Home / Artikel / Sistem Komunikasi Satelit

Sistem Komunikasi Satelit

SATELIT Palapa sebenarnya merupakan stasiun pengulang (repeater) yang terletak di angkasa seperti halnya pada sistem komunikasi radio biasa. Satelit Palapa terdiri atas beberapa unit peralatan, yaitu:
– Perangkat komunikasi yang disebut transponder
– Perangkat pengendali posisi satelit agar satelit tetap pada orbit dan ketinggian yang ditentukan. Hal ini perlu dilakukan karena pada kenyataannya satelit mungkin akan mengalami penyimpangan posisi orbitnya sehingga diperlukan suatu koreksi yang dilakukan oleh pengendali posisi yang akan mengoreksi penyimpangan tersebut dengan memerintahkan motor penggerak (apogee motor) agar satelit kembali ke posisi yang sebenarnya.
– Perangkat catu daya yang terdiri atas solar sel yang merubah energi sinar matahari ke energi listrik,dan batere untuk menyimpan energi listrik dari solar sel tersebut.
– Telemetring, tracking, dan telecomand yang berfungsi sebagai sarana untuk melakukan pengukuran (pemantauan) dan pengaturan parameter-parameter satelit yang dilakukan dari stasiun bumi pengendali sedangkan tracking untuk mengendalikan antena stasiun bumi agar tetap berada pada garis lurus dengan poros antena satelit akibat adanya penyimpangan dan koreksi pada posisi satelit.
– Motor penggerak (apogee motor) untuk menggerakan satelit ke posisi yang sebenarnya sesuai dengan instruksi perangkat pengendali posisi.

ORBIT & KETINGGIAN
Ada dua jenis satelit di lihat dari segi penempatan pada orbitnya yaitu:
1. Satelit yang lintasannya mengelilingi bumi beberapa kali perhari dengan ketinggian rendah. Satelit ini umum digunakan antara lain untuk keperluan pemetaan, penentuan posisi kapal.
2. Satelit Geostasioner yang lintasannya sama dengan perputaran bumi dengan ketinggian sekitar 36.000 km. Satelit ini yang digunakan untuk keperluan telekomunikasi.

Di samping itu terdapat pula satelit geostasioner dengan ketinggian rendah, sekitar 500 km. Makin rendah ketinggiannya makin sempit liputannya di bumi, tetapi karena jaraknya lebih pendek maka daya yang diterima akan lebih besar dibandingkan dengan satelit yang ketinggiaannya 36.000 km, sehingga untuk daya pada satelit yang sama, ukuran antena pada stasiun bumi akan lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan satelit berorbit tinggi.

TRANSPONDER
Transponder merupakan bagian satelit yang berfungsi sebagai alat komunikasi yang terdiri atas sejumlah perangkat radio yang berfungsi untuk:
-Merubah frekuensi radio dari stasiun bumi pengirim ke frekuensi radio tertentu untuk dipancarkan ke stasiun bumi penerima dan
– menguatkan kembali daya gelombang radio yang diterima dari stasiun bumi pengirim ke stasiun bumi penerima.

Frekuensi yang dipancarkan dari stasiun bumi satelit pada satelit Palapa menggunakan frekuensi 6 GHz atau 6.000 MHz sedangkan frekuensi dari satelit ke stasiun bumi menggunakan frekuensi 4 GHz. Jalur frekuensi ini dikenal dengan jalur C-band. Ada beberapa satelit menggunakan jalur frekuensi lain misalnya jalur Ku-Band yaitu menggunakan frekuensi 14 dan 12 GHz, L b and untuk frekuensi 1,6 dan 1,5 GHz khusus untuk keperluan komunikasi bergerak, a.l. keperluan komunikasi maritim.

Jumlah transponder pada satelit tergantung dari kebutuhan. Untuk Palapa B terdapat 24 transponder yang beroperasi pada jalur frekuensi C-Band. Berbeda dengan stasiun pengulang radio pada umumnya (di darat), besar daya pancar transponder tergantung dari daya pancar stasiun bumi yang dikirim ke satelit. Agar daya pancar transponder berada pada titik optimum (titik jenuhnya) diperlukan daya tertentu dari stasiun bumi ke transponder. Sedangkan pada stasiun pengulang, umumnya daya pancarnya boleh dikatakan tetap dan tidak tergantung dari daya yang diterima. Demikian pula frekuensinya. Pada transponder frekuensi yang dipancarkan ke bumi besarnya tergantung dari frekuensi yang diterima transponder sehingga bila terdapat sejumlah stasiun bumi dipancarkan ke satu transponder yang sama dengan frekuensi yang berbeda (tetapi tetap pada pita 6 GHz), maka masing-masing stasiun bumi informasinya dipancarkan kembali oleh transponder ke bumi dengan frekuensi yang berbeda hanya terletak pada pita frekuensi 4 GHz.

Perangkat radio pada transponder harus dibuat sesederhana mungkin untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kerusakan, memperingankan beban satelit dan untuk memperkecil pemakaian daya listrik.

Meskipun tedapat sejumlah transponder, tetapi antena yang digunakan cukup satu. Satelit umumnya menggunakan antena parabola atau offset parabola yaitu antena di mana parabola berfungsi sebagai reflektor yang dilengkapi dengan feed horn yang terletak pada titik fokus parabola yang fungsinya sebagai pencatu gelombang radio dari pemancar atau penerima pada transponder yang selanjutnya dipancarkan atau diterima setelah dipantulkan oleh reflektor parabola. Luas liputan atau dikenal dengan istilah foot print atau coverage dari satelit ditentukan oleh antenanya. Satelit yang antenanya mempunyai liputan untuk satu wilayah tertentu, dinamakan satelit dengan ‘liputan global’ yaitu sama seperti pada satelit Palapa. Sedangkan satelit yang mempunyai beberapa daerah liputan misalnya pada satelit Intelsat, diperlukan beberapa antena yang masing-masing mempunyai liputan tersendiri. Liputan Palapa liputan ke seluruh wilayah Nusan-tara sampai ke negara-negara Asean.

KEUNTUNGAN
Dengan menggunakan sistem komunikasi satelit, hubungan jarak jauh antara dua kota misalnya Jakarta dengan Surabaya, cukup dilakukan melalui stasiun bumi di masing-masing kota yang pembangunannya mudah, cepat, dan tidak diperlukan tanah yang luas sehingga dapat dibangun di kantor telepon bersangkutan. Berbeda dengan sistem transmisi terestrial atau daratan di mana diperlukan sejumlah stasiun pengulang yang umumnya terletak di daerah terpencil misalnya di daerah pegunungan sehingga pembangunannya memerlukan biaya dan waktu yang cukup besar antara lain waktu dan biaya pengamatan (survei) di lapangan, guna menentukan lokasi yang tepat, menghindari berbagai halangan, baik gedung maupun bukit-bukit, sehingga dapat di’lihat’ oleh stasiun berikutnya. Waktu dan biaya untuk mendirikan menara antena cukup tinggi, selain itu diperlukan juga tanah yang cukup luas, biaya untuk memba.gun jalan masuk tersendiri, serta biaya transportasi dari kota ke lokasi. Di samping itu, dengan adanya sejumlah stasiun pengulang, diperlukan biaya yang cukup besar untuk pemeliharaan dan pengoperasiannya.

Jadi dengan adanya satelit Palapa, komunikasi ke semua tempat di seluruh pelosok tanah air sangat mudah dilakukan. Cukup dengan mendirikan stasiun bumi di lokasi yang diperlukan dalam waktu yang singkat, mudah, dan murah (dibandingkan dengan sistem transmisi lainnya). Di samping itu pula tidak hanya komunikasi pembicaraan (telepon) saja tetapi juga komunikasi data dan siaran TV dapat terlaksana dengan mudah sehingga seakan-akan tidak ada jarak pemisah antara kota dengan kota lainnya di tanah air. Medan dengan Ambon misalnya serasa di depan mata. Masyarakat di seluruh tanah air merasa satu sehingga tidak ada perbedaan persepsi maupun pola berpikir karena masing-masing merasa dalam satu kesatuan yang terwujudkan dalam satu wawasan Nusantara.

Mengenai kehandalanya dilihat dari segi kemungkinan terjadinya kerusakan dan gangguan tranmisi, sistem komunikasi satelit lebih unggul karena jumlah peralatan yang digunakan lebih sedikit dibandingkan dengan sistem komunikasi terestrial —yang mempunyai banyak stasiun pengulang di samping satelitnya sendiri menggunakan teknologi yang sederhana. Hal ini memang dibuat sedemikian rupa guna mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan dan penggunaan daya listrik yang besar, sedangkan gangguan transmisi lintasan propagasi pada komunikasi satelit, lebih kecil ketimbang pada komunikasi terestrial yang banyak mengalami gangguan antara lainfading karena lapisan atmosfer, interferensi dengan stasiun radio lainnya dan gangguan gelombang pantul.

Masih banyak lagi keunggulan-keunggulan penggunaan komunikasi satelit dibandingkan dengan komunikasi terestrial, misalnya dalam pengembangannya baik pengembangan kapasitas maupun pengembangan teknologi pada komunikasi satelit cukup dilakukan pada stasiun buminya. Tetapi pengembangan komunikasi terestrial memerlukan waktu dan biaya yang besar karena adanya perubahan/ pengembangan setiap stasiun pengulang yang jumlahnya sangat banyak. Lebih menguntungkan lagi untuk hubungan antar pulau diperlukan saluran kabel laut yang cukup panjang.

KELEMAHAN
Kelemahan menggunakan sistem komunikasi satelit terutama karena umurnya sangat terbatas. Secara umum, umur satelit hanya sampai tujuh tahun, hal ini disebabkan karena keterbatasan bahan bakar pada motor penggerak (apogee motor). Di samping itu, besar kemungkinan terjadinya penggeseran satelit dari orbitnya sedemikian rupa sampai tidak dapat lagi dikendalikan dari stasiun pengendali. Hal ini mungkin terjadi, misalnya ada gangguan pada bagian pengendali posisi, adanya gangguan pada stasiun pengendali itu sendiri atau mungkin juga satelit tersebut dikendalikan oleh pihak lain yang tidak berkepentingan. Bila hal ini terjadi, maka seluruh sistem komuniksi akan terputus. Kelemahan lain terletak pada saat peluncuran, kemungkinan gagal cukup besar, dilihat dari pengalaman yang terjadi. Di lihat dari segi kerahasiannya, dengan menggunakan komunikasi satelit, infomasinya sangat mudah disadap. Dan juga pembangunan dan peluncurannya masih sangat tegantung dari negara lain.

Investasi yang diberikan untuk pembuatan satelit maupun untuk peluncurannya masih cukup mahal terutama ditambah dengan biaya asuransi yang masih harus diperhitungankan, serta satelit cadangan. Di samping itu investasi yang diberikan untuk satelit sangat besar karena satelit yang diluncurkan harus mampu melayani komunikasi nasional untuk jangka waktu maksimum tujuh tahun, berarti selama tujuh tahun kapasitas satelit harus penuh terpakai.

EFISIENSI SATELIT PALAPA
Seperti yang dijelaskan di atas, agar satelit beroperasi secara optimal seluruh transpondernya harus sudah dipergunakan semuanya sebelum masa operasinya berakhir. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, salah satunya adalah dengan menyewakan beberapa transponder ke beberapa negara Asean untuk berbagai keperluan. Tetapi harus diingat dengan adanya satelit AsiaSat (Lihat artikel Peluncuran Satelit Cina – RED) yang telah diluncurkan pada bulan April yang lalu di mana liputannya lebih luas hampir seluruh benua Asia, negara-negara ASEAN, yang tadinya menyewa transponder Palapa akan beralih ke satelit AsiaSat yang baru. Hal ini harus dipertimbangkan agar pihak Indonesia harus berusaha lebih keras untuk menarik negara ASEAN tetap menyewa satelit Palapa, bahkan bila memungkinkan penggunaannya diperluas untuk keperluan-keperluan lainnya, misalnya untuk pendidikan terpadu se- ASEAN, siaran TV se ASEAN, pertukaran informasi data untuk keperluan perdagangan; pariwisata, penerbangan, langsung ke pemakai. Pengoperasian Palapa harus otonom agar dapat berkonsentrasi untuk mencari usaha sendiri. Bahkan dengan terbentuknya usaha otonomi dalam bentuk persero. Palapa dapat dikelola secara bersama secara regional dengan pihak lain terutama pihak luar negeri, misalnya dengan pengelola AsiaSat.

Penggunaan Palapa untuk keperluan domestik harus lebih digalakkan, a.l. diusahakan agar hubungan SLJJ ke setiap kota-kota kecil dihubungkan melalui satelit Palapa di samping saluran transmisi lainnya yang berfungsi sebagai back-up dengan mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi. Selain itu, kemungkinan pengoperasian Palapa di otonomikan dapat terlaksana karena batasan usaha dengan pihak Perumtel lebih jelas, yaitu sampai batas SLJJ dipegang oleh pengelola satelit Palapa dan komunikasi lokal dikelola oleh Perumtel.

Dengan adanya teknologi VSAT (Very Small Aperture Terminal), penyaluran data dengan kecepatan rendah (sampai 9.600 bit/detik) perlu digalakan untuk keperluan-keperluan business, perbankan, transportasi, pariwisata, hankam, perminyakan, kehutanan, dan sebagainya. Dengan menempatkan stasiun bumi mikro (VSAT) dengan antena berukuran kecil (diameter 1,8 meter) di setiap kantor-kantor cabang atau di lapangan (site office) hubungan data dari ke kantor pusat dapat dilakukan secara langsung tanpa melalui jaringan telepon umum sehingga pembangunannya (instalasi) maupun pengoperasiannya tidak tergantung dari jaringan telepon Perumtel.

Indonesia, sebagai negara berkembang yang terdiri atas kepulauan dan pedesaan, penggunaan satelit lebih tepat karena untuk menghubungkan daerah yang sangat terpencil cukup dengan mendirikan stasiun bumi kecil, sehingga tidak diperlukan membangun stasiun-stasiun radio yang pemba-ngunannya tidak seimbang dengan pemasukannya. Demikian pula untuk kegiatan-kegiatan di lapangan, seperti di perminyakan, cukup mendirikan stasiun bumi kecil di lokasi terpencil. Salah satu teknologi yang tepat digunakan untuk keperluan di lapangan dan di pedesaan adalah TSAT (T-carrier Small Aperture Terminal) yang merupakan teknologi gabungan SCPC dengan VSAT. Kemampuan TSAT dapat menyalurkan sinyal dijital sebanyak 30 kanal. Jadi dengan menggunakan TSAT beberapa kanal telepon bersama data dapat disalurkan melalui satelit asal kecepatannya tidak lebih dari 2.048 Mbit/detik.

Disamping untuk komunikasi telepon, penggunaan satelit sebagai sarana untuk penyebaran siaran televisi di seluruh pelosok tanah air perlu diperluas baik sebagai penyebaran informasi maupun pendidikan, sangat efisien dan murah, karena daerah-daerah yang terpencil dapat menerima siaran TV dengan menggunakan perangkat TVRO (yang dikenal dengan sistem antena parabola) dipancarkan kembali dengan menggunakan pemancar TV kecil ke para pirsawan.

Bila perlu siaran nasional lebih dari satu saluran, misalnya untuk keperluan pendidikan, juga memberikan kesempatan kepada TV- TV swasta untuk memanfaatkan Palapa untuk penyiaran ke seluruh tanah air dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai moral, budaya, keamanan, dan ketahanan nasional.

PALAPA C
Dalam merencanakan satelit Palapa generasi selanjutnya perlu dipikirkan kemungkinan menggunakan teknologi-teknologi baru. Sebelum diputuskan apakah teknologi itu dapat diterapkan atau tidak, terlebih dahulu harus dipelajari apakah dengan adanya penambahan teknologi-teknologi baru pada satelit generasi selanjutnya masih cukup feasible terutama dari segi ekonomi sehingga jangan sampai tidak menghasilkan pemasukan yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan dengan penempatan teknologi baru tersebut, kecuali bila masalah tersebut dipandang secara politis, diperlukan. Salah satu teknologi baru yang dapat diterapkan pada satelit Palapa yang masa datang ialah penggunaan frekuensi Ku-Band yaitu frekuensi pada pita 14 dan 12 GHz. Keuntungan menggunakan frekuensi tersebut, peralatan stasiun buminya terutama diameter antena yang digunakan lebih kecil sehingga pemasangannya lebih mudah.

Sebagai contoh, penyaluran data dengan kecepatan 2.400 bitidetik (hubungan antar komputer melalui RS 232) cukup menggunakan VSAT dengan antena berdiameter 1,2 meter. Sehingga kemungkinan besar, nantinya hubungan PC dengan PC di perumahan (terminal di rumah) dengan pusat informasi (basis data) di mana saja dapat menjadi kenyataan sehingga seorang ibu rumah tangga tidak perlu lagi membeli keperluan sehari-hari ke pasar swalayan, melainkan cukup dengan memesan melalui komputer atau terminal di rumahnya.

Kesulitan memakai Ku-band adalah redamannya terhadap curah hujan cukup besar, besarnya tergantung dari banyaknya curah hujan yang terjadi. Terutama di Indonesia, curah hujannya sangat besar sehingga untuk menentukan apakah penggunaan jalur frekuensi Ku-band cukupfeasible atau tidak perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu.

Penggunaan antena multibeam mungkin dapat mengatasi masalah penggunaan frekuensi Ku-band. Dengan menggunakan antena multibeam, setiap transponder mempunyai liputan tersendiri, misalnya untuk masing-masing wilayah usaha telekomunikasi (Witel). Jadi dengan menggunakan antena multibeam luas liputan akan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan liputan global seperti pada Palapa B saat ini. Dengan luas liputan yang lebih kecil, daya radiasi akan menjadi lebih besar, sehingga cukup menggunakan antena stasiun bumi yang lebih kecil. Hanya kelemahannya di sini perlu adanya perangkat penyambung antara masing-masing transponder yang dapat dilakukan pada satelitnya itu sendiri, atau dilakukan melalui stasiun bumi utama. Dengan menggunakan penyambung pada stasiun bumi utama delay atau waktu tunda yang terjadi cukup besar dan diperlukan antena yang digunakan khusus ke stasiun bumi utama dari semua transponder. Bila penyambungan dilakukan pada satelit perlu ditambah peralatan penyambungan di satelit. Sistem ini dikenal dengan nama SSTDMA (Satellite Switch Time Division Multiple Acsses).

Oleh: Arman D. Diponegoro
—————————————————–

ISDN

DALAM dunia telekomunikasi saat ini, berbagai cara yang dilakukan untuk meningkatkan mutu, baik mutu informasi maupun pelayanan yang diberikan, serta meningkatkan nilai tambah peralatan atau saluran yang dipergunakan. Si pemakai jasa telekomunikasi berusaha untuk memperoleh kemudahan-kemudahan dalam perolehan dan pengoperasian sistem telekomunikasi yang diperlukan mengingat telekomunikasi merupakan sarana penunjang yang dapat melancarkan usahanya. Di samping mutu dan biaya yang rendah, kehandalan juga merupakan syarat utama yang diminta si pemakai jasa telekomunikasi. Salah satu usaha adalah mendijitalkan sistem telekomunikasi yaitu merubah besaran sinyal pembicaraan dari besaran-besaran gelombang ke bentuk besaran komunikasi data, yaitu komunikasi antar komputer. Hal ini dapat mengakibatkan berkembangnya jaringan komunikasi data. Bila hal tersebut dibiarkan maka akan timbul duajaringan dalam suatu wilayah yang sama, yang masing-masing berjalan sendiri-sendiri —satu jaringan digunakan untuk komunikasi data dan yang lainnya digunakan untuk pelayanan jasa telepon dijital. Bila dilihat, ke dua jaringan tersebut tidak ada salahnya bila digabung agar diperoleh daya guna saluran yaing tinggi. Penggabungan pemakaian jaringan tersebut untuk penggunaan berbagai pelayanan (dalam hal ini pelayanan data dan jasa telepon) dikenal dengan istilah ISDN (Integrated Services Digital Network) atau dalam bahasa Indonesianya Pelayanan Jaringan Dijital Terpadu.

JARINGAN DIJITAL
Dengan mendijitalisasikan sinyal pembicaraan telepon, akan diperoleh beberapa keuntungan, a.1.:
— Pengaruh terhadap gangguan atau derau jauh lebih kecil, sehingga dapat menaikkan mutu informasinya. Sinyal dijital terdiri atas serentetan pulsa-pulsa yang membentuk besaran-besaran biner yang informasinya dikandung dari kombinasi ada dan tidak adanya tegangan. Jadi sinyal dijital informasinya tergantung dari kondisi ada tidaknya tegangan sedangkan sinyal analog informasinya tergantung dari bentuk gelombang sinyal yang disalurkan, maka bila terjadi perubahan bentuk karena adanya gangguan dari luar ataupun dari peralatannya, maka informasinyapun berubah. Berbeda dengan sinyal dijital, informasinya tidak tergantung dari bentuk tegangan pulsanya, yang penting ada tidaknya tegangan masih dapat dideteksi.
— Peralatannya lebih murah dan kehandalannya lebih tinggi. Karena menggunakan rangkaian lojik yang komponennya lebih murah dan lebih handal dibandingkan dengan komponen untuk sinyal analog. Untuk rangkaian analog, besar tegangan harus diperhatikan tetapi untuk rangkaian dijital tidak perlu, cukup diperoleh kemunculan tegangannya saja sehingga peralatannya akan lebih sederhana dan kehandalannya akan lebih tinggi.
— Sistem penggandaan (multi-ple) lebih sederhana dan murah dibandingkan dengan penggandaan sinyal analog. Pada sinyal analog penggandaan dilakukan dengan membagi kanal-kanal dalam frekuensi dan satu saluran tertentu. Sedangkan untuk sinyal dijital satu saluran digunakan secara bergantian ber-dasarkan pembagian waktu. Dengan cara dijital tidak diperlukan sejumlah frekuensi dan juga tidak diperlukan rangkaian filter yang cukup mahal dan rumit.
— Dapat terpadu dengan komunikasi data. Karena data terdiri dari sinyal dijital, maka untuk memadukan sinyal analog yang sudah didijitalkan akan lebih mudah dilakukan sehingga pada satu saluran dapat disalurkan secara bersamaan beberapa jenis informasi. Misalnya, suara pembicaraan, data, dan video, yang dikenal dengan ISDN. Dan hal ini berarti menaikkan daya guna jaringan.

Sinyal dijital memerlukan pita frekuensi yang lebar, dan ini merupakan kelemahannya. Untuk penyaluran sinyal pembicaraan dengan sinyal analog diperlukan lebar pita 4 KHz sedangkan dengan sinyal dijital diperlukan pita selebar 64 Kbit/detik dibagi 2 yaitu 32 KHz. Bila digunakan saluran telepon biasa redamannya akan sangat besar sekali, sehingga untuk memperoleh sinyal yang cukup memadai di bagian penerima saluran kabel telepon yang digunakan, panjangnya akan jauh lebih pendek dari panjang saluran bila memakai sinyal analog. Untuk memperbaiki kekurangan Iersebut, sinyal biner pada saat saluran diubah ke bentuk sinyal 3 level (+,0,-) sehingga kecepatan data yang tinggi pada saluran kecepatannya akan lebih rendah sebesar 3/4 kecepatan datanya. Misalnya untuk kecepatan data 64 Kbitidetik maka kecepatan pada saluran transmisinya adalah 48 KBaud dan menduduki saluran dengan lebar pita frekuensi 24 KHz. Pada komunikasi radio, cara ini dapat diatasi dengan menggunakan teknik modulasi tertentu sehingga kecepatan akan lebih ren-dah dibandingkan dengan kecepatan datanya, misalnya dengan menggunakan teknik modulasi QPAK, penyaluran data dengan kecepatan 64 Kbit/detik pada saluran ke,cepatan nya akan menjadi 8.000 Baud atau lebar pita yang diduduki sebesar 4 KHz. (Baud adalah satuan kecepatan sinyal dijital yang telah diubah ke dalam bentuk sinyal analog atau sinyal yang bukan biner).

KOMUNIKASI DATA
Dengan adanya kemajuan teknologi komputer dan komunikasi (C&C), komunikasi antar komputer yang Ietaknya berjauhan dapat saling berhubungan. Dengan berkembangnya sistem informasi, maka timbul suatu sistem jaringan komunikasi komputer tersendiri dengan menggunakan Jaringan Basis Data. Sama seperti jaringan telepon, jaringan komputer terdiri atas saluran transmisi dan sentral penyambung. Saluran transmisi dapat berupa saluran dua kawat, yang dikenal juga dengan cable pair, seperti pada saluran telepon biasa. Saluran ini digunakan untuk penyaluran data dengan kecepatan rendah (sampai 1.200 bit/detik). Saluran kabel koaksial atau serat optik digunakan untuk penyaluran data dengan kecepatan tinggi. Sentral penyambung pada komunikasi data berbeda dengan sentral penyambung telepon yang menggunakan teknik penyambungan sirkit (Circuit Switching) yang penyambungannya dilakukan melalui piring pilih dari pesawat telepon masing-masing. Disebut sirkit karena setiap pelanggan menduduki satu saluran atau satu sirkit, sehingga penyambung sirkit akan mencari pelanggan yang dituju dengan menghubungkan saluran yang bersangkutan. Sedangkan pada penyambung data menggunakan teknik penyambungan paket atau dikenal dengan istilah Packet Switching.

Pada penyambungan paket hubungan antar komputer dilakukan per paket, yang pengenalannya dilakukan berdasarkan alamat yang terdapat pada permulaan paket, minimal terdiri atas alamat tujuan, alamat si pengirim, dan informasinya itu sendiri. Pendudukan paket-paket pada saluran dilakukan secara bergantian yang dikenal dengan istilah Polling atau token passing.(Polling gilirannya dilakukan berdasarkan panggilan atau aba-aba dari stasiun utamanya, sedangkan token passing gilirannya sesuai dengan nomor urutnya). Atau dapat pula dilakukan dengan metode CSMA/CD yaitu pengiriman data secara acak tetapi terlebih dahulu dimonitor apa saluran sedang dipakai atau tidak. Bila tidak, paket yang akan segera dikirim melalui saluran tersebut. Dalam pengiriman paket tadi, ada kemungkinan terjadi tabrakan dengan paket dari sumber lainnya. Bila terjadi secara acak paket yang gagal tadi dikirim kembali seperti cara sebelumnya.

JARINGAN TERPADU
Untuk menaikkan daya guna jaringan agar masing-masing tidak berdiri sendiri, diusahakan agar jaringan telepon dan jaringan data dapat dipadukan menjadi satu jaringan terpadu dan bila perlu jaringan gambar (video). Masalah yang dialami saat ini dalam memadukan pelayanan tersebut adalah jaringan telepon lokal yang ada yaitu jaringan yang menghubungkan pelanggan dengan sentral telepon umumnya menggunakan saluran cable pair yang jaraknya lebih dari 5 km, sedangkan untuk penyaluran sinyal dijital 64 Kbit/detik (1 sinyal dijital untuk pembicaraan) jarak tersebut tidak memenuhi syarat apalagi untuk menyalurkan dua sinyal pembicara dan satu sinyal data yang kecepatan totalnya 144 Kbit/detik (standar narrow-band ISDN 2B + D) hanya mampu maksimum sampai 3 km, untuk kabel berdiameter 0,6 mm. Hal ini disebabkan kondisi kabel telepon lokal yang ada, kualitasnya (terutama gangguan cakap silang) rendah. Bila digunakan teknik 3 level pada saluran maka kecepatannya akan lebih rendah menjadi 114 Baud dengan frekuensi 57 KHz atau sekitar 60 KHz, cara ini dapat memperbaiki penggunaan saluran menjadi lebih panjang. Di samping perpaduan saluran juga perpaduan sentral penyambungannya. Di sini diperlukan sentral penyambung yang mampu untuk melayani penyambungan sirkit dan penyambungan paket dan bila perlu dapat mengkonversi dari
sirkit ke paket atau sebaliknya.

Penyaluran sinyal dijital untuk kecepatan tinggi yang dikenal dengan Broadband ISDN khusus untuk gambar atau video perlu dipikirkan. Untuk menyalurkan sinyal video secara dijital, diperlukan saluran transmisi dan penyambung sirkit yang mampu melayani sinyal dijital dengan kecepatan 140 Mbit/detik. Salah satu jenis saluran yang mampu menyalurkan sinyal dijital dengan kecepatan 140 Mbit/detik tersebut adalah serat optik. Jadi di sini diperlukan saluran serat optik mulai dari pelanggan sampai ke sentral penyambung. Sehingga perlu dibangun saluran serat optik sampai ke pelanggan. Untuk Indonesia, saat ini masih belum feasible kecuali ada pihak swasta yang ingin mengelola TV cable di Indonesia khususnya di Jakarta. Tetapi bagaimanapun juga perlu dipikirkan untuk masa mendatang.

SERAT OPTIK
Saat ini hubungan antar sentral dilakukan dengan menggunakan kabel tembaga biasanya di mana setiap satu kanal pembicaraan menggunakan satu pasang kawat. Kabel tersebut umumnya dipasang dalam pipa paralon (yang sering dinamakan pipa konduit) yang ditanam sepanjang jalur menuju sentral. Jumlah pipa paralon yang ditanam umumnya terbatas sehingga untuk penambahan kabel bila semua pipa seudah terisi terpaksa dilakukan penambahan pipa yang akan mengganggu lalu-lintas dan masyarakat umumnya. Untuk jarak yang cukup panjang, setiap 1,5 km dipasang repeater (untuk penyaluran sinyal dijital). Untuk memperbaiki sinyal yang mangalami gangguan agar pada sentral penerima sinyal tetap dalam keadaan baik.

Dengan menggunakan kabel serta optik sampai jarak 20 km tidak diperlukan repeater. Sedangkan jarak maskimun antar sentral sekitar 12 km. Tetapi bila digunakan kabel telepon dengan menggunakan serat optik terdiri lebih dari satu urat serat optik (umumnya dalam satu kabel serat optik terdiri lebih dari satu urat serat optik) dapat disalurkan sampai 9000 kanal pembicaraan atau data dengan kecepatan sampai 500 Mbit/detik, tetapi bila menggunakan kabel biasa, satu pasang kabel dipergunakan untuk 30 pembicaraan. Gangguan transmisi seperti, gangguan tegangan listrik dan noise kecil sekali. Keunggulan lainnya adalah tingkat sekuritinya tinggi, karena kabel serat optik kecil dibandingkan dengan kabel biasa, maka dalam satu gulungan (drum cable) terdapat kabel sampai dengan satu kilometer, sedangkan kabel biasa hanya sekitar 400 m. Jadi jumlah sambungan lebih sedikit. Jadi dengan menggunakan kabel serta optik informasi dapat disalurkan dengan kecepatan sangat tinggi dan kehandalan yang lebih baik serta pengembangannya lebih mudah tanpa perlu menambah pipa konduit O

Arman D. Diponegoro
—————————–

STDI

INDONESIA saat ini sedang mengalami krisis sambungan telepon. Beribu-ribu calon pelanggan yang menunggu sambungan telepon belum dapat terlayani. Ada sekitar 800.000 satuan sambungan diperlukan di mana setengahnya merupakan limpahan dari PELITA sebelumnya. Angka ini masih di bawah target pemerintah sampai tahun 1989, yaitu sebesar 1,4 juta sambungan telepon. Masalahnya tidak sederhana. Pembangunan jaringan telepon lokal membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Banyak usaha pemerintah yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, a.l. dengan melakukan kerjasama dengan swasta dalam pola bagi hasil. Salah satu bagian dari jaringan telepon adalah pembangunan sentral telepon. Di samping pembangunan sentral baru terdapat pula penambahan atau penggantian sentral. Dalam menghadapi era ISDN dan peningkatan mutu pelayanan perlu sentral telepon dijital. Pemerintah meren-canakan secara besar-besaran pembangunan sentral telepon dijital yang dikenal dengan proyek STDI. Proyek ini terdiri atas dua tahap, yaitu STDI I yang telah dilaksanakan oleh Siemens melalui mitra usahanya PT INTI dan proyek STDI II yang saat ini sedang dalam proses tender.

SENTRAL TELEPON DIJITAL

Seperti halnya dengan sentral telepon otomat lainnya, fungsi sentral telepon dijital adalah untuk menghubungkan suatu pelanggan dengan pelanggan lainnya yang bekerja berdasarkan permintaan dari salah satu pelanggan dengan mengirim nomor yang diinginkan, yang diperoleh dengan cara memutar piring pilih dari pesawat telepon yang memanggil. S entral telepon otomat terdiri atas dua rangkaian utama, yaitu perangkat penyambung (switching network) dan perangkat pengendali (control unit). Perangkat penyambung terdiri atas kontak-kontak penyambung yang dihubungkan ke masing-masing pelanggan dan ke sentral telepon lainnya. Kontak-kontak penyambung tersebut dikendalikan oleh perangkat pengendali yang bekerja berdasarkan perintah dari pesawat telepon dari setiap pelanggan, mulai dari perintah ingin melakukan sambungan yang dinyatakan bila telepon set diangkat, perintah untuk melakukan sambungan pelanggan tertentu dengan mengirim nomor tujuan. Berdasarkan perintah-perintah tadi, perangkat pengendali mengerjakan perangkat penyambung untuk menguhubungkan pelanggan mengenai status sambungan dalam bentuk nada-nada, misalnya nada sibuk, nada panggil, sinyal atau bel, dsb.

Perbedaan antara sentral dijital dengan sentral otomat lainnya terletak pada bentuk sinyal pembicaraan yang disalurkan, dan komponen rangkaian, yang umunya terdiri atas komponen-komponen lojik dan mikroprosesor. Proses penyambungan pada prinsipnya sama. Pada sentral dijital, sinyal pembicaraan yang disalurkan bentuknya adalah sinyal dijital. Perangkat penyambung terdiri atas kontak-kontak elektronik yang disusun secara matriks atau terdiri dari sel-sel memori seperti halnya pada komputer.

Cara pertama disebut penyambungan ruang (space switch) atau disingkat S dan cara kedua dinamakan penyambung-an waktu (time switch) yang disingkat T. Pada penyambungan ruang (S), kerjanya sama seperti pada penyambungan analog hanya bedanya pada penyambungan analog kontak-kontaknya terdiri atas kontak-kontak mekanik seperti kontak-kontak relay. Pada penyambungan waktu (T) bit-bit pembicaraan disimpan pada pengendali satu per satu bit-bit tersebut dipindahkan ke sel-sel memori pelanggan yang dituju melalui satu alur bersama secara bergantian dengan bit-bit pembicaraan dari pelanggan lainnya. Pada umumnya perangkat penyambung terdiri dari kedua jenis penyambungan yang digabung menjadi suatu perangkat penyambungan dengan berbagai struktur, a.l. struktur TST, STS, TSST atau SSTSS untuk sentral berkapasitas besar. Kerja perangkat pengendali sama seperti CPU pada komputer yaitu terdiri atas mikroprosesor, memori (RAM, ROM, atau EPROM), piranti Input Output (I/O) dan piranti antar muka dengan perangkat penyambungan dan perangkat penunjang lainnya seperti pembangkit nada (nada sibuk, nada panggil, nada pilih), kontak pelanggan dll. Karena berupa sebuah komputer maka proses pengendalian dilakukan oleh perangkat lunak (program) yang disimpan dalam EPROM atau diskette.

Untuk melayani daerah-daerah yang trafik pembicaraanya rendah dan daerah yang letaknya sangat jauh tetapi jumlah pelangannya relatif sangat kecil, diperlukan suatu peralatan yang dinamakan concentrator (konsentrator), atau ada juga yang menyebut dengan istilah Remote Subscriber Unit dan ada pula yang menyebut Remote Multiplexer Unit. Peralatan ini digunakan untuk menaikkan tingkat daya guna saluran. Ada beberapa jenis teknik konsentrator, yaitu: Space Con-centrator dan Time Concentrator. Dengan menggunakan space concentrator jumlah saluran yang menuju sentral telepon besarnya lebih kecil dari jumlah pelanggan. Saluran-saluran tersebut digunakan secara bergantian untuk satu pembicaraan. Jadi satu saluran diduduki penuh oleh satu pembicaraan. Setelah satu pembicaraan selesai, saluran tersebut diduduki oleh pelanggan lain. Sebagai contoh, untuk 100 pelanggan, jumlah saluran yang dihubungkan ke sentral telepon cukup menggunakan 10 pasang kawat (pair). Agar seorang pelanggan tidak terlalu lama menunggu adanya saluran yang kosong, maka jumlah saluran ke sentral telepon besarnya ditentukan dari besar trafik, pembicaraan keseluruhan dari masing-masing pelanggan yang dihubungkan dengan konsentrator bersangkutan. Jadi dengan adanya space concentrator, jumlah saluran dapat dihemat sehingga daya guna saluran menjadi tinggi. Sebagai contoh, misalnya seorang pelanggan hanya menggunakan teleponnya mungkin 10 menit dalam satu hari, maka selama satu hari saluran satu pair sepanjang 5 km akan terpakai hanya 10 menit saja, sedangkan biaya pemasangan kabel sangat mahal. Lain halnya dengan time concentrator di mana satu saluran (dua pasang kawat, yaitu satu untuk dikirim dan satu untuk diterima) digunakan bersama-sama oleh sejumlah pelanggan. Pada satu periode tertentu, yaitu periode sebesar satu bit pembicaraan (standar 15,625 microsecond), pada saluran terdapat sebagian dari bit (cuplikan) semua sinyal pembicaraan. Lebar atau periode cuplikan tersebut tergantung dari jumlah pelanggannya. Misalnya pada suatu konsentrator digunakan untuk 30 pelanggan ditambah satu kanal sinkronisasi dan satu kanal pensinyalan maka bila periode satu bit pembicaraan adalah 15,625 microsecond, periode cuplikan adalah 0,488 microsecond (hasil bagi 15,625 microsecond dengan 32). Ini berarti kecepatan sinyal pada saluran adalah 2.084 Kbit/detik. Berbeda dengan space concentrator di mana satu saluran diduduki oleh satu pembicaraan sehingga kecepatan pada saluran akan sama dengan kecepatan untuk satu sinyal pembicaraan yaitu 64 Kbit/detik.

Keuntungan lain menggunakan space concentrator ialah dapat digunakan untuk menyalurkan sinyal dijital dan sinyal analog. Sedangkan bila menggunakan time concentrator untuk menyalurkan sinyal dijital perlu ditambah peralatan codec yang merubah sinyal analog. Sedangkan bila menggunakan time concentrator yang terdapat dipasarkan paling kecil berbentuk kabinet dan digunakan maksimum untuk 30 pelanggan dengan satu saluran keluar (dua pasang kawat). Ukurannya kira-kira sebesar ukuran lemari pendingin yang dapat dipasang di tempat-tempat terbuka, a.l. dipinggir jalan. Untuk ukuran yang lebih besar terdapat jenis container yang kapasitasnya sampai 2.048 pelanggan dengan 16 saluran. Ada juga konsentrator yang dipasang dalam suatu bangunan kecil seukuran gardu listrik yang umumnya berkapasitas 128 pelanggan. Pada space concentrator yang berkapasitas 100 pelanggan dengan 10 saluran keluar, terdapat dalam bentuk kabinet yang ukurannya lebih besar sedikit dari kabinet untuk time concentrator deng an 30 pelanggan. Dari kedua jenis konsentrator umumnya di Indonesia lebih cocok menggunakan jenis space concentrator karena pemakaian telepon dijital masih belum waktunya, dilihat dari harga dan kegunaannya, terutama di luar kota-kota besar. Dengan menggunakan pesawat telepon analog yang ada saat ini masyarakat sudah cukup puas. Dengan teknologi pesawat telepon analog sederhana, Indonesia mampu untuk memproduksi sendiri sehingga tidak perlu takut bila industri telepon di negara maju tidak memproduksi lagi. Di samping itu, komunikasi data hanya terkonsentrasi di daerah metropolitan sehingga sebagian besar kebutuhan telekomunikasi lebih terpusat pada hubungan telepon. Meskipun nantinya ternyata komunikasi data berkembang dengan menggunakan space concentrator masih dapat digunakan. Sebagai pandangan, saat ini pemakai sarana komunikasi data tidak lebih dari 200 pemakai.

KEUNTUNGANNYA
Kelebihan sentral telepon dijital dibandingkan dengan sentral telepon analog cukup banyak, a.l.:
– Kualitas transmisinya lebih baik (noise yang rendah).
— Peralatan lebih kecil sehingga tidak membutuhkan ruang yang luas.
— Lebih fleksibel, dapat beroperasi dengan sistem/ peralatan sentral yang lama.
— Dapat diintegrasikan dengan penyambung paket.
— Pemakaian daya kecil.
— Pemeliharaannya dan perbaikannya mudah, cukup dilakukan dengan bantuan program komputer dan dapat dilakukan dari jarak jauh.
— Umur peralatan (life time)-nya lebih laina dibandingkan dengan sentral analog yang adadi Indonesia karena rangkaian penyambungnya menggunakan relay atau reed switch yang bekerja secara mekanik sehingga lebih mudah mengalami kehausan.
— Dengan digunakannya saluran dijital maka tidak perlu dipasang perangkat pengubah dari sinyal dijital ke sinyal analog seperti yang dilakukan pada sentral analog.
— Pengembangannya lebih mudah dilakukan karena cukup dengan menambah modul-modul dan penggantian perangkat lunaknya. Misalnya ingin dikembangkan menjadi sentral yang dapat melakukan pemberian informasi ke pelanggan bahwa tadi ada seorang pelanggan yang ingin berhubungan tetapi yang dipanggil tidak ada di tempat. Dalam hal ini bila yang dipanggil tiba di tempat dia dapat berhubungan dengan basis data yang disediakan untuk mengetahui apakah ada panggilan atau tidak.
— Segala informasi yang diperlukan misalnya kondisi peralatan dapat direkam pada diskette seperti halnya pada komputer.

TELEPON DIJITAL
Jaringan teleponlokal terdiri atas dua bagian besar yaitu jaringan kabel dan sentral penyambung. Jaringan kabel dibagi atas dua bagian, yaitu: Jaringan Pelanggan (Subscriber Network) dan Jaringan Penghubung (Junction Network). Jaringan pelanggan adalah jaringan kabel yang menghubungkan pelanggan dengan sentral penyambung. Sedangkan jaringan penghubung adalah jaringan yang menghubungkan sentral dengan sentral lainnya. Biasanya pada kota-kota besar terdapat lebih dari satu sentral sehingga diperlukan hubungan antar sentral dalam satu wilayah lokal. Jaringan pelanggan dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu: saluran penanggal, saluran sekunder, dan saluran primer. Jadi hubungan dari pelanggan ke sentral penyambung dibagi atas tiga tahap, yaitu pertama-tama pelanggan dihubungkan ke kotak pembagi melalui saluran penanggal, kemudian dari pembagi melalui saluran sekunder dihubungkan ke rumah kabel (gardu penyambung) dan dari rumah kabel melalui saluran primer dihubungkan ke sentral penyambung. Masalah yang paling utama dalam pembangunan jaringan telepon terletak pada jaringan pelanggannyakarena memerlukan biaya yang sangat besr (merupakan biaya yang paling besar dari biaya pembangunan jaringan keseluruhan) di samping pembangunannya memerlukan waktu yang cukup lama. Kesulitan lain adalah penentuan kapasitas yang akan dibangun karena besarnya harus dapat melayani sampai 15 tahun ke depan, khusus kabel sekunder. Adakalanya dalam menentukan ramalan jumlah kebutuhan sambungan telepon sulit ditentukan karena pengembangan suatu wilayah tidak menentu terutama untuk wilayah-wilayah yang masih berkembang dan banyak yang menyimpang dari rencana semula. Untuk daerah-daerah tersebut sementara dapat digunakan komuniksi radio cellular yang menghubungkan pelanggan dengan sentral penyambung. Di sini setiap jarak 500 m dipasang stasiun radio yang dapat dipasang pada tiang dengan ketinggian sekitar 10 m. Demikian pula untuk mengatasi agar pemakaian saluran seoptimal mungkin daerah-daerah yang trafik pembicaraannya rendah sebaiknya menggunakan konsentrator misalnya untuk daerah perumahan di mana sering kita dengar banyak terjadi pulsa tidur (yang menggunakan teleponnya hanya untuk penerima). Jenis konsentrator yang digunakan tergantung dari jarak konsentrator dengan sentral telepon dan luas daerah perumahan. Misalnya suatu perumahan terdapat 20 pelanggan. Jarak ke sentral repeater. Masalahnya adalah bagaimana meletakkan repeater tersebut dan bagaimana menghubungkannya karena saluran yang jumlahnya hanya dua pasang kawat, dihubungkan ke sentral dalam satu bundel kabel yang berisi 10 sampai 100 pasang kawat ke rumah kabel (gardu penyambung). Demikian pula bila repeater tersebut akan dipasang pada rumah kabel. Jarak rumah kabel tidak tentu, sehingga untuk memperoleh posisi yang tepat untuk penempatan repeater sulit dicapai. Untuk daerah yang terpencil (remote area) di mana jarak ke sentral telepon umumnya sangat jauh, misalnya 25 km, dapat menggunakan jenis time concentrator karena hubungan ke sentral penyambung dapat menggunakan peralatan radio dijital (PCM radio) penggunaan saluran kabel terutama kabel telepon biasa alcan memerlukan biaya yang besar karena diperlukan repeater setiap 1,5 km yang berarti akan menggunakan sekitar 17 repeater. Di samping itu biaya penarikan kabel 10 pasang dengan 2 pasang tidak akan berbeda jauh sehingga terpaksa digunakan kabel 10 pair untuk penggunaan dua pasang plus cadangii dua pasang. Hal ini tidak efektif dan ekonomis. Apalagi kalau keadaan daerah pemasangan masih terbuka (kebun atau hutan kecil) pemasangannya dan pemeliharaannya akan mengalami kesulitan.

Luas daerah pelayanan satu sentral penyambung radiusnya tidak lebih dari 5 km (ketentuan ISDN untuk kabel telepon). Besarnya kapasitas sentral tergantung dari jumlah pelanggan yang dilayani dan besarnya trafik pembicaraan tergantung dari kategori pelanggan an tara lain perumahan, perkantoran, perdagangan, industri, dll. Hal ini perlu dipertimbangkan untuk memperoleh biaya yang paling opnmal yaitu perpaduan antara biaya instalasi jaringan dan sentral dengan biaya pemasukan. Misalnya untuk perumahan, satu sentral dapat melayani banyak pelanggan dibandingkan dengan daerah untuk perdagangan. Sentral penyambung dijital, harus diletakan pada pusat beban trafik pembicaraan di daerah tersebut (cooper center) agar diperoleh biaya yang optimum.

Penggantian dari sentral taraa (sentral analog) sebaiknya diprioritaskan bagi daerah-daerah yang memang perlu ditingkatkan kapasitasnya dan daerah yang dianggap mempunyai potensi bagi pengembangan ISDN. Memang Indonesia sangat luas sekali, untuk menyatukannya diperlukan biaya yang sangat besar sehingga adakalanya daerah-daerah yang belum memiliki sentral telepon atau masih menggunakan sentral manual (bukan otomatis) perlu disediakan sentral telepon otomat yang bagaimanapun juga dengan sentral telepon dijital.

Saluran yang digunakan dari pelanggan ke sentral telepon dapat menggunakankabel telepon biasa dan kabel serat optik. Khusus untuk hubungan dengan pelanggan digunakan kabel telepon biasa yang dihubungkan ke gardu pembagi (rumah kabel) atau konsentrator. Dari konsentrator atau gardu pembagi ke sentral telepon dapat digunakan kabel serat optik. Demikian pula saluran penghubung antar sentral (jaringan penghubung) dapat menggunakan kabel serat optik.

Arman D. Diponegoro

Sumber: Majalah AKU TAHU/JUNI 1990

Share
%d blogger menyukai ini: