Catatan Iptek; Satelit Pemersatu

- Editor

Kamis, 16 Februari 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hari ini, ketika seluruh perhatian masyarakat Indonesia terpusat pada penyelenggaraan pilkada serentak di 101 daerah di Indonesia, ada peristiwa teknologi di Pusat Antariksa Perancis di Kourou, Guyana-Perancis. Kalau kondisi cuaca memungkinkan, Rabu (15/2) pukul 04.39 WIB ini, satelit Telkom 3S diluncurkan. Ini adalah satelit Indonesia ke-18 setelah BRIsat diluncurkan tahun 2016 dari tempat yang sama.

Sejarah persatelitan Indonesia dimulai setelah Satelit Palapa sukses diluncurkan pada 8 Juli 1976. Presiden Indonesia kala itu, Soeharto, menamainya Satelit Palapa karena terinspirasi Mahapatih Gajah Mada yang bersumpah Palapa untuk mempersatukan Nusantara (1336).

Proyek Satelit Palapa kala itu memakan biaya Rp 561 miliar. Biaya itu untuk membangun satelit berikut sarana komunikasinya, seperti telepon, teleks, telegram, televisi, dan seluruh fasilitas transmisinya. Bagi Indonesia yang cakupan wilayahnya begitu luas—membentang dari 95-141 derajat Bujur Timur dan 6 derajat Lintang Utara sampai 11,5 derajat Lintang Selatan—telekomunikasi menjadi kebutuhan vital untuk menunjang mobilitas, pembangunan, dan terutama keamanan dan persatuan bangsa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa yang kita nikmati sekarang: telepon, media sosial, siaran langsung, hingga hadirnya ATM sebagai mesin uang sampai ke pelosok adalah berkat teknologi satelit. Maka, Palapa sebagai satelit geostasioner pertama Indonesia menjadi tonggak lompatan teknologi yang menjangkau seluruh wilayah Nusantara.

Bahkan, pancaran sinyalnya sampai ke negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Saat itu, Indonesia adalah negara ketiga dunia yang memiliki satelit pemancar domestik setelah Amerika Serikat dan Kanada.

Setelah Palapa, masih ada beberapa seri satelit Palapa yang diluncurkan. Juga ada satelit Telkom, Garuda, Indostar, dan terakhir BRIsat. Kepemilikan kemudian banyak berubah, dari semula pemerintah secara penuh kemudian beralih ke BUMN dan swasta. Semakin ke sini, generasi satelit semakin spesifik fungsinya dan makin mahal harganya.

Telekomunikasi masa depan
Satelit Telkom 3S yang diluncurkan hari ini nilainya mencapai Rp 3 triliun. Satelit buatan Thales Alenia Space, Perancis, ini terdiri dari 24 transponder C-band, 8 transponder extended C-band, dan 10 transponder Ku-band. Dengan spesifikasi ini, satelit dapat melayani siaran televisi berkualitas tinggi (high definition television), komunikasi seluler, serta internet pita lebar (broadband internet).

Pengalaman Thales Alenia Space, yang satelit buatannya banyak digunakan untuk penelitian dan militer, juga akan dimanfaatkan. Telkom 3S ditargetkan mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Timur. Hanya 70 persen kapasitas satelit yang akan digunakan Telkom dan sisanya disewakan ke pihak lain. Menurut situs resmi Telkom 3S, satelit ini disiapkan untuk menggantikan satelit Telkom 2.

Sistem komunikasi satelit menjadi pilihan untuk mempersatukan Nusantara karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau dan laut. Kondisi ini sulit dijangkau dengan sistem komunikasi terestrial ataupun serat optik. Kehadiran satelit akan memudahkan jangkauan ke kawasan Indonesia terdepan, terluar, dan terpencil seperti yang dicita-citakan Presiden Joko Widodo.

Telkom 3S diluncurkan dengan roket Ariane 5 ECA VA235 milik perusahaan peluncur satelit Arianespace Europe. Satelit komunikasi geostasioner ini akan menempati posisi di atas khatulistiwa dan bergerak mengelilingi Bumi.

Dihitung sejak hari peluncurannya, satelit masih perlu waktu sembilan hari sampai akhirnya bisa bekerja penuh di orbitnya. Telkom 3S diperkirakan akan memasuki orbit geostasioner pada 17 Februari 2017 sampai akhirnya menempati posisi orbitnya di ketinggian 35.786 kilometer, tepatnya di orbit 118 derajat Bujur Timur, pada 23 Februari 2017. Orbit tersebut, jika ditarik garis imajiner, berada di atas Kalimantan.

Namun, banyak faktor harus diperhitungkan dalam peluncuran satelit karena cuaca dan kecepatan angin akan memengaruhi ketepatan roket mencapai orbitnya.

Semoga satelit pemersatu baru segera mengorbit.–AGNES ARISTIARINI
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Februari 2017, di halaman 14 dengan judul “Satelit Pemersatu”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 106 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru