya dibanding karya tidak ternilai yang dihasilkan para peneliti. Kenaikan itu juga kecil bila dibanding sinyalemen kebocoran dana negara sampai 30 persen,” tandasnya.

Pasaribu juga mengungkapkan, kebijakan pemerintah tentang program, RUT, Riset Unggulan Kemitraan, maupun Hibah Bersaing merupakan langkah tambal sulam yang dilakukan dalam meningkatkan penghasilan para peneliti. ”Saya prihatin dengan kondisi penghasilan pokok para peneliti Indonesia. Walau begitu, saya masih berupaya memberi yang terbaik buat Tanah Air ini,” ungkapnya.

Namun, apa pun yang menjadi keprihatinan Pasaribu tentang penghasilan pokok yang diberikan pemerintah, tidak membuat peneliti seperti Djoko, Dedi Fardiaz maupun yang lainnya surut melakukan percobaan demi percobaan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. Bahkan, Djoko beranggapan, kariernya sebagai peneliti merupakan pekerjaan terhormat yang diakui keberadaannya oleh pemerintah dan tidak semua orang bisa melakukannya.

”Saya bisa punya rumah, mobil dan lain-lain karena bekerja sebagai peneliti. Kesenangan bekerja dan penghargaan pemerintah terhadap profesi ini tidak bisa dinilai dengan materi semata. Umur saya belum 50 tahun, namun semua golongan dan jabatan fungsional saya sudah habis dalam waktu relatif singkat. Setiap dua tahun sekali para peneliti yang memiliki kemampuan mendapat prioritas naik golongan. Satu lagi, hasil penelitian kita kalau bisa diterima masyarakat merupakan kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang,” ujar Djoko. (syahnan/fx puniman)
———————-
Dari ”Edible Film” Sampai Rhizoplus

Anda yang sering memasak mi instan pasti pernah mengalami kesulitan saat membuka plastik pembungkus bumbu atau minyak sayur yang terdapat dalam kemasannya. Tidak jarang di saat air mendidih, dan mi mulai lunak, Anda terpaksa mencari gunting atau alat pemotong lain untuk membuka bungkusnya.

Namun, sekarang ini peneliti dari Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (PAU-P&G IPB) sudah menemukan jalan keluarnya. Dengan meracik komponen dari bahan protein kedelai, ditambah ramuan kimia lainnya Prof Dr Ir Dedi Fardiaz Msc sudah berhasil menciptakan edible film (lembaran yang dapat dimakan) sekuat plastik, namun langsung larut ketika direbus.

Bila temuan itu dikembangkan sampai taraf komersial dan dipergunakan untuk membungkus bumbu serta minyak sayur mi instan, tentunya problem sepele namun menjengkelkan itu tidak perlu terjadi lagi.

Dedi yang juga Direktur PAU-P&G IPB mengungkapkan, penemuannya tersebut memang ditujukan untuk menggantikan kemasan plastik, khususnya sebagai bahan primer seperti kemasan bumbu mi instan. Dengan sifat-sifat proteinnya, edible film itu akan hancur saat dipanaskan.

”Keuntungan bahan ini tidak mencemari lingkungan dan memudahkan konsumen untuk mengkonsumsinya. Sifatnya praktis karena kemasan tidak usah dibuka terlebih dahulu,” kata Dedi.

Sampai saat ini penelitian Dedi sudah berhasil membuat edible yang kedap oksigen, serta cukup kuat untuk dibuat kemasan bumbu. Tinggal dalam taraf pengembangan. Dengan kata lain, Dedi menunggu industri mana yang ingin bermitra dengannya untuk menyempurnakan temuan ini sekaligus memasarkannya kepada khalayak. Memang sampai saat ini belum ada kajian ekonomi, apakah produk Dedi bisa lebih murah dibanding plastik. Tapi hal itu bukanlah suatu yang mustahil.

PENGGUNAAN pupuk urea yang unsur utamanya nitrogen sebenarnya bisa dikurangi, asalkan kita mampu mempergunakan komponen alam seperti Rhizobium. Rhizobium adalah organisme tingkat rendah (mikroba) sebangsa bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas di atmosfir. Nitrogen bebas sendiri merupakan unsur terbesar yang mendominasi 70 persen komponen udara. Sayangnya, nitrogen bebas yang berkode kimia N2 ini tidak mampu diikat oleh tumbuhan tingkat tinggi (biasanya ditandai dengan adanya akar, batang, dan daun).

Oleh peneliti lalu dipikirkan dan dicoba bagaimana kalau Rhizobium itu disimbiosiskan dengan tanaman yang memang dapat hidup bersama sepertin kedelai.

Rhizoplus. Begitu nama dagang formulasi pupuk mikroba yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Cipta, hasil penelitian Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (Balitbio) Bogor.

Menurut Kepala Balitbio, Dr Ir Djoko S. Damardjati Rhizoplus merupakan pengembangan dari produk Rhizobium komersial yang pernah ada. Perbedaannya, Rhizoplus memiliki beberapa jenis mikroba efektif multiguna asal Indonesia dengan kemampuan mengikat N2, melarut fosfat dari kompleks calsium-fosfat dan aluminium-fosfat serta memiliki toleransi terhadap kondisi tercekam seperti kemasaman tanah aluminium dan kekeringan. Artinya, Rhizoplus memiliki kemampuan efisiensi penggunaan pupuk nitrogen (Urea), fosfat (TSP), dan kapur.

Bermitra dengan pengusaha pribumi, PT Hobson Interbuana Indonesia yang menginvestasi dana Rp 500 juta, telah dilakukan aplikasi Rhizoplus di Lebak (Banten-Jabar), Muktiharjo (Pati-Jateng), Seputihbanyak (Lampung). Hasilnya, pupuk biologi ini mampu menekan kebutuhan pupuk P sebesar 50 persen, (rekomendasi 100 kg TSP menjadi 50 kg TSP/hektar) dan tidak membutuhkan pupuk N (Urea).

Saat diperkenalkan kepada petani, khususnya petani kedelai di petak percontohan (demplot) Jember, Banyumas dan Cianjur, Rhizoplus bisa mengurangi kebutuhan urea sampai 100 persen, dan SP3 sampai 50 persen dari dosis rekomendasi untuk pertanian kedelai. Di ketiga daerah percontohan itu, efisiensi penggunaan pupuk urea dan SP3 dapat mengurangi biaya Rp 44.750 sampai 56.000 per hektar. Dengan penggunaan Rhizoplus, petani cuma mengeluarkan biaya Rp 20.000 per hektar.

Bukan hanya efisiensi pupuk yang ditunjukkan Rhizoplus, produksi panenan ternyata juga meningkat. Dari percobaan di Jember dan Banyumas, terdapat peningkatan produksi 2,4 kuintal per hektar, sedang di Magetan mencapai 7,3 kuintal. Secara total penggunaan, Rhizoplus dapat menguntungkan petani Rp 236.000 sampal 627.000 per hektar.

”Dari penelitian dan aplikasi lapangan yang telah kita lakukan, RhizOplus mampu menekan penggunaan urea sampai 100 persen. Artinya, tidak dipupuk urea sekalipun, kedelai tetap berproduksi, bahkan hasilnya lebih besar. Namun untuk tahap awal, kita tidak berani mengatakan kepada petani untuk tidak menggunakan urea secara total. Kita merekomendasikan penggunaan pupuk urea, TSP atau SP3 masing-masing 50 persen,” ujar Djoko.

Dalam jalur distribusi pupuk mikroba ini, Djoko berharap, mitra swastanya mampu mengubah kegagalan penjualan produk sejenis yang dikeluarkan terdahulu. Bahkan dia menyarankan, perusahaan harus memiliki jalur peredaran langsung ke petani dan harus berani menarik produk itu bila sudah lewati ambang waktu.

Meskipun menunjukkan hasil fantastis, Djoko tidak berani sesumbar bahwa hasil penelitian yang dikembangkan lembaganya pasti akan membawa perubahan dalam produksi kedelai nasional. Namun kalau Rhizoplus memang terbukti unggul, dan 30 persen saja dari total 1,4 juta hektar luas panenan kedelai nasional diaplikasi dengan produksi tambahan satu kuintal per hektar, aplikasi pupuk ini tentu mampu membuat Indonesia berswasembada kedelai. Data Departemen, Pertanian menyebutkan, kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,3 juta ton per tahun, sementara total produksi hanya 1,8 juta ton. (sah/pun)

Hasil aplikasi rhizoplus pada tanaman kedelai  di Desa Carikan, Kabupaten Banyumas

Dosis pupuk (kg/ha) Hasil
Urea SP36 KCl Rhizoplus (gr) (kg/ha)
0 25 50 150 1.731
0 50 100 150 1.791 *)
25 100 100 150 1.757
25 100 100 0 1550
Keterangan:

*) tambahan keuntungan:

1. Efisiensi pemupukan Urea   25 kg x Rp 450 = Rp 11.250

2. Efisiensi pemupukan SP36        50 kg x Rp 650    = Rp  32.250

3. Peningkatan produksi        241 kg x Rp 800 = Rp 192.800

Total tambahan keuntungan memakai Rhizoplus   = Rp 236.550

Sumber: Balitbio

Sumber: Kompas, Sabtu 18 Januari 1997
—————-
Istilah ekonomi
Asisien Peneliti: Golongan peneliti pertama yang bertugas membantu proses penelitian dan menerbitkan laporan/hasil penelitian. Terdiri dari dua golongan, Asisten Muda dan Madya.

Ajun Peneliti: Golongan peneliti yang mulai merumuskan, merencanakan, melakukan dan menerbitkan penelitian, namun masih di bawah bimbingan dan pengawasan peneliti atau ahli peneliti. Terbagi atas Ajun Peneliti Muda dan Madya.

Ahli Peneliti: Golongan Peneliti terakhir yang mengerjakan semua tugas peneliti, serta mengarahkan dan membimbing pepeliti di bawahnya, merumuskan arah perkembangan Iptek dan memupuk perkembangan kehidupan ilmiah nasional dan internasional. Terbagi tiga, yakni Ahli Peneliti Muda, Madya dan Utama. Golongan ini diatur SK Menpan No.01/Menpan/ 1983.

Peneliti: Golongan peneliti yang merencanakan, meneliti, merumuskan panelitian tanpa bimbingan dan pengawasan, serta sudah membantu golongan peneliti di bawahnya. Membantu merumuskan arah kebijakan ilmu dan pengetahuan. Terbagi atas Peneliti Muda dan Madya. (sah)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: