Home / Berita / Sekolah Kurikulum Luar Negeri; Mahal, tetapi Dicari

Sekolah Kurikulum Luar Negeri; Mahal, tetapi Dicari

Di perkotaan, beragam sekolah bermunculan menawarkan alternatif bentuk pendidikan. Salah satu yang marak ialah kemunculan sekolah yang menggunakan kurikulum luar negeri. Dulu, kerap disebut sekolah internasional, sekarang dilarang menggunakan istilah itu. Sekolah-sekolah itu menerapkan biaya jutaan rupiah, tetapi tetap dicari dengan beragam alasan.


Salah satu orangtua yang memilih sekolah internasional ialah Fera (30), warga Kembangan, Jakarta Barat. Fera telah menyiapkan sekolah internasional untuk anaknya, Stefani dan Felicia, yang kini duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) Global Sevilla, di wilayah Kembangan Raya, Jakarta Barat. Rencananya, kedua anaknya akan lanjut di sekolah dasar Global Sevilla.

Dia beranggapan, meskipun sekolah internasional bukan sekolah negeri yang biayanya gratis, sekolah internasional memiliki kualitas yang lebih baik, seperti fasilitas, guru, dan proses belajar mengajar. ”Lihat kualitasnya juga, dong,” kata Fera yang bermukim di dekat sekolah tersebut. Di sekolah dasar incarannya itu, perkiraan biaya Rp 4 juta per bulan. Belum termasuk uang ”pangkal”.

Rencana melanjutkan pendidikan ke luar negeri menjadi alasan lain sebagian besar siswa memilih bersekolah dengan kurikulum luar negeri. Manajer Pemasaran dan Operasi Bunda Mulia International School (BMIS) Shelly Januarty mengatakan, sekitar 80 persen siswa BMIS ialah warga negara Indonesia. Namun, kegiatan pembelajaran menggunakan bahasa Inggris. Murid pun fasih menggunakan bahasa itu.

Di sekolah-sekolah ”internasional” (dulu), kurikulum luar negeri dan bahasa asing, seperti bahasa Inggris menjadi salah satu ”daya jual”. Itu ditegaskan pula dalam brosur-brosur pemasaran mereka (ya, sekolah-sekolah itu memiliki bagian marketing, layaknya perusahaan).

Global Sevilla, yang berada di Jalan Kembangan Raya, Puri Indah, Jakarta Barat, menawarkan kurikulum Cambridge. Dalam proses belajar, guru menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar pelajaran. Tidak hanya di kelas, para murid saat bercakap dengan murid lain dan guru, juga berbahasa Inggris. Bahasa lain yang juga digunakan ialah bahasa Mandarin.

”Cambridge itu diakui di dunia. Jadi, untuk melanjutkan studi ke luar negeri, siswa sudah punya ’tiketnya’,” kata Aderini Kencana, Principal Primary School Global Sevilla, Kamis (12/2). Seperti halnya Global Sevilla, kurikulum Cambridge juga digunakan di BMIS dan sekolah serupa lainnya, El Shaddai.

Bunda Mulia International SchoolSekolah juga berlomba-lomba menyediakan berbagai fasilitas. BMIS memiliki gedung 4 lantai yang berdiri di area seluas 11.000 meter persegi. Selain fasilitas dasar sekolah, seperti ruang kelas, laboratorium dan perpustakaan, sekolah itu juga dilengkapi berbagai lapangan, mulai dari futsal, basket, voli, sepak bola, badminton, dan tenis meja. Ada pula dua kolam renang. Di Global Sevilla terdapat ruang khusus gym dan ruang musik.

Bahkan, esktrakurikuler pun diupayakan berbeda. Manajer Bisnis El Shaddai Mozart mengatakan, sekolah itu memiliki beragam ekstrakurikuler, mulai dari musik, kerajinan tangan, tata boga, hingga ice skating.

Segala fasilitas itu diganjar dengan biaya pendidikan yang mencapai jutaan rupiah. Di BMIS, misalnya, untuk tingkat SD, orangtua harus menyiapkan uang Rp 40 juta per tahun. Tingkat SMP Rp 45 juta per tahun dan SMA Rp 48 juta per tahun. Biaya tersebut belum termasuk biaya seragam, alat tulis, buku, dan perlengkapan lainnya. Selain itu, untuk biaya awal sekolah, orangtua harus merogoh kocek sebanyak Rp 36 juta.

Cek sebelum daftar
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad berpandangan, terdapat sejumlah faktor yang harus diperhatikan orangtua ketika memilih sekolah untuk anak-anak mereka. Jangan sampai orangtua termakan promosi tanpa menyadari maksud dan keadaan sebenarnya dari sebuah lembaga pendidikan. Selain akreditasi, kompetensi guru dan sarana pembelajaran amat menentukan mutu pembelajaran. Orangtua jangan segan mengobrol dengan para guru.

Bentuk fisik sekolah pun harus diperhatikan. ”Cek betul keamanan, kebersihan, dan perhatian sekolah terhadap lingkungan yang sehat untuk anak-anak,” tutur Hamid.

Kegiatan ekstrakurikuler juga tidak kalah penting karena kegiatan itu membantu mengembangkan minat dan bakat anak. Jadi, orangtua sebaiknya mengecek sekolah tersebut apakah sering mengikuti dan memenangi perlombaan akademis, olahraga, dan kesenian.

Faktor terakhir adalah jarak dari rumah ke sekolah. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan aturan zonasi, yaitu memilih sekolah sesuai dengan rayon. Tujuannya agar tidak membebankan anak dengan stres perjalanan menuju sekolah. (B05/B06/DNE)

Sumber: Kompas, 16 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: