Home / Berita / literasi / Setengah Ingatanku Ada di Google

Setengah Ingatanku Ada di Google

Dengan semakin banyak informasi yang kita terima, rupanya ingatan kita tak lagi mencukupi untuk menampung semuanya.

Untuk itu, banyak di antara kita mengandalkan Google untuk membantu mengingat-ingat potongan ataupun keseluruhan informasi yang kita butuhkan.

Google sendiri sekarang bahkan sudah jadi kata tersendiri, bahkan kata kerja, dan kita bisa mengatakan, ”Kalau tidak tahu mengapa tidak di-google saja?”. Dan sejauh ini memang mengetahui lebih jauh tentang sesuatu hal, menemukan makna kata tertentu kita bisa sangat mengandalkan Google.

Google memang suatu mesin pencari yang dikelola para insinyur dengan ratusan ribu mesin untuk menyediakan informasi apa pun yang dibutuhkan orang di seluruh dunia. Google lahir 1998 dari tangan Sergei Brin dan Larry Page, dua jebolan program PhD dari Stanford University, dan dalam waktu 15 tahun ia sudah menjadi perusahaan media terbesar kedua setelah Apple dan setingkat di atas Microsoft.

Lewat sudah masa keemasan perusahaan media berbasis konten seperti Time Warner, Disney, ataupun News Corporation. CEO Google Eric Smidt pada 2007 mengatakan kepada penulis Ken Auletta bahwa Google akan menjadi perusahaan bernilai ratusan miliar dollar AS, atau dua kali lipat dari besarnya perusahaan Time Warner kala itu. Ken Auletta, penulis buku Googled: The End of the World as We Know It (2009), membuktikan omongan Smidt bukan omong kosong.

Don Ihde, filsuf teknologi asal Amerika, mengemukakan sejumlah pandangan yang menarik terkait dengan masalah perkembangan teknologi dan kaitannya dengan kehidupan manusia, sebagaimana dijelaskan dalam buku Francis Lim, Filsafat Teknologi: Don Ihde tentang Dunia, Manusia dan Alat (2008). Ihde menyebutkan ada empat jenis hubungan antara manusia dan teknologi, salah satu di antaranya disebut sebagai hubungan kebertubuhan (embodiment relations) di mana teknologi di sini menyatu dalam diri manusia dan menjadi alat perpanjangan dari tubuh manusia. Di sini Ihde mengambil inspirasi pemikirannya dari Martin Heidegger dan Jean Merlau-Ponty.

dcd99e9de1394fe1818901ad823a2582Namun Ihde juga mengingatkan, teknologi juga memiliki latent telic (kecenderungan mengarahkan penggunanya pada tujuan tertentu yang tak disadari), dan bisa jadi teknologi kemudian mengalami designer fallacy (teknologi yang diciptakan tak memenuhi keinginan awal penciptanya). Beberapa petikan pemikiran Ihde itu akan menarik jika diterapkan pada saat kita melihat teknologi mesin pencarian sebagaimana dikelola Google di atas. Di satu sisi Google membantu para penggunanya untuk mencari pelbagai informasi yang dibutuhkan dengan cara merangkai ratusan ribu komputer untuk aneka kata pencarian di internet. Hasilnya memang luar biasa. Dalam hitungan detik, Google akan menunjukkan ribuan atau ratusan ribu link yang memuat kata kunci yang hendak dicari.

Memang kerja mesin ini luar biasa karena menghubungkan satu komputer dengan ratusan ribu mesin serupa untuk menghasilkan pencarian yang didapat dalam tempo sangat singkat.

Perubahan diri manusia
Sebelum ditemukan Google, dekade 1980-1990, banyak siswa ataupun mahasiswa di Indonesia melakukan kegiatan kliping berita atau artikel di surat kabar atau majalah. Itulah cara sederhana menyimpan berita atau artikel berharga. Dengan mengklipping, siswa melakukan kegiatan: membaca, menggunting, dan menempel berita yang dimaksud ke atas kertas kosong.

Sekarang kegiatan itu mungkin sudah dianggap kuno dan tak efisien. Menggunting dan menempel artikel di media massa dianggap makan waktu. Selain itu, tumpukan kertas menjadi sesuatu yang perlu ruang banyak dan teknologi digital memungkinkan peringkasan ruang jadi keping-keping CD atau storage besar dalam hard disk komputer.

Pengklipingan secara digital memang dimungkinkan dalam kondisi sekarang. Kita tinggal membuka suatu folder baru dalam komputer dan informasi yang telah kita kumpulkan bisa kita masukkan ke dalamnya. Namun, kadang kita mengalami kebingungan atau kesulitan dalam pengelolaannya. Informasi terlalu banyak, folder terlalu berserak, dan kita pun mengalami kebingungan pada saat hendak mencari kembali informasi yang kita butuhkan. Belum lagi jika ada problem teknis di mana komputer rusak atau terkena virus.

Di luar itu, apa yang bisa diakses di Google adalah hal yang pada dirinya telah tertulis dan bisa diakses dalam dunia digital, artinya tulisan tersebut ada pada suatu laman tertentu, ditulis pada blog tertentu. Namun, bagaimana dengan pengetahuan yang tak terakses dengan dunia digital tersebut? Katakanlah pengetahuan yang berasal dari khazanah masyarakat adat di Indonesia. Belum tentu pengetahuan mereka disebut kalah modern dengan apa yang telah tersedia pada dunia digital ini. Namun, sehebat apa pun pengetahuan masyarakat adat ini, jika tak tersedia dalam dunia digital, ia tak akan dianggap sebagai sesuatu yang ada (non exist).

Di sini ada problem tentang akses, di mana tak semua pengetahuan ataupun informasi tersedia dalam dunia digital. Seorang petinggi Google pernah mengatakan: ”Internet makes information available, but Google that makes information accessible”. Tak semua pernyataan tersebut benar karena di Indonesia, misalnya, tak semua informasi yang ada tersedia di internet. Ada informasi yang harus berbayar dan tak sepenuhnya bisa diakses. Ada pula informasi yang memang tak tersedia di internet karena informasi itu baru didapat jika seseorang mencarinya lebih dalam rupa studi lebih serius berbentuk tulisan ilmiah, misalnya.

Misalnya, lewat Google kita mudah mencari pelbagai tulisan atau buku yang ditulis Martin Heidegger, Karl Marx, Stuart Hall, atau pemikir lainnya. Pun sama mudahnya menemukan pelbagai komentar kritis terhadap para pemikir itu. Namun untuk memahami dan memaknai tulisan para filsuf yang dilakukan tentu saja tak hanya mengumpulkan informasinya, tetapi juga membaca dan mendalaminya.

Dengan demikian, mesin pencari hanyalah alat bantu untuk mencari suatu informasi, tetapi memahami dan memaknai isi informasi hal lain yang dilakukan seorang manusia. Dengan kata lain, manusia sendirilah yang tetap pada akhirnya akan menentukan bagaimana suatu teknologi mau diperlakukan dan fungsi apa yang dibutuhkan manusia. Lewat cara ini manusia pun tetap akan diingatkan pada keterbatasan teknologi dan pula konteks sosial di mana teknologi ini berkembang. Kembali, manusialah yang harus lebih berdaulat dari teknologi yang ada.

Ignatius Haryanto, Peneliti Media dan Pengajar Jurnalistik di LSPP Jakarta

Sumber: Kompas, 4 Januari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: