Warga Desa Tak Sabar Menanti Kiriman Buku

- Editor

Senin, 14 September 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bagaimana jika warga desa yang jarang membaca secara rutin dikirimi buku bacaan? Ternyata, pelan tapi pasti kebiasaan membaca tumbuh juga. Persoalannya memang bukan malas membaca, tapi ketersediaan buku bacaan.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Anak-anak Desa Banjarsari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tak sabar menanti kiriman buku dari sukarelawan program Buku Masuk Rumah, Sabtu (21/08/2020). Progam Buku Masuk Rumah cukup efektif menumbuhkan minat baca di kalangan warga desa.

Setahun terakhir ini, warga Desa Banjarsari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat rutin didatangi dua perempuan berompi cokelat dari Gerakan Desa Membaca. Mereka menyusuri permukiman dengan jalan kaki atau sepeda motor untuk mengantarkan ratusan buku bacaan ke rumah-rumah warga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua perempuan itu bernama Suprihatinah dan Nenah Nuryanah. Mereka berdua ditunjuk pihak Desa Banjarsari untuk menjalankan Pustaka Bergilir Masuk Rumah sebagai wujud Gerakan Desa Membaca yang digagas Yayasan Gemar Membaca Indonesia (Yagemi).

Mereka blusukan setiap hari rumah-rumah warga di 5 RW untuk memutar 200 tas yang masing-masing berisi lima jenis buku bacaan. Ada 1 buku untuk ayah, 1 untuk ibu, 1 untuk remaja, 1 untuk anak belia, satu untuk anak usia dini.

Dalam dua pekan, penerima buku ditargetkan selesai membaca buku-buku yang dikirim. Setelah itu, buku akan ditarik dan diputar untuk warga di RW berikutnya. Tiap rumah mendapatkan empat putaran pengantaran buku-buku dengan judul berbeda.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Dua sukarelawan gerakan Buku Masuk Rumah, Tina dan Nenah, blusukan di Desa Banjarsari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk mengirimkan buku ke rumah-rumah warga, Sabtu (21/8/2020). Setiap rumah mendapat giliran kiriman buku setiap dua pekan sekali.

Supratinah yang akrab disapa Tina, berusia 40 tahun, sukarelawan aktif di desa, Sabtu (21/08/2020) menuturkan, awalnya warga kaget mendapat kiriman tas besar. Mereka mengira tas itu berisi sembako. Setelah dibuka ternyata isinya lima buku, yakni 1 buku untuk ayah, 1 buku untuk ibu, 1 buku untuk remaja, 1 buku untuk belia, dan 1 buku untuk anak usia dini.

Selain kaget, mereka juga merasa aneh mendapatkan buku. “Ada ibu yang ragu menerima tas, sambil bertanya apa nanti kalau sudah dibaca, dia akan dites?” tutur Supratinah, Sabtu (21/08/2020).

Dibiarkan saja
Memiliki buku secara bergilir dan membacanya memang hal baru bagi kebanyakan warga Desa Banjarsari. Selama ini, di rumah warga paling hanya ada buku teks dari sekolah anak-anak mereka. “Itupun (buku teks) dipinjami dari sekolah. Enggak pernah yang namanya beli buku bacaan,” ujar Iyos (35), warga RT 2/RW 3.

Seiring waktu, warga mulai terbiasa menerima kiriman buku dan membacanya. Anak-anak terutama menyukai buku bacaan bergambar dan dongeng. “Si bungsu senang, bahkan sempat mencoret-coret buku. Padahal, petugas bilang jangan sampai (buku) dicoret atau robek, tapi anak nangis terus. Akhirnya saya biarkan saja. Terus, yang dua anak lelaki kembar awalnya masih lihat-lihat saja, belum mau membaca,” kisah Iyos.

Iyos awalnya tidak berpikir untuk ikut membaca. Bagaimana tidak, waktunya sudah habis untuk mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Belakangan, ia lihat anak-anaknya tertarik pada buku bacaan yang dikirim. Iyos pun mulai sadar, ia harus ikut mendampingi anak-anaknya membaca. Belakangan, ia pun tertarik membaca terutama buku resep masakan, buku agama yang mengupas sejarah agama dan kisah nabi, hingga buku soal pengasuhan anak.

Ketika pengiriman buku berakhir, anak-anak merasa kehilangan. Padahal , kebiasan membaca buku sebelum tidur sudah muali diterapkan Iyos pada anak-anaknya, “Kok, kita sudah tidak ada buku lagi,” ucap Iyos menirukan protes anak-anaknya.

Sementara itu, Siti Nurlaili, siswa kelas 4 SD yang tinggal di RT 01/RW 02, kaget saat ibunya Asni (37) menyodorkan tas berisi lima buku baru dengan gambar menarik ke rumahnya, sekitar dua pekan lalu. Nurlalili langsung duduk di atas lantai tanah beralas tikar anyam di rumahnya untuk melahap habis buku Si Paus yang Patuh yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—-Anak-anak di Desa Banjarsari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, senang bisa membaca beragam buku bacaan anak di rumah masing-masing. Hampir setahun ini, tiap rumah dikirimi satu tas berisi lima buku bacaan yang digilir sekitar dua minggu lewat program Buku Masuk Rumah. Program yang digagas Yayasan Gemar Membaca Indonesia ini dimulai sejak 2014 di desa-desa di Sumatera Barat.

“Selama ini, aku hanya punya dua buku komik Doraemon. Itupun sudah lama. Padahal aku suka membaca buku komik dan dongeng nabi. Tapi enggak ada buku bacaan,” ujar Nurlalili.

Usai membaca buku anak, Nurlaili tertarik membaca buku lain yang ada di dalam tas, yakni tentang hari-hari istimewa bersejarah dalam Islam serta Estuaria. “Aku mau buku cepat datang lagi. Kalau baca buku anak cepat selesai. Maunya diperbanyak yang buku anak-anak biar enggak bosan belajar dan bermain saja di rumah,” kata Nurlaili.

Asni bahagia melihat anaknya suka membaca. Sang ibu sebenarnya mendapat jatu satu buku bacaan soal menjadi ibu yang sholehah, namun Asni mengaku belum membacanya. “Sibuk ngurus bayi. Rasanya belum bisa bersantai-santai baca buku,” ujar Asni tersenyum.

Sejumlah anak perempuan tetangga Nurlaili datang hendak mengajak bermain. Ketika mereka melihat buku-buku yang berserakan di lantai, anak-anak justru tertarik melihat buku. “Bukunya beda dengan yang di rumah. Aku mau pinjam. Kalau menunggu datang buku lagi masih lama,” kata Ajirah, siswa kelas 4 SD sambil mengambil buku cerita paus milik Nurlaili.

Ajirah mengatakan, di rumahnya ada banyak buku bacaan milik tantenya. Sayang, buku bacaan tersebut untuk orang dewasa. “Pas nenek kasih tas berisi buku, aku senang. Ada buku bacaan anak yang banyak gambarnya. Tapi nenek pesan supaya buku dijaga, jangan sampai rusak,” tutur Ajirah.

Ketika anak-anak mulai mengetahui buku di tiap tas berbeda, mereka dengan semangat mengambil buku di rumah masing-masing. Lalu mereka saling bertukar buku anak-anak. Rencana bermain bersama batal, berubah jadi kegiatan membaca buku bersama di rumah Nurlaili.

Seperti warga lainnya, awalnya Aisyah (48), warga RT 02/RW 02, dan keluarganya tidak menggubris kiriman buku. Baru pada pengantaran kedua, Aisyah yang sehari-hari sibuk mengurusi sawah, tertarik pada sambul buku soal cara menanam tomat dan sayuran.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Aisyah, warga Desa Banjarsari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mulai merasakan manfaat program buku masuk rumah. Ia mendapat buku tentang cara menanam sayur mayur. Ia mempraktikan apa yang ditulis buku itu di teras rumahnya yang sempit, Sabtu (21/8/2020).

“Penasaran saya baca sampai habis. Saya dapat ilmu menanam tomat, cabe, daun seledri, dan daun bawang di rumah. Saya tidak ada lahan kosong, tapi di lantai atas ada teras kecil. Di buku dijelaskan (menanam sayur) bisa di polybag atau barang bekas. Langsung saya coba dan berhasil,” kata Aisyah yang menjual hasil panen kepada para tetangga.

Sejak saat itu, Aisyah semangat menantikan kiriman tas berisi buku. Suatu ketika, ia menemukan buku tentang kerajinan tangan membuat mobil dari bahan kayu. Buku itu ia sodorkan kepada suaminya. Ternyata sang suami suka. “Sehabis pulang jualan, dia langsung praktekin buat mobil truk besar, bahkan bisa pakai listrik gitu. Hasilnya dijual,” kisah Aisyah.

Jadi kebutuhan
Sekretaris Desa Banjarsari Dede Rahmat yang mengawal program buku masuk rumah mengatakan, anggaran desa baru mampu membeli satu paket buku yang disediakan Yagemi seharga Rp 68 juta. Dana itu untuk menyediakan 200 tas yang menjangkau 1.000 warga dan membiayai sukarelawan. Padahal di desa itu ada 2.500 rumah.

“Desa belum bisa menambah lagi pembelian paket buku yang dibeli tahun lalu. Soalnya anggaran tahun 2020 dialihkan dulu untuk menangani dampak pandemi Covid-19. Padahal, warga sudah mulai protes kenapa belum dapat giliran (peminjaman),” ujar Dede.

Kepala Desa Banjarsari Misbah mengatakan, program buku masuk rumah ditunggu warga. Program ini diharapkan bisa berkelanjutan karena punya manfaat. Saat anak-anak harus belajar di rumah, buku bacaan bisa menghibur anak-anak. Banyak anak yang tadinya lebih banyak main telepon pintar, mulai terbiasa membaca buku sesuai usia mereka.

Program buku masuk rumah diuji coba Yagemi sejak 2014 di sejumlah nagari (desa) di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Program ini dinilai efektif menanamkan kebiasaan membaca di tengah keluarga. Sejak program bergulir, warga selalu menantikan kiriman buku-buku baru.

Ketua Umum Yagemi Firdaus Oemar mengatakan, program memutar buku ke rumah-rumah warga selanjutnya bisa jadi terobosan dalam meningkatkan minat baca di kalangan warga. “Setelah 75 tahun Indonesia merdeka, janji untuk mencerdaskan bangsa masih belum tuntas. Buku bacaan masih jadi barang mahal dan sulit buat warga. Kami para pegiat literasi yang sudah sepuh meriset cara yang efektif dengan membuat buku bacaan digilir ke semua rumah warga di desa. Dana desa bisa dimanfaatkan untuk mendukung pencerdasan masyarakat lewat literasi membaca,” ujar Firdaus.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Ketua Umum Yagemi Firdaus Oemar (kelima dari kiri) menggagas program Buku Masuk Rumah di desa-desa untuk mendorong minat baca masyarakat. Terobosan dilakukan dengan mengantarkan buku ke rumah-rumah warga oleh dua sukarelawan yang berkomitmen dan didukung pihak desa.

Diharapkan program ini, perlahan tapi pasti bisa membantu mengatasi rendahnya kemampuan membaca masyarakat Indonesia. Berdasarkan data UNESCO 2012, indeks baca orang Indonesia adalah 0,01 persen. Data lain menunjukkan, minat baca orang Indonesia ada di peringkat 60 dari 61 negara (Study Most Literated Nation in The World Connecticut State University tahun 2016).

Program buku masuk rumah kemudian dikembangkan Yagemi di daerah lain. Di Jawa Barat, pimpinan desa mulai memakai anggaran desa untuk menyediakan buku bergilir, antara lain di Kabupaten Bogor, Cianjur, Tasikmalaya, Subang, Kabupaten Bandung, dan Garut.

Koordinator Provinsi Pustaka Bergilir Masuk Rumah Jawa Barat M Irfan mengatakan, program buku masuk rumah mulai dilaksanakan pada 2019 di Jabar. “Sejauh ini dampaknya bagus. Karena belum ada program yang meminjamkan buku langsung ke rumah warga. Kalau mengandalkan perpustakaan desa, banyak buku yang tidak dibaca,” ujar Irfan.

Aisyah yang berhasil memanen daun selederi yang tumbuh besar juga menjual ke para tetangga. Dia sudah panen sebanyak empat kali sehingga dapat tambahan uang belanja dapur. “Kenapa buku tidak datang lagi ya. Saya mau belajar lagi soal tanam-tanaman,” tanya Aisyah saat petugas datang ke rumahnya.

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: BUDI SUWARNA

Sumber: Kompas, 13 September 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 8 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB