Sinergi untuk Hilirkan Riset

- Editor

Selasa, 5 Desember 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Usaha Rintisan Jadi Indikator Pencapaian
Sinergi antara pemerintah, kampus, dan pihak swasta dinilai akan mendorong hilirisasi inovasi dari perguruan tinggi. Dengan demikian, inovasi tidak hanya akan menjadi laporan penelitian yang tersimpan di gudang.

Hal itu inti dari makalah Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional Hilirisasi Inovasi Teknologi dan Start-Up Bisnis di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Senin (4/12). Pada kesempatan itu, Kalla juga meresmikan lembaga Jusuf Kalla Innovation and Entrepreneurship Centre, sebuah lembaga yang diharapkan mengakselerasikan kepentingan kampus dan swasta dalam hilirisasi inovasi.

“Perlu sinergi bersama untuk mewujudkan riset bersama yang bisa diimplementasikan. Memang dibutuhkan lembaga ventura yang memberikan modal dengan sistem bagi hasil. Pemerintah membentuk lembaga-lembaga seperti itu, termasuk KUR, bank syariah, dan ventura. Maka, saya harap pemda, menteri, dan rektor bergabung bersama-sama membentuk semacam silicon valley di sini,” kata Kalla.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sinergi itu, menurut Kalla, harus ditopang hubungan antara universitas dan dunia usaha. “Diperlukan semacam dewan penyantun misalnya, atau yang mengomunikasikan keperluan dunia usaha. Kalau tidak, riset tidak bisa dibisniskan,” ujar Kalla.

Kalla mencontohkan, ia mencoba mendorong model kerja sama dunia usaha dengan Universitas Hasanuddin di Makassar. Dari 150 penemuan di kampus tersebut, saat dikoneksikan dengan Kadin, Kalla mendapati hanya 10 penemuan yang bisa direalisasikan menjadi usaha. “Sebab, semua usaha itu memiliki tiga unsur, yaitu memproduksi sesuatu yang lebih baik, kualitas lebih baik, dan harga lebih murah. Tiga hal tersebut merupakan tantangan penelitian agar bisa diadopsi oleh sektor usaha,” kata Kalla.

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI–Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan lembaga Jusuf Kalla Innovation and Entrepreneurship Centre di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Senin (4/12). Kalla mendorong terjadinya hilirisasi atau implementasi inovasi perguruan tinggi agar tidak menjadi sekadar laporan penelitian.

Rektor Universitas Brawijaya Muhammad Bisri mengatakan, Jusuf Kalla Innovation and Entrepreneurship Centre diharapkan menjadi lembaga yang menjembatani kepentingan kampus dan swasta. “Lembaga ini kelak mengakselerasikan kepentingan perguruan tinggi (PT) dan swasta, untuk menggodok riset dan pengembangan bisnis,” ujar Bisri.

Bisri mengakui, dari 200-an inovasi di Universitas Brawijaya, hanya 10-20 persen yang terealisasi. Dan dari jumlah itu, sebagian akhirnya tidak bisa berlanjut karena tidak sesuai dengan kebutuhan usaha.

Usaha rintisan
Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia Asep Saefuddin yang juga Rektor Universitas Al Azhar Indonesia menambahkan, indikator dari pencapaian riset mesti berbasis output (hasil), salah satunya bisnis start up (rintisan) untuk menghilirisasi hasil riset di PT.

Hal itu dikemukakan Asep seusai fokus grup diskusi bertajuk “Hilirisasi Riset, Penguatan dan Pengembangan Inovasi dalam Menghadapi Era Disrupsi: Antara Kebijakan dan Implementasi” di Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta, Senin.

Ketua Forum Rektor Indonesia Suyatno seusai acara itu mengatakan, riset inovatif yang mendorong daya saing bangsa selalu dianggap penting. Sayangnya, implementasi dan kebijakan yang menyertainya belum selaras. Riset untuk menghasilkan inovasi yang mendorong pertumbuhan ekonomi selaras dengan program ke-6 Nawacita dari Presiden Joko Widodo. Nyatanya, ekosistem riset, riset berkualitas, dan riset yang dimanfaatkan dari PT untuk dunia usaha dan industri masih jauh dari harapan.

Riset di PT hanya dianggap sekadar salah satu dari tiga darma yang orientasinya memenuhi administrasi, seperti untuk kenaikan jabatan dan akreditasi. “Bukan pada pengembangan riset yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa,” kata Suyatno yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka Jakarta.

Wakil Rektor Universitas Bina Nusantara Elidjen mengatakan, PT yang berani melakukan terobosan, melalui inkubator bisnis atau start up serta menjalankan kuliah tiga tahun dan satu tahun magang atau riset, perlu terus didorong. (DIA/ELN)

Sumber: Kompas, 5 Desember 2017

Informasi terkait

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB