Ebola

- Editor

Rabu, 27 Agustus 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika ebola mulai merebak lagi Juli lalu, pusat pengawasan dan pencegahan penyakit paling bergengsi di Amerika Serikat, CDC, langsung siaga satu. Kejadiannya boleh saja di daerah paling pelosok Afrika, tetapi dampaknya meneror penduduk dunia. Inilah sisi lain dari The World is Flat, buku karya Thomas L Friedman (2005) yang mengguncang dunia itu.

Jika Friedman meramalkan globalisasi ekonomi yang disatukan oleh kemajuan teknologi informasi, sistem produksi model outsourcing dan outshoring, dan efisiensi rantai suplai barang, penyebaran penyakit sebenarnya lebih kurang sama. Wabah yang tidak terkontrol, betapapun jauhnya tempat kejadian, berpotensi mengancam seluruh penghuni bumi.

”Kehidupan kita dihubungkan oleh udara yang sama, makanan, dan teknologi penerbangan yang dapat mengangkut penyakit dari suatu tempat ke tempat lain. Setiap hari,” kata Direktur CDC Dr Tom Frieden (Time, 25/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah menunjukkan, virus yang mewabah pada tahun 1967 di pabrik Behring Works ternyata berasal dari sel-sel ginjal monyet hijau Afrika untuk memproduksi vaksin. Virus itu akhirnya dinamai marburg, kota tua di Jerman bagian tengah, tempat pabrik vaksin itu berada. Virus berpindah ke spesies lain dan muncul di antara petugas kandang dan penduduk kota.

Begitu pula halnya dengan subtipe ebola-reston yang pernah dideteksi di pusat karantina di Virginia, Pennsylvania, dan Texas (AS) pada tahun 1989-1990. Setelah diteliti, ebola-reston ternyata ditularkan oleh monyet-monyet yang didatangkan dari Filipina.

Dengan demikian, bisa dimengerti mengapa teror ebola sepanjang dua bulan terakhir membangkitkan kewaspadaan para peneliti di CDC, Atlanta, yang berjarak ribuan kilometer dari kawasan Afrika Barat, tempat ebola merajalela.

Giliran Afrika Barat
Adalah Liberia, Sierra Leone, dan Guinea yang kini tengah dilanda demam berdarah ebola. Korban yang tertular ebola menunjukkan gejala demam tinggi, sakit kepala, dan pendarahan hebat yang akhirnya memicu shock dan kematian. Virus ini menyerang seluruh tubuh, mulai dari kulit, jaringan ikat, hingga organ-organ dalam.

Pertengahan Juli lalu, di Liberia bagian tengah, pasien ebola yang dirawat di Rumah Sakit Phebe menulari lima perawat, seorang asisten, dan salah satu dokter di sana. Pasien itu kemudian meninggal, demikian juga asisten dan kelima perawat. Hanya sang dokter yang selamat. ”Ebola jauh lebih buruk dibandingkan perang. Dalam perang, kita segera lari dan bersembunyi begitu mendengar suara tembakan. Pada ebola, kita tidak pernah tahu dari mana dia datang atau dibawa oleh siapa,” kata dr Jefferson Sibley, pengelola RS Phebe yang kini kosong ditinggal para anggota stafnya.

Hingga 20 Agustus 2014, Organisasi Kesehatan Dunia mencatat, total ada 1.427 kasus, termasuk yang diduga, dicurigai, ataupun positif terinfeksi virus ebola. Semuanya terjadi di kawasan Afrika Barat, seperti Sierra Leone, Nigeria, Liberia, dan Guinea, negara-negara yang sampai 2012 tidak pernah melaporkan adanya kasus ebola.

Ebola mulai dikenal tahun 1976 ketika muncul di Desa Nzara, Sudan, dan Desa Yambuku, Republik Demokratik Kongo. Nama ebola berasal dari Sungai Ebola yang melewati Yambuku. Virus ini kemudian lebih banyak melanda kawasan Afrika Tengah, termasuk Kongo, Gabon, dan Uganda. Dengan tingkat kematian hingga 90 persen dan penularan yang mudah—lewat kontak langsung dengan cairan tubuh, seperti darah, muntahan, air seni, dan tinja penderita—penyakit ini memang menjadi momok.

Oleh karena itu, Indonesia juga perlu waspada. Apalagi, secara geografi dan iklim, Indonesia memiliki hutan hujan tropis dan fauna yang mirip dengan Afrika dan Filipina. Dengan demikian, Indonesia berpotensi menjadi sumber virus ebola. Syukurlah beberapa peneliti Indonesia telah bekerja sama dengan peneliti Jepang untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan ini.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menyebutkan, pemerintah sudah menyiapkan laboratorium untuk memeriksa ebola jika nanti diperlukan. Indonesia akan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) di laboratorium Biology Safety Level (BSL) 3 di Balitbangkes yang sudah memiliki kelengkapan alat, petugas, dan prosedur (Kompas, 7/8).

Upaya ini tentu saja tidak hanya untuk ebola. Laurie Garrett (The Coming Plague, 1994) mengingatkan, ada puluhan virus penyakit infeksi baru. Tak ada salahnya kita berjaga-jaga.

Oleh: Agnes Aristiarini

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2014

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB