Home / Berita / Setahun Epidemi Ebola; Dunia Tak Boleh Lengah

Setahun Epidemi Ebola; Dunia Tak Boleh Lengah

Setahun terakhir, ada penyakit lama muncul kembali, merenggut ribuan nyawa, menebar ketakutan, dan meruntuhkan perekonomian. Virus ebola yang pertama kali muncul pada 1976 hadir di tengah situasi dunia yang berubah. Dari pelosok Afrika Barat, virus itu menyebar lintas benua dengan kecepatan tak mampu diimbangi para ahli kesehatan dari negara maju sekalipun.


Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), epidemi ebola yang terjadi sepanjang 2014 berawal dari Meliandou, sebuah desa di Guinea, negara di Afrika Barat, pada 26 Desember 2013. Saat itu, seorang anak berusia 18 bulan mengalami demam dan muntah. Dua hari kemudian, anak itu meninggal. Sumber penyakit yang diderita anak balita itu tidak diketahui pasti. Namun, diduga ia sakit setelah kontak dengan satwa liar.

Meliandou yang hanya dihuni 31 keluarga terletak di Distrik Gueckedou, daerah yang berbatasan dengan hutan. Akan tetapi, mayoritas hutan itu telah hancur oleh tambang asing dan perusahaan kayu.

Deforestasi di Meliandou yang mencapai 80 persen menyebabkan satwa liar yang biasa hidup di hutan keluar dan mencari tempat tinggal yang baru di dekat permukiman. Salah satunya adalah kelelawar yang diduga merupakan reservoir alami virus ebola. Sebelum sakit, anak balita itu terlihat bermain di pohon berongga yang dihuni kelelawar di belakang rumahnya.

Minggu kedua Januari 2014, beberapa anggota keluarga anak itu yang menghadiri pemakaman dan merawat anak tersebut juga menderita sakit yang sama dan meninggal. Pemakaman demi pemakaman terjadi setelah itu. Tidak ada yang tahu bahwa kematian itu disebabkan virus ebola. Bahkan, ketika ada kerabat anak itu meninggal di rumah sakit di Conakry, ibu kota Guinea, dokter setempat tidak mencurigai penyakit itu adalah ebola.

Baru pada 22 Maret 2014, the Institut Pasteur di Lyon, Perancis, yang bekerja sama dengan WHO, mengonfirmasi bahwa penyebab kematian banyak penduduk Guinea adalah spesies zaire, virus paling mematikan dari keluarga ebola. Ketika WHO mengumumkan wabah ebola pada 23 Maret 2014, sebanyak 49 kasus ebola telah muncul dan 29 orang telah meninggal karena terinfeksi virus ganas tersebut.

Tiga negara
Di tiga negara, yakni Guinea, Liberia, dan Sierra Leone, virus ebola menjadi epidemi karena lemahnya sistem kesehatan di daerah itu. Tenaga kesehatan terlatih minim, surveilans tidak berjalan dengan baik, dan sistem informasi kurang bagus.

19368651hSelain itu, sejumlah negara tersebut tidak memiliki sistem respons cepat terhadap wabah, jumlah laboratorium sedikit, kurangnya pasokan listrik dan air bersih di fasilitas kesehatan, serta sedikitnya ambulans. Edukasi kesehatan kepada masyarakat juga minim, termasuk kurangnya pelibatan komunitas dalam promosi kesehatan.

Kondisi itu berbeda dengan negara-negara di Afrika bagian tengah yang telah berpengalaman menghadapi wabah ebola selama hampir empat dekade. Meski sistem kesehatan di kawasan itu umumnya lemah, mereka amat memahami penyakit itu. Sistem kesehatan mereka terbiasa dengan ebola.

Pada laman WHO, Marie-Paule Kieny, Asisten Direktur Jenderal Kesehatan dan Inovasi WHO, menyampaikan, epidemi ebola di Afrika Barat dalam setahun terakhir tak seperti yang terjadi saat penyakit itu pertama kali diidentifikasi pada 1976 di Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo) dan Sudan.

Epidemi kali ini jauh lebih besar dalam hal jumlah, penyebaran secara geografis, juga lebih tak terduga dalam perilaku penyebaran daripada kejadian sebelumnya. WHO dan para mitranya pada gilirannya harus beradaptasi dengan situasi tersebut.

Sistem kesehatan
Untuk mengendalikan penyebaran wabah ebola agar tidak meluas, yang bisa dilakukan adalah memperkuat sistem kesehatan yang terintegrasi, responsif, dan proaktif untuk setiap ancaman di masa depan. Kepatuhan pada regulasi kesehatan internasional (IHR) di setiap negara menjadi elemen penting dalam hal ini.

Direktur Departemen Penyakit Menular WHO Regional Asia Tenggara (SEARO) Rajesh Bhatia, pada lokakarya media bertema ”Penyakit Infeksi Berbahaya”, di Nepal, beberapa waktu lalu, memaparkan, selain infrastruktur dan tenaga kesehatan yang lemah, penularan ebola juga dipengaruhi mitos, kebiasaan dalam pemakaman, rumor, tak ada informasi yang tepat, dan resistensi publik di Afrika. ”Sebagian masyarakat di wilayah itu menganggap kedatangan para ahli medis asing sebagai sumber munculnya ebola,” katanya. Menurut Bhatia, ebola belum akan berakhir pada tahun 2015. Penyebaran penularan masih amat mungkin meluas seiring dengan mobilitas penduduk. Sampai kini, penyakit ebola belum ada obatnya. Calon vaksin yang sedang dibuat pun masih dalam tahap penelitian.

Perkembangan terakhir, beberapa hari lalu, 300 dosis calon vaksin sudah dikirim ke Liberia untuk diuji coba. Calon vaksin itu adalah satu dari tiga calon vaksin yang selama ini diteliti para ahli.

Tidak siap
Guru Besar Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya, Chairul A Nidom, saat dihubungi dari Jakarta, mengatakan, epidemi ebola di Afrika Barat menunjukkan dunia tidak siap menghadapi epidemi penyakit menular yang bisa bergerak sangat cepat. Selain itu, wabah ebola di Afrika juga memperlihatkan betapa penyakit menular bisa berdampak besar pada perekonomian suatu negara.

”Kalau pemerintah teledor dan tidak siap, bukan hanya penduduk yang akan terancam jiwanya, melainkan juga perekonomian negara,” ujar Nidom. Karena itu, pemetaan penyakit sangat diperlukan, apalagi Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi yang memiliki risiko penyakit menular tinggi.

Epidemi ebola di Afrika harus menjadi pelajaran bagi semua negara. Pemerintah tidak cukup menyampaikan kepada publik bahwa di Indonesia tidak ada ebola. Sebab, pada tahun 2011 ditemukan virus ebola spesies zaire dan virus marburg pada orangutan Kalimantan di Indonesia. Karena itu, kewaspadaan tidak boleh mengendur.

Indonesia, menurut Nidom, memiliki infrastruktur kesehatan yang baik. Kesiapan infrastruktur bidang kesehatan itu diperlukan untuk merespons wabah penyakit menular. Contohnya, tenaga kesehatan terlatih, fasilitas kesehatan yang memadai, dan laboratorium dengan tingkat keamanan biologis yang tepercaya.

Akan tetapi, sejauh ini, aspek koordinasi dan sinergi di antara berbagai unsur dinilai masih kurang. Padahal, hal itu merupakan salah satu kunci dalam penanggulangan penyakit yang menular dengan amat cepat.

Oleh: Adhitya Ramadhan

Sumber: Kompas, 2 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: