Sedap-sedap Nikmat walau ”Tak Sedap”

- Editor

Senin, 21 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siapa tak suka mengupil, mengulik lubang hidung dengan jari hingga kotoran di dinding hidung lenyap. Meski mengasyikkan, melegakan, banyak orang menganggap mengupil menjijikkan, tidak higienis, dan bisa membahayakan.

Mudah saja menemukan orang di sekitar mengupil. Perilaku mengorek ingus mengering itu tak kenal umur, jenis kelamin, atau strata sosial.

”Mengupil adalah tindakan yang menyatukan manusia,” tulis Jason G Goldman dalam ”Why Do We Pick Our Nose” di BBC, 2 Februari 2015.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski perilaku jamak, sedikit yang mengakui. Rasa malu dan menyesal muncul saat tepergok mengupil. Sebaliknya, saat memergoki orang mengupil, yang muncul rasa sebal dan jijik.

Alasan mengupil beragam. Penelitian Chittaranjan Andrade dan BS Srihari dalam ”A Preliminary Survey of Rhinotillexomania in an Adolescent Sample” di Journal of Clinical Psychiatry, 62, 2001, menyebut, mayoritas anak dan remaja India yang jadi responden mengupil untuk mengurangi rasa gatal, membersihkan hidung dari debu di dinding dalam hidung, serta demi sensasi rasa enak atau nyaman.

Rasa enak seusai mengupil juga ditemukan pada orang dewasa, seperti penelitian JW Jefferson dan TD Thompson dari Sekolah Kedokteran Universitas Wisconsin, Amerika Serikat, dalam ”Rhinotillexomania:Psychiatric Disorder or Habit?” di Journal of Clinical Psychiatry, 56, 1995. Namun, ada pula orang dewasa yang mengupil demi rangsangan seksual.

Frekuensi mengupil beragam. Rata-rata responden anak dan remaja di India mengupil empat kali sehari. Sedikit yang mengorek hidung lebih 20 kali sehari. Pada orang dewasa di Wisconsin, AS, 91 persen responden mengupil. Hanya 1,2 persen yang mengupil minimal sekali setiap jam. Jika ditotal, ada responden yang mengaku mengupil 15-30 menit hingga dua jam dalam sehari.

Mengupil lebih umum dilakukan anak laki-laki. Anak perempuan menilai jorok. Anak yang gemar mengupil juga berpotensi melakukan kebiasaan buruk lain: menggigit kuku, menarik rambut, dan menguliti lapisan kulit mati dekat kuku.

Mark Griffiths dalam ”Snot My Fault” di Psychologytoday.com, 13 Januari 2014, mengatakan, setiap perilaku manusia yang dilakukan berlebihan berpotensi menimbulkan gangguan. Demikian pula mengupil.

images (1)Dalam medis, mengupil disebut rhinotillexis. Jika berlebihan, berulang, dan konstan hingga membahayakan, kemungkinan orang itu mengalami rhinotillexomania, gangguan psikiatri yang membuat seseorang mengupil kompulsif/memaksa.

Beberapa kasus menyebut mengupil tanpa kendali bisa melukai, bahkan melubangi septum atau jaringan tipis pembatas lubang hidung kanan dan kiri. Akibat luka parah, ada penderita rhinotillexomania yang harus menggunakan hidung dan gigi atas tiruan. Ada pula penderita yang mimisan parah hingga mengancam jiwanya.

Rhinotillexomania bisa berbaur dengan menarik-narik rambut (trichotillomania). Paduan keduanya, menarik bulu hidung hingga memerah, disebut rhinotrichotillomania. Penelitian di Belanda tahun 2006 menunjukkan, mengorek hidung mempermudah penyebaran bakteri Staphylococcus aureus hingga infeksi langsung atau terkena racun bakteri sehingga memicu bisul, impetigo (kulit melepuh berisi nanah), dan keracunan.

Sementara itu, meski kurang umum, sebagian memakan upil (mucophagy) dari hidung langsung karena ”lezat”. Bagi anak kecil, itu jamak. Namun, seiring umur, perilaku itu dihentikan karena tekanan lingkungan.

Mark, mengutip tulisan Maria Jesus Portalain, ”Eating Snot – Socially Unacceptable but Common: Why?”, 2007, menyebut kandungan terbesar ingus adalah air (95 persen), disusul glikoprotein (2 persen), protein lain (1 persen), imunoglobulin (1 persen), serta sebagian kecil laktoferin, lisozim, dan lipid.

Dengan kandungan itu, dokter spesialis paru asal Austria, Friedrich Bischinger, Februari 2008, mengatakan, makan upil bisa memperkuat daya tahan tubuh. Namun, itu tak dimuat dalam jurnal ilmiah atau buku sehingga banyak keraguan akan manfaatnya. (MZW)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Desember 2015, di halaman 14 dengan judul “Sedap-sedap Nikmat walau ”Tak Sedap””

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Duel di Jalur Hijau: Baterai Lithium-ion vs Hidrogen dalam Masa Depan Transportasi
Meniti Karier sebagai Insinyur Kendaraan Listrik. Panduan Lengkap dari Nol hingga Ahli
Menjadi Detektif Masa Depan. Mengenal Profesi Data Scientist yang Sedang Hits!
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?
Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:00 WIB

Duel di Jalur Hijau: Baterai Lithium-ion vs Hidrogen dalam Masa Depan Transportasi

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:38 WIB

Meniti Karier sebagai Insinyur Kendaraan Listrik. Panduan Lengkap dari Nol hingga Ahli

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:18 WIB

Menjadi Detektif Masa Depan. Mengenal Profesi Data Scientist yang Sedang Hits!

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Berita Terbaru

arkeologi-antropologi

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 20 Feb 2026 - 17:12 WIB