Catatan Iptek; Sekali Lagi, Ebola

- Editor

Kamis, 13 November 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

”Sejak hari pertama, ebola memang tidak terkontrol. Tidak seorang pun mampu mengatasinya, sampai sekarang.”

Christopher Stokes
Dirjen Pusat Penanganan Ebola Dokter Tanpa Batas (MSF)
(”Time”, 10 November 2014)

Dalam setahun terakhir, penyebaran ebola seolah tak terbendung. Setelah hampir tiga bulan merebak dan memicu kematian di Guinea, virus mematikan itu melintasi perbatasan ke Sierra Leone, Liberia, Senegal, dan Nigeria. Bahkan, untuk pertama kalinya, pada Maret 2014, ebola telah menyeberang lautan hingga Madrid, ibu kota Spanyol, serta Dallas dan New York di Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hingga Oktober 2014, ebola menyebabkan 4.922 kematian dari 13.703 kasus. Lembaga kemanusiaan Dokter Tanpa Batas (MSF) sebenarnya telah mengingatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa ebola segera menjadi ancaman dunia jika tidak serius ditangani. Namun, WHO mengabaikannya (Time, 10/11). MSF adalah salah satu lembaga yang pertama membangun klinik gawat darurat ketika ebola merebak di Guinea.

Pertengahan Juni, virolog AS, Robert Garry, kembali mengingatkan perlunya gerak cepat untuk mencegah ebola menjadi epidemi dunia. Ia baru pulang dari Sierra Leone dan prihatin melihat kurangnya fasilitas penanganan infeksi dengan tingkat kematian tinggi itu. ”Laporan saya sepertinya diterima dengan baik, tetapi ternyata tidak ada tindak lanjutnya,” kata Garry.

Akhir Juli, MSF kembali mengeluarkan pernyataan bahwa ebola semakin tidak terkontrol dan meminta bantuan internasional, termasuk WHO, karena tidak sanggup sendirian mengatasi pesatnya penyebaran ebola. Namun, WHO baru mendeklarasikan ebola sebagai masalah darurat kesehatan global pada awal Agustus, lima bulan setelah ebola ditemukan di Guinea dan sudah menelan 1.000 korban jiwa.

Kenyataannya, hingga kini nyaris tidak ada kepemimpinan untuk menggerakkan solidaritas internasional melawan ebola. Padahal, Liberia, sebagai contoh, hanya memiliki 50 dokter untuk menangani 4,4 juta penduduk. Hingga Oktober, masih dibutuhkan 19.000 dokter lagi untuk menolong penduduk di kawasan pantai barat Afrika itu. Apalagi, para tenaga kesehatan lokal banyak melarikan diri dari rumah sakit dan tenaga internasional enggan datang dengan alasan serupa: takut tertular.

Perkara pengiriman bantuan juga bermasalah. Bantuan untuk Sierra Leone sejak Agustus berupa 100 kotak pakaian pelindung, 80 kotak masker, dan obat-obatan senilai 140.000 dollar AS belum juga dibongkar hingga Oktober.

”Alangkah memalukannya kalau saya sampai mengajukan MSF untuk memimpin perang global melawan ebola. Saya masih berharap dunia bergerak dan MSF cukup menjadi salah satu pendukungnya,” kata Presiden MSF Joanne Liu.
Perkembangan penelitian
Nama ebola berasal dari nama sungai kecil di Kongo, tempat virus itu pertama kali ditemukan tahun 1976. Sejak saat itu hingga 2014, ebola telah menyerang 11 negara di Afrika, juga Spanyol dan AS, meski strain-nya berbeda. Di Indonesia pun sudah tiga orang diduga terkena ebola meski hasil uji laboratoriumnya negatif.

Dengan tingkat kematian tinggi, 40-90 persen, ebola memang menjadi ancaman menakutkan. Apalagi, penularannya mudah, lewat kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, seperti ludah, darah, muntahan, air seni, dan tinja.

Virus ebola masuk famili Filoviridae. Berasal dari kata filum yang dalam bahasa Latin berarti ’benang’, virus ini memang mirip benang dengan bentuk tanda baca seperti tanda tanya. Menurut para ilmuwan yang mempelajari evolusi dan perilaku virus, ebola termasuk menggemparkan karena menjadi parasit sel hidup dan berkembang biak dengan sangat cepat dan masif (International New York Times, 29/10).

Disebut penyakit zoonosis karena melompat dari binatang ke manusia, inang alami ebola adalah kelelawar buah. Menurut Aftab Ansari dari Emory University School of Medicine, virus ebola mematikan sistem pembekuan darah pada manusia sehingga memicu pendarahan. Kecepatan replikasinya telah memblokir pelepasan interferon sehingga sistem kekebalan tubuh lumpuh dan terlambat beradaptasi.

Maka, selain mencegah penularan virus di lini terdepan, para ahli juga terus berjuang mengenali kelebihan dan kelemahan ebola. Kapan bisa mengatasinya, itu masih tanda tanya besar.

Oleh: Agnes Aristiarini

Sumber: Kompas, 12 November 2014

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Berita ini 12 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB