Home / Berita / Sosialisasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja Minim

Sosialisasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja Minim

Akses remaja terhadap pendidikan seksualitas yang komprehensif dinilai terbatas. Padahal, itu diyakini mencegah perilaku seksual berisiko pada remaja.

Menurut Program Manager Access, Service, and Knowledge Rutgers WPF Harry Kurniawan di Jakarta, Kamis (5/11), selama ini tak banyak program keluarga berencana yang menyasar kelompok usia 10-24 tahun. Padahal, di usia itu, dorongan seksual berkembang dan mereka secara sosial mulai berinteraksi dengan banyak orang sehingga rentan berperilaku seksual berisiko.

“Pernikahan di bawah usia 18 tahun masih banyak, sebagian karena kehamilan tak diinginkan. Ujungnya, ada yang bercerai karena belum siap berkeluarga. Ada juga kehamilan tak diinginkan yang berujung pada aborsi tak aman dan berisiko,” kata Harry.

Untuk mencegah kehamilan tidak diinginkan pada remaja, pendidikan seksual secara komprehensif perlu diberikan. Harapannya, remaja menunda berhubungan intim sampai mereka menikah. Jika remaja aktif secara seksual, seharusnya ia mendapat layanan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan tak diinginkan.

Remaja umumnya mencari informasi kesehatan reproduksi yang rinci dari internet. Namun, mereka mencari informasi saat menghadapi masalah saja. Sayangnya, informasi di internet tak selalu benar dan tak praktis dipahami remaja, bahkan mengandung unsur pornografi.

“Ketika remaja hamil, mereka akan mencari cara sendiri untuk mengatasinya sebelum pergi ke fasilitas kesehatan. Akibatnya, terlambat ditangani di fasilitas layanan kesehatan,” ucap Harry.

Perilaku berisiko
Ketua Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Sonny B Harmadi mengatakan, kasus kehamilan tak diinginkan akibat perilaku seks berisiko di kalangan remaja mengkhawatirkan karena terkait kematian ibu. Solusinya bukan yang berorientasi pada hak seksual, melainkan hak kesehatan reproduksi.

Pada pendidikan kesehatan reproduksi, remaja akan diedukasi tentang alat reproduksi mereka, bagaimana menjaganya, dan apa yang bisa muncul jika perilaku mereka berisiko. Dengan demikian, remaja diharapkan bisa menjaga perilakunya dengan baik.

Menurut Sonny, sejauh ini target-target terkait kesehatan reproduksi telah ditetapkan di antaranya penurunan kehamilan tak diinginkan dan penurunan perilaku seks berisiko. “Program intervensi pada remaja sudah banyak, tetapi kita terus berlomba dengan banyak hal mulai dari membanjirnya informasi dari internet, angka putus sekolah, dan soal pengangguran,” ujarnya.

Sexual and Gender Basic Violance Rutgers WPF, Siska Dewi Noya, menambahkan, keberhasilan keluarga berencana tak bisa dilepaskan dari peran laki-laki. Karena itu, pelibatan pria dalam program KB jadi penentu.

Sayangnya, dari dulu hingga kini persepsi laki-laki terhadap KB tak berubah. Persepsi mereka lebih didominasi mitos daripada fakta yang benar tentang KB. Misalnya, kaum pria umumnya beranggapan KB merupakan urusan perempuan. Kondisi itu mengakibatkan pria kurang terlibat dalam perencanaan kehamilan, termasuk penggunaan alat kontrasepsi. (ADH)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 November 2015, di halaman 13 dengan judul “Sosialisasi Pendidikan bagi Remaja Minim”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: