Home / Berita / Seruan Moral Melestarikan Lingkungan

Seruan Moral Melestarikan Lingkungan

Kerusakan lingkungan bisa menghancurkan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Agama bisa membangkitkan kesadaran moral dan etika bagi umat manusia untuk menjaga lingkungan.

Upaya mengurangi risiko akibat kerusakan lingkungan menjaga eksistensi negara. Lebih luas lagi, kerusakan lingkungan bisa menghancurkan kehidupan manusia dan makhluk hidup. Kelangsungan sebuah bangsa tergantung bagaimana bangsa itu mengelola sampah, mengelola lingkungannya.

Salah satu hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019, 27 Februari-1 Maret, adalah putusan mengenai sampah plastik yang pengelolaannya wajib hukumnya. Keprihatinan NU terhadap sampah plastik yang mencapai 130.000 ton per hari mendorong soal itu dibahas bersama masalah kebangsaan lain di arena munas.

KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA–Berbagai jenis sampah, terutama sampah plastik yang tidak bisa terurai lingkungan, kembali mengotori Pantai Muaro Lasak di Kawasan Pantai Padang, Kota Padang, Sumatera Barat, seperti terlihat Rabu (23/1/2019) siang. Kondisi ini terjadi hampir setiap tahun di kawasan pantai yang menjadi ikon pariwisata Kota Padang tersebut. Sampah-sampah itu berasal dari masyarakat yang dibuang ke sungai-sungai yang melintasi Kota Padang, kemudian terbawa ke laut, dan kembali ke darat saat gelombang pasang atau musim hujan seperti saat ini.

”Persoalan ekologis adalah hal serius. Kebijakan pemerintah bidang lingkungan hidup amat diperlukan sebagai bagian upaya mempertahankan eksistensi negara-bangsa,” kata Muhammad Ali Yusuf, Kepala Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU, Rabu (27/2/2019), di sela-sela Munas Alim Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat.

Menurut pandangan NU, banyaknya sampah plastik dan posisi Indonesia sebagai daerah rawan bencana mesti disikapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, 95 persen bencana di Indonesia adalah bencana ekologis, seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan. ”Sejak 2010, NU menaruh perhatian pada isu lingkungan. Jangan sampai kita fokus pada penyelamatan korban, tetapi tak melakukan mitigasi dan pencegahan,” ujarnya. (Kompas, 5 Maret 2019)

Keprihatinan warga NU itu tidak mengada-ada. Agama sebagai basis moral dan etika jika digali lebih dalam, pada tiap agama dalam ajarannya ada etika bagaimana manusia harus menjaga lingkungan hidup. Pihak LPBI NU pada 2010 menerbitkan buku adaptasi pada perubahan iklim dari perspektif Islam.

Serupa dengan seruan NU terkait sampah plastik, Gereja Katolik menyerukan pertobatan ekologis. Itu adalah seruan agar manusia tak hanya berbuat baik dengan sesama manusia, tetapi juga dengan lingkungan. Saat bertobat, manusia membuka hati kepada Tuhan. Pertobatan ekologis jadi pintu untuk kembali terhubung dengan Tuhan sebab dunia seisinya, lingkungan hidup dengan satwa dan tumbuhan, adalah hasil karya Tuhan (Kejadian 1:31).

Rekomendasi Munas Alim Ulama NU kontekstual dengan soal lingkungan, yakni sampah plastik yang banyak menelan korban. Muncul keprihatinan bahwa Indonesia jadi negara nomor dua penghasil sampah plastik yang berakhir di laut dan berdampak pada kematian hewan-hewan besar, serta meracuni makhluk hidup di daratan karena rantai makanan. Plastik yang kita buang ke laut berakhir di piring makan kita terbawa oleh ikan.

Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019).–KOMPAS/HERU SRI KUMORO (KUM)–27-02-2019

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019).

Senapas dengan kepedulian NU, Gereja Katolik melakukan pertobatan ekologisnya antara lain mempraktikkan penggunaan bahan ramah lingkungan pada perayaan hari-hari besar keagamaan. Upaya mendekat pada alam dan lingkungan tampak pada pemakaian pangan hasil bumi.

Sebelum Laudato Si, ensiklik yang dikeluarkan Paus Fransiskus pada 2015, Paus Yohanes Paulus II mengajak umat melakukan pertobatan ekologis. Penerusnya, Paus Benediktus XVI, mendapat julukan sebagai ”Paus Hijau”. Dia menerbitkan ensiklik Caritas in Veritate. Saat itu, ia mengganti atap Vatikan dengan sel surya sebagai sumber energi. Paus Fransiskus adalah paus berikut yang mengikuti jejak hijau itu dengan mengeluarkan ensiklik Laudato Si (Terpujilah Engkau Tuhanku) berisi ajakan merawat bumi.

Dengan basis moral dan etika serupa, kelompok agama Buddha pada tahun 2015 menyerukan ”Waktu untuk Beraksi adalah Sekarang” (The Time to Act is Now). Muncul kesadaran kuat bahwa kemanusiaan terancam dengan pemanasan global karena bencana ekologis menerpa berbagai belahan bumi.

Kehidupan beragam makhluk hidup terancam. Jika aktivitas manusia seperti sekarang, separuh dari keanekaragaman hayati akan punah akhir abad ini. Apa yang dilakukan manusia selama ini melanggar prinsip agama Buddha untuk tak membahayakan kehidupan semua makhluk.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Sebuah mesin dispenser berbahan plastik tergeletak di dasar laut di dekat bangkai bus yang ditenggelamkan di kawasan Pantai Taman Nukila, Kota Ternate, Maluku Utara, Selasa (12/3/2019). Kampanye pengurangan sampah plastik dan praktik pembuangan sampah jenis tersebut secara sembarangan ke laut terus dilakukan untuk mengurangi laju kerusakan lingkungan ekosistem laut.

Pelaku berlalu
Membaca semua ajakan moral dan pilihan etis untuk hidup dengan cara baik yang tak merusak bumi, tidak merusak alam dan lingkungan, jatuh pada individu pemeluk agama. Adaptasi dilakukan individu- individu dan kelompok-kelompok kecil penggerak komunitas. Entitas negara dan kelompok pelaku industri sebagai pihak perusak belum terdengar disasar seruan moral itu.

Pada kalangan umat lebih luas, sebagian adalah para pelaku industri. Mereka jadi bagian kelompok perusak bumi, penghancur kemanusiaan. Revolusi Industri yang jadi titik awal emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim telah melahirkan kelompok elite pengusaha, pemilik modal, pelaku industri. Industri diakui sebagai penyebab segala kerusakan yang memicu bencana ekologis dan menghancurkan kemanusiaan secara masif.

Sayangnya, seruan dari pemuka dan pemimpin agama belum nyata menyentuh pada kelompok bisnis. Mereka mencanangkan komitmen yang kerap bersifat politis. Pada beberapa kasus terjadi ironi, ketika agama didukung pihak yang merusak lingkungan.

Langkah selanjutnya yang dinanti dari para pemuka agama adalah mengajak para pelaku industri, pemilik perusahaan multinasional, agar berpihak pada keberlanjutan alam dan menjaga bumi tetap sehat. Para tokoh agama juga perlu mengajak pemerintah selaku pembuat kebijakan.

Mereka bukan umat berbeda dari umat lain. Tanpa perubahan perilaku dari para pelaku industri, upaya penyelamatan bumi menjadi pertarungan tak seimbang. Ketika komunitas menanam 100 pohon, pada saat yang sama sebuah perusahaan membabat pohon di area seluas lapangan bola.

Agama bisa menjadi alat terakhir untuk membangkitkan kesadaran moral dan etika bagi umat manusia. Sungguh ironi: manusia adalah penghancur sekaligus pembangun keberlanjutan dan keutuhan ciptaan-bumi seisinya. Sebuah pekerjaan rumah tak mudah karena akan jadi proses menyakitkan. Kita perlu meningkatkan seruan moral itu.

Oleh BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumber: Kompas, 14 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: