Semakin Kaya Spesies Hewan, Semakin Banyak Virusnya

- Editor

Sabtu, 18 April 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau Myoskun, kira-kira sejam perjalanan dari  Pelabuhan Waisai, Waigeo, Raja Ampat, menjadi rumah peniki atau kelelawar. 

Kompas/Putu Fajar Arcana (CAN)
20-06-2014

Pulau Myoskun, kira-kira sejam perjalanan dari Pelabuhan Waisai, Waigeo, Raja Ampat, menjadi rumah peniki atau kelelawar. Kompas/Putu Fajar Arcana (CAN) 20-06-2014

Kelompok hewan yang memiliki keragaman spesies lebih banyak, seperti kelelawar dan tikus, cenderung memiliki lebih banyak virus. Virus itu dapat melompat ke manusia, seperti virus korona baru dari kelelawar.

Kelelawar dan hewan pengerat merupakan reservoir virus yang berisiko menyeberang ke manusia. Namun, sifat ini tidak hanya khas dimiliki kelelawar dan tikus, tetapi juga dimiliki banyak hewan lain. Ordo binatang yang memiliki variasi spesies paling beragam menyimpan virus paling banyak.

Peneliti dari University of Glasgow Centre for Virus Research, Skotlandia, Nardus Mollentze dan Daniel G Streicker, menemukan bahwa jumlah virus kelelawar dan tikus yang telah menginfeksi orang sebanding dengan jumlah spesies yang terkandung dalam kelompok itu. Kajian ini dipublikasikan di jurnal PNAS, 13 April 2018.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kelelawar diketahui memiliki beberapa virus yang menyebabkan penyakit parah pada manusia, termasuk rabies, ebola, dan infeksi yang memicu sindrom pernapasan akut (SARS-CoV) hingga Covid-19 yang kini jadi pandemi dunia. Oleh karena itu, kelelawar, selain tikus, selama ini menjadi fokus dari sebagian besar deteksi dan pengawasan virus.

Penelitian yang meneliti spesies individu ini sejumlah fauna ini telah menemukan bahwa kelelawar memiliki lebih banyak virus secara proporsional daripada mamalia lain. Namun, Streicker dan Mollentze, kemudian melihat apakah pola ini ada pada kelompok mamalia dan burung yang berbeda.

KOMPAS/ IWAN SETIYAWAN–Suasana Pasar Tomohon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Minggu (29/7/2012). Di pasar ini banyak ditemukan penjual beragam jenis satwa liar untuk konsumsi.

Peneliti ini membandingkan virus yang menginfeksi manusia di 11 ordo berbeda, termasuk Chiroptera (kelelawar), Rodentia (tikus), dan Passeriformes (burung penyanyi). Mereka kemudian membangun database dengan mengumpulkan data pada 415 virus DNA dan RNA dari hewan yang telah menyebar ke manusia.

Analisis statistik mereka memperkirakan bahwa kelompok hewan yang memiliki keragaman spesies lebih banyak cenderung memiliki lebih banyak virus dan akibatnya memiliki sejumlah besar virus yang dapat melompat ke manusia. ”Misalnya, tikus adalah ordo mamalia yang paling kaya spesies dalam penelitian ini dan mereka juga memiliki jumlah virus terbesar yang berpindah ke manusia,” kata Streicker, seperti dikutip Nature pada 14 April 2020.

”Temuan kami menunjukkan bahwa variasi dalam frekuensi zoonosis di antara hewan dapat dijelaskan tanpa adanya hubungan ekologis atau imunologis khusus antara inang dan virus. Ini menunjukkan perlunya mempertimbangkan kembali pendekatan saat ini yang bertujuan untuk menemukan dan memprediksi zoonosis baru yang hanya fokus pada hewan tertentu,” sebut para peneliti ini.

Kajian ini merekomendasikan, upaya pengawasan epidemiologi di masa depan didorong untuk mengidentifikasi ancaman penyakit dari sumber hewan dengan lebih fokus pada daerah dengan keanekaragaman hayati tinggi.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Kelelawar atau paniki yang telah dibakar dan dijual untuk diolah kembali di Pasar Beriman, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Sabtu (10/8/2019). Paniki menjadi salah satu makanan favorit saat perayaan ucapan syukur. Semakin langka jenis daging yang dimasak menjadi keunikan dan buruan tamu yang datang saat pesta.

Oleh AHMAD ARIF

Editor ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas,18 April 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB