Home / Berita / Palapa-B2R yang Tertunda

Palapa-B2R yang Tertunda

Palapa-B2R sebenarnya adalah Palapa-B2 yang salah orbit.
MENURUT rencana semula, Satelit Palapa-B2R (recovery) akan diluncurkan dengan roket pendorong Delta pada tanggal 30 Maret 1990. Namun jadual ini tertunda karena pemerintah Amerika Serikat lebih memprioritaskan satelit milik mereka sendiri, dan belum diketahui secara pasti kapan Palapa akan diluncurkan. Kepastiannya mungkin akan diketahui dalam satu atau dua pekan, setelah satelit milik pemerintah AS itu diluncurkan. Dalam hal ini, selain NASA, sebenarnya yang lebih berperan adalah McDonnel Douglas, pabrik pembuat roket Delta, roket pembawa satelit. Bila mundur hanya beberapa bulan, penundaan peluncuran.

Palapa-B2R ini tak perlu dirisaukan benar. Mengingat satelit Palapa yang sedang beroperasi saat ini diperkirakan masih dapat bekerja sampai Maret 1991. Palapa-B2R, yang dibeli Indonesia pada tahun 1989 dengan harga 125 juta US dollar, adalah satelit Palapa-B2 yang salah orbit. Awalnya, pada Februari 1984, diluncurkanlah Palapa-B2 dengan pesawat ulang-alik. Namun sesaat setelah keluar dari punggung pesawat dan memasuki orbitnya, roket perigee satelit (roket pendorong menuju titik orbit terdekat dengan bumi) tak bekerja sebagaimana mestinya, sehingga satelit Palapa-B2 masuk ke dalam orbit yang salah Dan setelah terkatung-katung di angkasa luar selama delapan bulan, akhirnya, pada November 1984 pesawat ulang-alik Discovery mengambil satelit tersebut dan membawanya kembali ke bumi.

Satelit komunikasi
SATELIT Palapa merupakan satelit komunikasi yang dirancang dan dibuat oleh Hughes Aircraft Company untuk PERUMTEL. Hingga kini telah dikenal dua generasi satelit Palapa. Palapa-Al dan Palapa-A2 sebagai generasi pertama, sedangkan Palapa-B1, Palapa-B2, Palapa-B2P, dan Palapa-B2R (yang akan diluncurkan) merupakan generasi kedua. Satelit ini berfungsi sebagai satelit pengulang (repeater) komunikasi melalui berbagai media termasuk telepon, televisi, faksimil, dan transmisi data. Kini di angkasa luar, Indonesia memiliki dua satelit Palapa, yakni Palapa-B1 dan Palapa-B2P. Keduanya berada tepat di atas garis khatulistiwa dan masing-masing terletak pada posisi 108° dan 113° Bujur Timur. Karena posisi kedua satelit ini (Indonesia terletak pada 95° – 141° Bujur Timur), maka jangkauan komunikasinya dapat meliput secara langsung beberapa negara Asia Tenggara termasuk Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, dan Papua Nugini. Dan kenyataannya hal ini cukup menguntungkan karena beberapa negara tersebut memanfaatkan kehadiran satelit ini untuk keperluan komunikasinya.

Bisa bertahan
PALAPA-A1 dan Palapa-A2, yang masing-masing diluncurkan pada Juli 1976 dan Maret 1977, memiliki 12 transponder, yaitu perangkat elektronik yang berfungsi menjadi pengirim sinyal bila menerima getaran sinyal pasangannya, dan satu panel sel matahari untuk mengisi ulang baterai pembangkit dayanya.

Palapa-A berbentuk silinder dengan dimensi, berdiameter 2,16 meter,dan tinggi 2,84 meter. Agar dapat sampai pada orbitnya, satelit ini harus dipasang pada roket dua atau tiga tingkat. Hampir sama seperti semua satelit sejenisnya, mulai awal peluncuran hingga memasuki masa siap pakainya dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Menurut pabrik pembuatnya, Hughes Aircraft Company, masa pakai efektif satelit ini sekitar 7 tahun, bergantung dari kemampuan pengisian ulang beterainya dan persediaan bahan bakar roket pengkoreksi posisinya di angkasa. Namun ternyata, masa pakai Palapa-A1 dan A2 masing-masing bisa bertahan hingga 9 tahun dan 11 tahun. Dengan berakhirnya masa pakai satelit generasi pertama pada tahun 1985 dan 1988, maka keduanya kini telah menjadi sampah angkasa luar. Untuk penggantinya diluncurkanlah satelit Palapa-B.

Generasi kedua
SATELIT Palapa B1 ditaruh pada or-bitnya pada bulan Juni 1983 dengan menumpang pesawat ulang-alik Columbia—yang sedang melakukan ponerbangan ke tujuh dan merupakan penerbangan komersialnya ke tiga. Satelit yang merupakan satelitjenis HS-376 ini merupakan Satelit Palapa generasi kedua. Delapan bulan setelah peluncuran Palapa-B1, tepatnya pada Februari 1984, diluncurkanlah Palapa-B2 juga dengan menggunakan pesawat ulang-alik; merupakan pasangan Palapa-B1. Namun karena kesalahan salah satu roket pada satelitnya, Palapa-B2 memasuki orbit yang salah. Sebagai gantinya, tepat tiga tahun setelah itu yakni pada Maret 1987, diluncurkanlah satelit Palapa-B2P dengan Roket Delta bertingkat dua. Seluruh sateiit generasi ke dua memiliki kapasitas 24 transponder. Serta dilengkapi dengan dua panel sel matahari teleskopik silinder, sehingga sumbcr dayanya empat kali lebih banyak dibanding Palapa generasi per-tama. Meskipun transponder ini mampu menggunakan daya sebesar 10 watt, tenaga pakai maksimumnya hanya 8 watt.

Transponder Palapa-B beroperasi pada band C dan bisa menerima gelom-bang berfrekuensi 5.925 GHz (Giga Hertz) sampai 6.425 GHz dan memancarkan gelombang pada frekuensi 3,7 GHz sampai 4,2 GHz. Penentuan lebar gelombang ini dilakukan oleh IFRB (International Frequency Registration Board) yang merupakan salah satu lembaga dalam ITU (International Telecommunication Unit). Setiap satu dari 24 transponder aktif mampu melayani 1.000 jalur suara satu arah, atau tiga transmisi televisi hitam putih, atau satu transmisi televisi berwarna. Di samping itu, satelit generasi kedua ini membawa enam transponder tak aktif yang memenuhi fungsi lima untuk empat redundansi, yakni dari setiap lima transponder hanya empat yang aktif, dan sisanya (satu) berfungsi sebagai cadangan yang akan terpakai bila satu dari ke lima transponder dalam kelompok ipi tak berfungsi.

Palapa-B berdiameter 2,16 meter, sedangkan diameter antenanya 1,80 meter. Tinggi keseluruhan, termasuk tinggi muatan, adalah 6,96 meter. Beratnya, saat awal masa pengoperasian, 652 kilogram. Panel sel mataharinya menempel di sebelah luar. Dua panel sel matahari jenis K-7 ini mampu membangkitkan listrik 1.062 watt pada awal masa aktifnya. Panel sel matahari juga akan mengisi dua baterai nikel-cadmium yang menghasilkan tenaga penuh selama gerhana, yakni saat satelit melintasi daerah bayangan bumi sehingga tak menerima cahaya matahari. Baterai ini mampu diisi ulang sebanyak 1.000 kali, setelah itu rusak. Dengan rusaknya baterei nikel-cadmium, berakhir pulalah masa aktif satelit; dan kemudian menjadi sampah angkasa yang tak berguna.

Peluncuran
ADA dua cara yang dapat digunakan untuk menaruh Palapa pada orbitnya, yakni dengan ditumpangkan pada Roket Delta atau dimasukkan dalam bagasi khusus pesawat ulang-alik. Pcsawat ulang-alik ini juga dilengkapi roket pendorong. Keduanya, Roket Delta maupun pesawat ulang-alik, harus dipacu agar mencapai kecepatan sirkular —sekitar 8.000 meter per detik— agar muatannya (satelit) dapat mengorbit keliling bumi. Dan agar lepas dari gaya tarik bumi, roket harus mencapai kecepatan lolos, sekitar 11.000 meter per detik. Namun kecepatan sebesar ini sangat sulit dicapai karcna umumnya perbandingan massa perbandingan antaraberatpesawat keseluruhan (roket, satelit, dan bahan bakar), dan berat roket tanpa bahan bakar —roket-roket angkasa luar saat ini hanya mencapai 2,72 : 1. Untuk mencapai kecepatan 5.000 meter per detik saja, perbandingan massa yang harus dicapai adalah 7,5 : 1. Hingga kini untuk menciptakan roket pendorong dengan perbandingan sebesar ini adalah hal yang tidak mungkin.

Oleh karena itu, guna mencapai kecepatan sirkular dan kecepatan lolos, semua pesawat angkasa luar (termasuk roket Delta dan pesawat ulang-alik) dilengkapi roket dengan sistem bertingkat, umumnya bertingkat dua atau tiga. Dengan sistem bertingkat, kecepatan sirkular bisa tercapai. Contohnya, kita asumsikan bahwa roket tingkat pertama memiliki perbandingan massa 2,7:1, dengan kecepatan 2.600 meter per detik. Saat diluncurkan kecepatan roket pada detik pertama adalah 12 meter per detik; detik kedua, 24 meter per detik; detik ketiga, 36 meter per detik; dan berlipat ganda seterusnya. Kecepatan roket ini berlipat ganda karena berat roket terus-menerus berkurang; berkurangnya setara dengan bahan bakar yang terbakar. Di samping itu, daya dorong roket menjadi semakin besar karena makin tinggi posisinya, roket mencapai lapisan atmosfer yang makin tipis; koefisien gesek udara makin kecil.

Kira-kira 60 detik setelah peluncuran, kecepatan roket bisa mencapai 1.500 meter per detik. Saat bahan bakar roket tingkat pertama habis, kecepatan pesawat telah mencapai 2,600 meter per detik. Ketika roket tingkat kedua mulai menyala, pesawat sedang melaju dengan kecepatan 2.600 meter per detik. Sehingga saat roket tingkat kedua (dengan perbandingan massa 2,7:1) kehabisan bahan bakar, roket telah melaju dengan kecepatan 5.200 meter per detik. Bila roket tingkat ketiga memiliki perbandingan massa yang sama, maka saat roket tingkat ketiga padam, kecepatan roket telah mencapai 7.800 meter per detik; lebih dari kecepatan yang dibutuhkan pesawat untuk mencapai orbit satelit.

Bila dibawa oleh pesawat ulang-alik, satelit akan disimpan dengan posisi tidur di dalam bagasi khusus —mirip ayunan— yang memiliki sistem penginjeksian. Saat pintu bagasi dibuka, satelit ditegakkan di atas meja pelontar, di dasar bagasi. Pelepasan pengunci mengakibatkan empat pegas menekan satelit keluar dari pesawat. Setelah mengorbit setengah lingkaran bumi, satelit mulai menyalakan roket modul pembantu beban berguna (payload assist module)-nya yang mendorong satelit menuju orbit elipsnya. Motor apogee (motor pendorong satelit menuju titik orbit terjauh dari bumi) menempatkan satelit ke dalam orbit geostasionernya. Setelah mengapung pada orbit tetapnya, satelit digerakkan oleh motor lain agar tepat pada posisi operasinya, yang tegak lurus bumi.

Untuk mengontrol posisi satelit di etinggian selama masa aktifnya yang lebih dari delapan tahun, di dalam satelit disimpan empat roket pendorong berbahan bakar hidrazina (N2H4). Bila bahan bakar roket ini habis sehingga satelit tak bisa kembali lagi pada posisinya yang benar ketika terkena pancaran angin matahari atau ketika terkena pengaruh gaya gravitasi (bumi atau bulan) tak sama besarnya, maka berakhir pulalah masa pakai satelit.

Setelah berada di orbitnya di angkasa luar, satelit —yang mengitari bumi— memiliki sifat hampir sama dengan bulan (sebagai satelit alam bumi). Palapa, yang mengOrbit pada ketinggian 35.900 kilometer di atas katulistiwa, merupakan satelit geostasioner. Satelit geostasioner adalah satelit yang gerakannya mengelilingi bumi bersamaan dengan rotasi bumi. Pada posisi ini waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu kali putaran sempurna, 24 jam; bulan yang jauhnya 384.000 kilometer dari bumi membutuhkan waktu 28 hari. Bila bumi berputar sekali, satelit membuat satu kali putaran. Jadi satelit berada di suatu posisi tertentu di atas bumi. Palapa diletakkan pada ketinggian 35.900 kilometer di atas bumi (posisi geostasioner) karena posisi ini merupakan posisi stabil benda-benda angkasa, tempat di mana gaya sentrifugal dan gaya sentripetal yang terjadi sama besar. Dengan kata lain, dalam orbitnya, gaya yang mendorongnya ke luar dan gaya yang menariknya masuk ke dalam bumi (sebagai pusat rotasi) sama besarnya.

Stabil
AGAR stabil pada kedudukannya, selain berputar mengelilingi bumi, satelit juga berputar pada porosnya. Palapa, agar stabil, harus berputar pada porosnya dengan kecepatan 50 putaran per menit. Namun saat berputar, posisi antena komunikasi dan perangkat elektronikanya tak ikut bergeser relatif terhadap bumi, dengan titik ketepatan yang lebih kecil dari 0,05 derajat. Sorotan yang diterima dan dipancarkan satelit diciptakan oleh celah mata dan antene dengan dua permukaan polarisasi yang saling mengimbangi. Permukaan antene bagian depan peka terhadap sorotan polarisasi horisontal, sedangkan permukaan belakang peka terhadap sorotan polarisasi vertikal. Setiap polarisasi memantulkan sinyal-sinyal untuk memisahkan jaringan yang masuk.

Bisnis ruang angkasa
DENGAN ke-24 transponder ini, Indonesia memasuki era perdagangan teknologi komunikasi, bila transponder ini disewakan. Saat ini beberapa negara tetangga telah menyewanya, termasuk di antaranya Pilipina (dua transponder); Malaysia (dua transponder); Brunei (satu transponder); dan Singapura (dua transponder). Menurut Perumtel, satu transponder berharga sewa satu juta US dollar per tahun. Namun karena beberapa negara tetangga juga meluncurkan satelit, agar dapat bersaing, harga itu dijadikan 850.000 dollar US setahun. Beberapa negara tetangga yang juga membuat satelit untuk dikomersialkan di antaranya adalah Asia Satelit, milik bersama antara Republik Rakyat Cina dan Hongkong; Thailand dan India; Pasific Satelit, milik Papua Nugini; dan satelit milik Intelsat. Bila semua pemakai transponder Palapa-B2R dianggap penyewa dan umur satelit diperkirakan hanya 8 tahun, maka ke 24 transponder ini akan menghasilkan pemasukan bagi negara sebesar = 8 x 24 x 850.000 = 163.200.000 US dolar. Lebih besar dari harga awal, 125 juta US dollar, yang dipatok oleh Hughes Aircraft Company.

Oleh: Beawiharta

Sumber: Majalah Aku Tahu April 1990

Share
%d blogger menyukai ini: