Home / Berita / Solusi dari Bantalan Kapal Karet Alam

Solusi dari Bantalan Kapal Karet Alam

Bantalan kapal berbahan karet hasil inovasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi tak hanya mengatasi ketergantungan impor bantalan kapal, tetapi juga menjadi solusi untuk mendorong industri karet nasional.

Senin (8/4/2019), untuk pertama kali PT Samudera Luas Paramacitra di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat memasarkan bantalan kapal. Sebanyak 10 unit bantalan kapal dikirim ke PT Dok dan Perkapalan Air Kantung. Alat untuk membantu menaikkan dan menurunkan kapal dari galangan yang berbentuk tabung sepanjang 12 meter dan diameter 2 meter dengan dua katup di ujungnya tersebut merupakan karya anak negeri.

Bantalan kapal berbahan karet alam atau rubber airbag buatan dalam negeri diproduksi di pabrik PT Samudera Luas Paramacitra, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (8/4/2019). Untuk pertama kali, produk hasil kerja sama PT SLP, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tersebut dikomersialisasikan. Selama ini, rubber airbag didatangkan dari luar negeri.–KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI (IKI)–08-04-2019

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI–Bantalan kapal berbahan karet alam atau rubber airbag buatan dalam negeri diproduksi di pabrik PT Samudera Luas Paramacitra (SLP), Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (8/4/2019). Untuk pertama kali, produk hasil kerja sama PT SLP, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tersebut dikomersialkan. Selama ini, rubber airbag didatangkan dari luar negeri.

Direktur Pusat Teknologi Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Mahendra Anggaravidya mengatakan, pengembangan bantalan kapal (rubber airbag) tersebut dimulai pada 2014. Saat itu, kata dia, harga karet di tingkat petani jatuh dari biasanya di atas Rp 10.000 per kilogram menjadi Rp 4.000 per kg. Salah satu penyebabnya, harga karet terpengaruh harga dunia sementara industri hilir belum sepenuhnya terbangun.

Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua dunia setelah Thailand. Berdasar data Kementerian Perindustrian, produksi karet per tahun mencapai 3,5 juta ton. Namun, yang diserap industri di hilir tidak lebih dari 19 persen atau hanya 665.000 ton. Industri ban tercatat terbanyak menyerap karet, yakni sekitar 280.000 ton.

Berdasar data Kementerian Perindustrian, produksi karet per tahun mencapai 3,5 juta ton. Namun, yang diserap industri di hilir tidak lebih dari 19 persen atau hanya 665.000 ton.

“Kami melihat rubber airbag bisa menjadi solusi atas masalah ini,” ucap Mahendra. Selama ini, dari catatan BPPT, kata dia, Indonesia mengimpor 1.500 unit bantalan kapal per tahun. China menjadi negara pengekspor utama. Nilainya mencapai 10 juta dollar Amerika Serikat atau lebih dari Rp 140 miliar. Padahal, produk tersebut berbahan karet sintetis.

Tim perekayasa BPPT pun membedah produk itu untuk mencari komponen penyusunnya. Karena tidak ada acuan rubber airbag berbahan karet alam, tim harus menempuh serangkaian percobaan di laboratorium. Penelitian ini juga didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Awalnya, getah karet mentah dari petani di Sumatera Selatan diambil untuk dibersihkan dan diawetkan hingga menjadi karet padat. Setelah itu, karet dicampur formula cairan kimia, seperti aktivator dan akselerator.

“Bahan itu harus diimpor karena tidak ada di sini. Namun, komponen karet lokal mencapai 60 persen dari produk,” ucap Kepala Program Inovasi Rubber Airbag BPPT Ade Sholeh Hidayat. Bahan lainnya adalah kanvas benang dan besi.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Hammam Riza (helm biru) meninjau bantalan kapal berbahan karet alam atau rubber airbag buatan dalam negeri di pabrik PT Samudera Luas Paramacitra, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (8/4/2019). Untuk pertama kali, produk hasil kerja sama PT SLP, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tersebut dikomersialisasikan. Selama ini, rubber airbag didatangkan dari luar negeri.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI–Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Hammam Riza (helm biru) meninjau bantalan kapal berbahan karet alam atau rubber airbag buatan dalam negeri di pabrik PT Samudera Luas Paramacitra, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (8/4/2019). Untuk pertama kali, produk hasil kerja sama PT SLP, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tersebut dikomersialisasikan. Selama ini, rubber airbag didatangkan dari luar negeri.

Standar internasional
Setelah mendapatkan formula yang sesuai, BPPT menggandeng PT Samudera Luas Paramacitra (SLP) dan dua industri di Bandung (Jabar) dan Gresik (Jawa Timur) pada 2017. Kerja sama tersebut dibutuhkan karena BPPT tidak memiliki fasilitas uji. Tidak mungkin membuat bantalan kapal hanya di laboratorium. Dari tiga industri tersebut, hanya uji coba di PT SLP yang berhasil.

Setidaknya uji coba digelar empat kali di pabrik, dari elastisitas hingga tekanan produk. Ketika mengalami tekanan deformasi 70 persen, misalnya, nilai bantalan kapal itu tercatat 274,20 kiloPascal (kPa). Jumlah itu di atas ketentuan ISO (International Organization for Standardization)14409:2011, yakni 245 kPa.

“Artinya, rubber airbag buatan kami lebih kuat saat ditekan kapal. Kalau kurang dari ketentuan, bisa meletus,” ucap Ade. Kapasitas bantalan juga mencapai 230,01 kilonewton per meter (kN/M), di atas ketentuan ISO 14409:2011, yakni 215 kN/M. Dengan begitu, setiap meter panjang bantalan kapal mampu menahan beban sebesar 23,45 ton.

Produk itu bahkan dinyatakan lebih tahan gesekan hingga 30 persen dibandingkan produk impor. Produk itu juga mampu menahan tekanan hingga 4 bar. Bantalan kapal itu pun dapat digunakan kembali 65-80 kali atau sepanjang 10 tahun. Aneka keunggulannya ini berasal dari karet alam.

Namun, kelebihan tersebut bukan tanpa kendala. “Kami belum pernah membuat bantalan kapal sehingga butuh ujian bahkan dengan kapalnya. Awalnya, bikin satu unit butuh tiga bulan. Sekarang, bisa buat satu unit sebulan. Kami masih mendampingi pekerja di pabrik,” kata Ade.

Direktur Utama PT SLP Martin Limansubroto mengatakan, dengan temuan bantalan kapal itu, industri perkapalan tidak lagi harus menunggu produk datang dari luar negeri dan mengurus izin impor. Apalagi, produk itu telah memiliki standar nasional Indonesia (SNI) bernomor 8549:2018.

“Produk ini juga lebih hemat 10 persen dibandingkan rubber airbag impor karena bahan baku berasal dari Indonesia,” ujarnya.

Martin berharap, kehadiran bantalan kapal karet alam dapat mengurangi 20-30 persen ketergantungan 100 persen terhadap impor rubber airbag.

Pihaknya bersama BPPT dan Kemristek dan Dikti juga tengah mengembangkan pneumatic fender berdiameter 1,2 m dan panjang 2 m dengan bahan karet alam. Alat ini untuk melindungi agar kapal tidak terbentur ketika bersandar. Produk ini juga telah memiliki ISO 17357-1:2014.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, inovasi tersebut tidak hanya sebagai penemuan produk tetapi juga menjawab kebutuhan pasar. “Sekitar 600.000 ton karet akan dibutuhkan. Ini akan membantu petani karet karena produksinya diserap,” ungkapnya.

Menurut dia, tingkat komponen dalam negeri pada bantalan kapal tersebut sekitar 80 persen. Ini menjadi angin segar bagi industri perkapalan dalam negeri yang sedang kembang kempis. Sebab, sekitar 70 persen komponen kapal masih impor. Saat ini, terdapat lebih dari 12.000 kapal dengan 240 unit galangan kapal di Indonesia.

Bantalan kapal berbahan karet alam atau rubber airbag buatan dalam negeri di pabrik PT Samudera Luas Paramacitra, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (8/4/2019). Untuk pertama kali, produk hasil kerja sama PT SLP, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tersebut dikomersialisasikan. Selama ini, rubber airbag didatangkan dari luar negeri.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI–Bantalan kapal berbahan karet alam atau rubber airbag buatan dalam negeri di pabrik PT Samudera Luas Paramacitra, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (8/4/2019). Untuk pertama kali, produk hasil kerja sama PT SLP, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tersebut dikomersialisasikan. Selama ini, rubber airbag didatangkan dari luar negeri.

Kepala Subdirektorat Industri Plastik dan Karet Hilir Kementerian perindustrian Rizky Aditya Wijaya menambahkan, rubber airbag dalam negeri dengan sertifikasi ISO 14409 telah diharmonisasikan antara negara di Asia Tenggara. “Indonesia yang pertama memiliki ISO tersebut. Artinya, standar bantalan kapal kita sama dengan negara di Asia Tenggara. Ekspor pun bisa dilakukan,” ujarnya.

Bantalan kapal berbahan karet alam itu menjadi contoh bagaimana inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi menyelesaikan persoalan kemandirian industri kapal sekaligus anjloknya harga karet. Tentu saja ini dengan kolaborasi peneliti, pemerintah dan industri.

Oleh ABDULLAH FIKRI ASHRI

Sumber: Kompas, 15 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: