Home / Sosok / Scott Andrew Merrillees; Penyusun Trilogi Lorong Waktu Jakarta

Scott Andrew Merrillees; Penyusun Trilogi Lorong Waktu Jakarta

Kalau tak ada orang seperti Scott Andrew Merrillees (53) kita mungkin sudah kehilangan banyak jejak masa lalu Jakarta. Sejarah perkembangan berbagai bagian Ibu Kota sering gelap-gulita akibat langkanya catatan historis dan rekaman visual yang mudah diakses publik.

Juni lalu, di sebuah toko buku di salah satu mal Jakarta, Scott Merrillees (53) meluncurkan buku terbarunya, Jakarta: Portraits of a Capital, 1950-1980. Ini sebuah coffee table book berisi 180-an foto lama Jakarta yang dibuat dalam rentang tiga dasawarsa. Membolak-balik halaman buku berukuran besar ini, kita seperti diajak ke lorong waktu untuk menemukan kembali aneka panorama Jakarta masa lalu.

Setiap foto didampingi teks yang menjelaskan tentang jalan raya, bangunan, kendaraan, atau orang- orang yang ada di dalamnya.

Di bukunya itu, Scott antara lain menampilkan seri foto di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI) tahun 1970-an. Jalan melingkar yang jadi pemisah antara Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman itu, meski terlihat ramai dilintasi kendaran bermotor, tetapi kondisinya tak sepadat sekarang.

Salah satu foto memperlihatkan HI yang masih berdiri sendirian di tepi bundaran, berdampingan dengan kebun sayur yang digarap petani yang tinggal di kampung-kampung di belakangnya. Hotel Indonesia berdiri menghadap kolam besar dan Tugu Selamat Datang yang dibangun awal 1960-an, masa yang sama dengan saat dibangunnya hotel berlantai 14 itu.

Pemandangan Jakarta yang masih bernuansa setengah desa ini pasti tak pernah disaksikan warga Ibu Kota dari Generasi Y atau Z yang baru lahir setelah masa itu. Belasan gedung tinggi lain yang kini memadati kawasan bundaran HI, termasuk Wisma Nusantara, Hotel Mandarin, dan Plaza Indonesia (Hotel Grand Hyatt), umumnya selesai dibangun dalam tahun 1980-an.

Pemburu foto tua
Meski resminya seorang sarjana ekonomi, Scott mengaku sangat tertarik pada perkembangan kota. “Jika berkunjung ke suatu kota, saya selalu ingin tahu latar belakang sejarah dan perkembangannya,” ungkap Scott yang alumnus Fakultas Ekonomi Perdagangan Universitas Melbourne.

Minat ini berkembang pesat ketika ia tinggal dan bekerja di Jakarta, selama lebih dari 20 tahun sejak 1989.

“Di Jakarta, kalau libur saya gemar berjalan-jalan, benar- benar berjalan kaki, menyusuri jalan-jalannya. Tempat favorit saya adalah kawasan Kota Tua, tempat banyak terdapat bangunan-bangunan kuno yang sudah berdiri berabad-abad,” kata Scott, yang juga pernah tinggal di Karawaci, Tangerang, Banten.

Scott berburu foto tua ke berbagai tempat, mulai pedagang di pasar barang antik Jalan Surabaya di Jakarta, toko barang antik di Singapura, sampai ke balai-balai lelang di Eropa, khususnya Belanda. Tujuannya hanya satu, menguak tabir sejarah perkembangan kota Jakarta.

“Saya penasaran, karena waktu pertama kali berkunjung ke Jakarta tahun 1981, saya sulit sekali menemukan informasi tentang sejarah perkembangannya,” ujar Scott yang suka foto, karena foto tidak pernah bohong.

Waktu duduk di bangku SMA di Melbourne, Scott sudah senang mengumpulkan koran lama, uang lama, dan prangko yang memuat gambar berbagai kota. “Jika melihat gambar sebuah kota, saya selalu ingin tahu, di mana lokasi bangunan, jalan, atau taman yang ada di dalamnya,” kata ayah dua anak ini.

Perkenalan pertama dengan Indonesia juga terjadi saat ia duduk di bangku sekolah menengah. “Waktu itu, kami punya guru bahasa Indonesia yang bagus. Pak Afif namanya, asal Bandung. Karena beliaulah saya memutuskan untuk terus belajar bahasa Indonesia di perguruan tinggi,” kenang Scott yang kemudian sempat ikut program pertukaran mahasiswa di Universitas Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Trilogi

Bemodal koleksi foto dan kartu pos antik Jakarta yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 700 lembar, Scott menyusun tiga buku sejarah visual perkembangan Jakarta. Sebelum Jakarta: Portraits of a Capital, 1950-1980, ia sudah menerbitkan dua buku lain dengan tema sama, namun bercerita tentang Jakarta dari dua periode sejarah yang berbeda. Yaitu, Batavia in Nineteenth Century Photographs (terbit tahun 2000), dan Greetings from Jakarta: Postcards of a Capital, 1900-1950 (2012).

Sebagian besar gedung dan bangunan lain yang diabadikan dalam foto dalam buku pertama, kini sudah tinggal nama. Salah satunya Hotel Des Indes, hotel paling mewah di Batavia, yang mulai berdiri pada pertengahan abad ke-19 dan disebut Scott masih berjaya hingga awal abad ke-20. Seluruh bangunan hotel ini, yang di awal zaman kemerdekaan sempat berganti nama menjadi Hotel Duta Indonesia, dihancurkan pada awal 1970-an. Lahannya yang luas di pangkal Jalan Gajah Mada, di kawasan Harmoni, lalu dipakai untuk membangun kompleks pertokoan Duta Merlin yang kita kenal sekarang.

Buku kedua, sesuai judulnya, memuat foto-foto Jakarta yang ada dalam kartu pos yang dibuat sepanjang paruh pertama abad ke-20. Di antaranya adalah kartu pos yang diproduksi tahun 1914, memuat foto Balai Kota Tua Batavia, bangunan tua yang masih lestari, yang sejak 1974 dijadikan Museum Sejarah Jakarta.

Dengan terbitnya buku Jakarta: Portraits of a Capital, 1950-1980, Scott merasa selesai sudah tugasnya untuk mendokumentasikan sejarah perkembangan Jakarta. Menurut dia, dengan ketiga buku ini sudah berusaha maksimal merekonstruksi sejarah Jakarta dengan menggunakan concept of place, konsepsi tentang tempat.

Bagi dia, karya trilogi ini merupakan semacam mesin waktu yang dapat membawanya kembali ke masa lalu Jakarta, kota Indonesia yang paling historis.

9e349c78f7eb42eda089eeb636eacca2Scott Andrew Merrillees

Lahir: Melbourne, Australia, 26 Januari 1962u

Istri: Theresia Parman (57)

Anak:- Maxi (22)
– Nicole (20)

Pendidikan: Fakultas Ekonomi dan Perdagangan Universitas Melbourne (Bachelor of Commerce dengan Bidang Konsentrasi Akunting dan Kajian Indonesia)

Pekerjaan: – 1987-1988 Asisten guru bahasa Inggris SMA di Kota Matsudo, Chiba, Jepang (Program Pertukaran dan Pengajaran Jepang)
– 1988-1989 Area Officer, Asia Desk, Head Office International Planning Division Fuji Bank (kini, bagian dari Mizoho Bank)
– 1989-1990 Head of Indonesian Equity Research PT Wardley James Capel Indonesia (kini, HSBC Securities)
– 1990-1994 Research Director PT Morgan Grenfell Asia Indonesia (kini, Deutsche Bank Securities)
– 1994 Research Director, Indonesian Equities, Jakarta, UBS Securities Ltd. (Bagian dari Grup Union Bank of Switzerland)
– 1994-2006 President Director PT BNP Paribas Securities Indonesia, Jakarta
– 2008-2010 Head of Natural Resources-Southeast Asia PT ANZ Bank Indonesia, Jakarta

MULYAWAN KARIM
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Juli 2015, di halaman 16 dengan judul “Penyusun Trilogi Lorong Waktu Jakarta”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: